
"Ah aku masih ingat dengan sangat jelas ekspresi wajahnya saat aku menugganginya" Jeanne tersenyum kembali mengingat hari dimana selaput da*ranya hilang.
"Wajahnya menggambarkan ketidakberdayaan karena dia yang sangat macho harus takluk di bawahku. Dia ingin mengera*ng tapi malu karena aku yang menguasai tubuhnya, dan mengakui kelemahannya. Dia ingin marah karena aku sembarangan menyentuhnya bahkan meperko*sanya. Dia menahan sakit karena cidera di kakinya. Dan dia juga terlihat berga*irah melihat malaikat cantik ini tepat di atas tubuhnya. Di wajahnya juga terukir raut bahagia karena malaikat cantik itu memberikan semua yang dia miliki dan berharga kepadanya" lanjut Jeanne menjelaskan.
"Iyuh, kok kamu jadi mesum sih Jean. Hey kembalikan Jeanne kami yang dulu!" Frizzy menarik kerah kemeja Jeanne seolah sedang mengancam seseorang. Jeanne hanya tertawa menanggapi reaksi berlebih dari Frizzy.
"Asal kamu tau ya Zy, aunty Jean enggak cuman mesum sekarang. Dia juga udah punya grup yang isinya emak emak muda di kompleksnya. Aku enggap perlu kasih tau kan apa aja yang mereka bahas, kamu pasti bisa menebaknya. Enggak jauh beda dari grupku dulu. Aunty Jean juga diberi gelar Master Balapan Liar, karna paling sering menunggangi dari pada ditunggangi" tambah Friday.
Penjelasan Friday seakan membuat Frizzy tak percaya akan apa yang dia dengar. Dia masih membuka mulutnya lebar melongo mendengarnya. Friday, Jeanne dan Alexa hanya tertawa melihat aksi lucu Frizzy.
"Aku bahagia kita masih bisa berkumpul seperti ini. Aku sempat pesimis jika kita ttak akan saling menyapa lagi sejak meet up kita yang terakhir setahun yang lalu" tiba tiba Jeanne teringat masa masa itu.
"Maafkan aku, itu semua salahku" jawab Alexa.
"Ah aku juga tidak tau sesi mana yang membuatnya ada. Semua sesi sangat menggair*ahkan" jawab Alexa yang diiringi tawa oleh mereka semua.
Bunyi ponsel Friday mengalihkan perhatian mereka. Friday segera mengambil ponselnya yang dia letak di meja, dia melihat layar ponselnya yang bertuliskan nama suaminya yang meneleponnya. Dengan segara Friday menjawab panggilan telepon dari suaminya.
Belum juga Friday menyapa suaminya, suaminya tampak langsung berbicara inti alasan kenapa Louis meneleponnya. Suara Louis juga terdengar sangat panik, dan beberapa kali Friday mendengar suara ledakan dan suara tembakan. Friday langsung menarik nafasnya dalam, walau dia khawatir tapi sebisa mungkin tidak ditunjukkan pada suaminya agar suaminya bisa fokus dengan masalah mereka saat ini.
"Sayang dengarkan aku, jangan panik aku baik baik saja. Situasi di sini semakin kacau, saat Paman Caleb berbalik menghianati Black Jack setelah menemukan fakta bahwa selama ini dia dibohongi. Sekarang yang menjadi masalah adalah kelompok Black Jack mendapatkan info dan mengetahui keberadaan kalian. Mereka sudah mengepung rumah sakit tapi aku yakin kami bisa mengatasinya. Mereka mengincar Alexa dan bayinya untuk mengancap paman Caleb. Aku sudah meminta beberapa orang dari kelompok M2Fire termasuk Kelvin untuk mengawal kalian dan membawa kalian ke tempat yang lebih aman" terang Louis tidak menutupi sedikitpun tentang kondisi di luar. Friday menangis karena ketakutan.
"Kamu dan teman temanmu akan baik baik saja, sebentar lagi Kelvin akan sampai di sana. Maafkan aku karena tidak segera dapat menjemputmu, tidak mungkin aku menggunakan helikopter ke sana karena itu akan menarik perhatian musuh dan membenarkan informasi mereka jika kalian ada di sana. Setelah situasi di sini terkendali dan bisa ditaklukkan aku akan segera menyusulmu. Aku mencintaimu, berhati hatilah" ucap Louis mengakhiri percakapan teleponnya.
Sebelum panggilan telepon itu tertutup, terdengar suara tembakan yang sangat keras dari seberang telepon. Friday terkejut dan berteriak membuat teman temannya segera menghampirinya. Friday masih menempelkan ponselnya di telinganya dan memanggil suaminya tapi tidak ada jawaban.