Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Tidak Sakit



Sesampainya di depan instalasi gawat darurat (IGD), beberapa staf rumah sakit sudah menunggu mereka di sana, begitu taxi berhenti mereka langsung tanggap dan cepat membawa Friday ke ruangan dan menanganinya.


Sebelumnya, saat masih dalam perjalanan menuju rumah sakit, Louis segera menghubungi mertuanya tentang keadaan Friday. Kalino, ayah Friday langsung meminta pihak rumah sakit siap siaga merawat putrinya yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Pasien biasa saja, para staff medis langsung cepat memberikan pertolong apalagi ini adalah putri pemilik rumah sakit. Mereka memberikan yang terbaik yang mereka bisa lakukan. Louis dengan sabar menunggu para dokter dan suster melakukan pekerjaannya untuk menangani istrinya.


Kurang dari 1 jam, Friday dibawa ke ruang rawat VIP khusus keluarga Alcantara. Louis masih setia menemani istrinya yang sedang tidur dengan infus di tangan kirinya. Dokter yang menangani Friday memberikan hasil diaknosanya terhadap keadaan Friday kepada Louis.


Menurut dokter Friday hanya kelelahan, kadar gula dalam tubuhnya juga menurun dan sedikit stress sehingga antibodynya ikut menurun. Dugaan lain adalah saat ini Friday tengah berbadan dua. Untuk diaknosis pastinya, mereka masih menunggu hasil lab tes darah dan urin yang sudah Friday lakukan tadi di IGD.


Selagi menunggu sang istri terbagun, Louis memberikan kabar terbaru mengenai Friday kepada keluarga Friday dan papanya. Louis meminta mertuanya untuk tidak perlu datang karena masih bisa mengurus Friday sendirian. Dia meminta tolong agar mertua dan kakak iparnya fokus menjaga Grant di sana agar dia juga fokus terhadap Friday di sini. Karena 4 bulan lalu Grant sudah disapih, setidaknya mengurangi rasa khawatirnya pada anaknya itu, apalagi ada 2 mertua yang bisa menjaganya berserta kakak iparnya.


Sekitar jam 8 Friday bangun dari tidurnya, Louis langsung sigap membantunya bangun dan memberikan air minum. Setelah Friday minum, Louis memeluknya dengan sangat erat. "Apa ada yang sakit sayang? Berbagilah denganku, jangan buat aku khawatir seperti tadi. Jantungku serasa copot dan tertinggal di pohon pisang" kata Louis membelai rambut istrinya dengan lembut.


"I'm Fine, jangan khawatir. I love you" jawab Friday yang langsung disambut ciuman mesra dari Louis.


"Sebentar aku panggilkan dokter" kata Louis tapi tangannya segera ditahan oleh Friday.


"Aku baik baik saja, tidak perlu kak" Friday melihat sekitar dan melihat ada makanan di atas nakas. Dia menatap Louis yang masih memasang wajah khawatir. "Sekarang aku hanya ingin makan, aku lapar" kata Friday lagi dengan wajah memelas.


Louis mengambil makanan yang memang disediakan untuk Friday. Dia dengan telatennya menyuapi istrinya. Dia juga memberikan vitamin yang telah diresepkan dokter untuk istrinya.


"Hei kenapa? Aku baik baik saja kak" kata Friday mengelus pipi suaminya yang terdiam setelah memberinya minum. "Apa kata dokter kak? Apa aku punya penyakit mematikan?" tanya Friday mulai cemas melihat raut wajah suaminya yang masih menatapnya sendu.


Louis menggelengkan kepalanya, "Tidak. Kamu tidak punya penyakit bahkan kamu sangat sehat. Jiwaku baru saja kembali ke ragaku setelah menerima hasil lab mu yang mengatakan semuanya baik baik saja. Kamu tau, tadi aku hampir mati aku takut kamu meninggalkanku".


"Karena semua baik baik saja, jadi berhentilah khawatir hem?" Friday menepuk ranjang sebelahnya. Friday meminta Louis agar naik ke brankar menemaninya di sana. Louis segera naik dan mendekap istrinya. Mereka berbaring dan saling berpelukan, sesekali Friday mengelus pipi Louis dan Louis mengusap rambut Friday dengan lembut.


"Lain kali jangan begitu, jika kamu lelah katakan lelah. Jangan pernah memaksakan diri. Jujur tadi aku tidak bisa berpikir lagi ketika melihatmu lemas dan pucat. Separuh jiwaku seolah pergi bersamamu. Tetaplah sehat untukku dan anak anak kita" Louis mengelus perut Friday seperti yang dia lakukan saat di hotel tadi siang.


"Ahhh nyamannya" guman Friday.


"Apa kamu mengerti maksudnya?" tanya Louis pada Friday. Melihat reaksi Friday yang biasa saja, Louis merasa Friday masih belum paham apa isi laporan lab itu hingga dia bertanya seperti itu.


Friday mengangguk lagi tanda dia mengerti apa yang terjadi dengannya.


"Apa kamu sudah tau sebelumnya?" tanya Louis lagi.


Friday menganggukkan kepalanya kembali.


"Kenapa kamu tidak kasih tau sebelumnya, kalau saja tadi kamu bilang ke aku pasti Titan bisa menahan diri untuk tidak mudik ke guanya" kata Louis dengan sedikit nada kesal.


"Maaf kak, lain kali tidak akan begitu. Aku juga belum yakin makanya belum kasih tau. Dua hari lalu mama memintaku untuk tes pakai tespek dan hasilnya positif. Rencananya hari ini setelah dari mall aku periksa ke rumah sakit untuk memastikan kembali. Tapi hal tidak terduga terjadi, kita malah ketemu. Aku hanya tidak mau memberikan info yang belum pasti padamu" jelas Friday. Friday mencium bibir suaminya yang mengerucut, tidak terima Friday tidak memberitahukan bahwa dia sedang hamil.


"Jangan seperti itu lagi, tadi jika terjadi sesuatu pada kalian, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri sayang, hem? Apapun katakan padaku, kita sudah berjanji akan saling terbuka dan saling mengungkapkan apa yang sedang kita pikirkan" peringat Louis, setelah ciuman mereka terlepas.


"Saat kamu tadi tidur, aku minta dokter spesialis kandungan melakukan USG. Lihat, aku orang pertama yang melihat dan mendengarkan detak jantungnya" kata Louis kembali sembari menunjukkan foto hasil USG calon bayi mereka.


Kini Friday yang mengerucutkan bibirnya, merasa kesal karena Louis mencuri start. Louis tidak menunggunya melihat bayi mereka. Louis tertawa melihat istrinya merenggut kesal memandangi foto USG itu.


"Jahat...kenapa tidak menungguku? Ish...rasakan rasakan" Friday melayangkan cubitan di perut suaminya membuat Louis semakin tertawa. Louis tertawa bahagia karena bisa membalas Friday.


"Satu sama" kata Louis. Louis kembali memeluk istrinya.


"I Love you". Setelah mengucapkan 3 kata ajaib itu, Louis meraih wajah Friday dan mencium bibir istrinya. Friday membalas ciuman mesra itu tanpa nafsu tapi sangat intim.


Ciuman mereka terpaksa lepas setelah mendengar suara deheman pria yang begitu keras, bahkan sangking kerasnya membuat kedua sejoli yang sedang menikmati ciuman itu terkejut setengah mati dan reflek menjauh memisahkan kepala keduanya.


Keduanya melihat ke arah pria yang mengganggu kemesraan mereka. Louis awalnya kesal dan ingin protes tapi niatannya diurungkan setelah melihat siapa pria bernyali besar itu. Dia adalah Wetennov Arsen Alcantara, yang adalah uncle Friday yang berarti adalah mertuanya. Seketika Louis diam membisu tidak seperti tadi saat bersama Friday yang berceloteh sepanjang masa.