
Seorang supir dan asisten Anthony datang menjemput Sarah ke apartemennya. Besok Sarah dan Anthony akan berangkat ke sebuah pulau milik keluarga Kelvin, Anthony meminta Sarah untuk menginap di rumahnya hari ini.
Asisten Anthony dan supir itu membantu Sarah mengangkat dan membawa barangnya. Barang bawaan Sarah hanya sedikit, karena mereka sudah menyicilnya minggu lalu. Hanya ada 2 koper kecil berisi pakaiannya dan anaknya untuk beberapa hari dan sebuah ransel berisi kebutuhan anaknya seperti susu, minyak telon, popok dll. Kebutuhan mereka selama di pulau pribadi milik keluarga Kelvin sudah disediakan oleh Kelvin.
Sesampainya di rumah Anthony, asistennya menuntun Sarah menuju kamar tamu yang sudah dipersiapkan untuk Sarah. Saat melewati ruang tamu, Anthony menghentikan langkah mereka dan meminta mereka bergabung di sana. Sarah duduk di sofa di depan Anthony sambil memangku anaknya yang sedang pulas tidur.
"Siapa pa?" tanya Sita yang sudah dari kemarin menginap di rumah itu.
"Sarah".
"Sarah".
Anthony dan Yudha menjawab Sita bersamaan. Anthony dan yudha sama sama merasa bahwa dialah yang ditanya hingga akhirnya menjawab bersamaan.
Setelah mendapat jawaban Sita mendekat dan pindah duduk ke samping Sarah. Dia menjulurkan tangannya dan Sarah menyambutnya. "Saya Sita, putri papa Anthony juga mama Louis dan Leo". Sita memperkenalkan dirinya.
"Saya Sarah nyonya, mantan sekretaris Pak Christian. Dan ini anak saya Gerald" Sarah tersenyum ramah.
"Sudah berapa tahun?" Sita kepo dengan balita dipangkuan Sarah. Sita memang suka dengan anak kecil.
"26 bulan nyonya" jawab Sarah.
"Jangan panggil nyonya, panggil tante saja" balas Sita.
"Iya tante. Tante mau menggendongnya?" tanya Sarah. Dia melihat gelagat Sita yang ingin sekali membelai rambut anaknya. Sepertinya Sita sungkan meminta langsung padanya karena merasa tidak sopan apalagi baru pertama kali bertemu. Jadi Sarah memberanikan diri menawarkan Sita menggendong anaknya.
Sita merasa senang dengan tawaran Sarah. Ternyata Sarah percaya padanya untuk menggendong anaknya. "Benarkah? Tante tentu saja tidak akan menolak" jawab Sita.
Dia menerima Gerald dari tangan Sarah. Gerald tidak terusik sedikit pun walau dia sudah berpindah dari pangkuan ibunya ke dekapan Sita. Sita memperhatikan wajah Gerald dengan seksama.
"Dia mirip dengan Christian. Apakah Gerald anak Christian?" tanya Sita.
Sarah mengangguk. "Iya tante, tapi pak Christian tidak tau menahu keberadaannya".
"Tampan sekali" Sita menciumi pipi Gerald karena gemas.
Sita tidak ingin menyinggung tentang Christian yang tidak mengetahui keberadaan Gerald karena dia yakin jika mereka punya alasan menyembunyikan Gerald seperti halnya Grant.
Sita mengajak Sarah dan Gerald ke kamar tamu yang sudah dipersiapkan untuk mereka. Dia masih betah menggendong Gerald yang tertidur pulas.
"Pasti sangat sulit mengurus Gerald sendirian, apalagi kamu harus bekerja. Untuk apapun yang sudah kamu alami karena Christian, tolong maafkan keponakan tante" Sita menciumi kening Gerald bertubi tubi.
"Aku sangat menikmatinya menjadi seorang ibu tante. Tidak perlu minta maaf padaku. Itu juga sudah keputusanku untuk tidak menuntut pertanggungjawaban dari pak Christian" Sarah tersentuh dengan kelembutan hati Sita.
Sita membaringkan Gerald di atas tempat tidur, menyusun bantal di sekelilingnya dan tidak lupa memberinya selimut kecil yang sedari tadi dipakainya.
Sita menghampiri Sarah yang masih berdiri menyaksikan interaksi Sita dan Gerald. Sita semakin mendekat dan matanya sudah berkaca kaca. Sita meraih tubuh Sarah dan memeluknya. Sita juga meneteskan air matanya.
Mendapat pelukan dari seorang wanita paruh baya membuat perasaan Sarah senang. Ini pelukan yang sangat dia rindukan. Semenjak kematian ibunya, Sarah tidak pernah lagi mendapatkan kasih sayang terutama dari keluarganya. Sarah tanpa sadar meneteskan air matanya dan semakin mengeratkan pelukannya pada Sita.
Sita membelai rambut Sarah begitu lembut, menenangkan ibu muda dipelukannya. Sita merasakan bahwa Sarah sebenarnya sangat rapuh tapi dipaksa tegar oleh keadaan.
Sita menangkup wajah Sarah dengan kedua tangannya. "Sekarang, susah atau senang berbagilah dengan kami karena kami adalah keluargamu. Jangan menanggungnya sendirian, jangan sungkan pada tante atau om Yudha".
Sarah menganggukkan kepalanya, dia semakin merasa terharu bahagia mendapat perlakuan baik dari keluarga Christian. Dulu Louis yang membantunya saat kejadian di kota A. Setelah dia tau bahwa dia hamil, Friday mengurusnya dengan baik walaupun Friday juga sedang hamil. Saat melahirkan ada Yudha dan Anthony serta keluarga Friday yang menemaninya dan sekarang ada Sita yang memperlakukannya dengan baik.
Dia merasakan kasih sayang dari orang lain yang baru dia kenal. Tidak seperti ayahnya yang tega membuangnya setelah ibunya meninggal. Bahkan sehari setelah ibunya dikuburkan, ayahnya membawa perempuan lain ke rumah mereka. Ibu tiri dan saudara tiri Sarah memperlakukan Sarah dengan tidak baik, menyiksanya hingga Sarah hampir menyerah.
Ayahnya tau kelakuan ibu tiri dan saudara tirinya tapi dia hanya diam. Sampai dia berumur 15 tahun, di hari ulang tahunnya untuk pertama kalinya ayahnya berbicara. Sudah 2 tahun tidak ada interaksi antara keduanya. Dia berharap ayahnya akan membelanya tapi hati dan dunianya hancur seketika karena ayahnya berbicara hanya untuk mengusirnya dari rumah.
Gadis remaja yang malang harus menjalani hidup sendirian. Sarah mulai memulung dan mengamen untuk bisa makan. Dia ditolong oleh sebuah keluarga menjadi pembantu di rumah orang yang sederhana. Dia hanya mendapatkan makanan dan pakaian sebagai upah.
Tiap sore dia akan membantu tetangga majikannya berjualan di alun alun kota. Gaji yang dia dapatkan dia gunakan untuk kebutuhan sekolah. Majikannya tidak pernah merasa keberatan dengan itu semua karena pekerjaan rumah sudah Sarah selesaikan sebelum pergi sekolah dan membantu tetangganya.
Sarah belajar dengan giat mengejar beasiswa untuk pendidikan strata satunya. Hingga akhirnya lulus dan bekerja sebagai sekretaris Christian di Scaff Grup. Sarah kembali mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari Christian saat mengunjungi kota X. Christian memaksanya untuk melayani naf*su bejatnya hingga berkali kali. Tubuhnya sangat remuk dan bagian selangkangannya perih mengeluarkan darah.
Saat Sarah terbangun, dia sendirian. Christian meninggalkannya tanpa sehelai benang dan sebuah kata maaf. Keesok harinya juga Christian tidak menanyakan keadaannya seolah olah tidak ada yang terjadi. Dia melihat jika Christian tidak punya usaha untuk mencari siapa gadis yang telah dia paksa untuk melayaninya.
Christian tidak menanyakan keberadaan Sarah walaupun Sarah sudah seminggu tidak masuk kantor. Itu membuat Sarah semakin terpuruk tapi Louis dan Friday membantunya bangkit kembali. Ini adalah alasan Sarah tidak ingin meminta pertanggung jawaban dari Christian. Karena Sarah merasa Christian tidak akan memberikan perhatian padanya juga anaknya.