Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Bab 145



Louis sesekali meneguk ludahnya kasar, dia mati matian menahan diri agar tidak menerkam istrinya. Apalagi sudah 3 hari mereka berpisah, Louis sudah rindu berat. Jakunnya terlihat naik turun dengan cepat bahkan tangannya mulai gemetaran saat melap tubuh istrinya yang setengah tellanjang.Dia terlihat sangat sekksi dan menggoda.


Friday melihat bagaimana tegangnya wajah suaminya, timbul rasa ingin menjahili suaminya. Tanpa rasa malu sedikitpun, Friday menekuk dan kemudian melebarkan kedua kakinya dan tangannya diangkat ke atas kepala. Friday juga membusungkan dadanya dan mengeluarkan suara seperti desssahan. Friday menunggu reaksi suaminya.


Louis sudah tidak kuat menahan cobaan ini. Tangan bergetar, jantungnya berdetak lebih kencang, darahnya terasa panas saat mengalir di nadinya, Kepalanya pening, matanya burem bahkan si Titan pun ikut meronta. Semuanya terasa berdenyut di saat bersamaan. Tapi nalarnya masih belum mati, dia ingat jika istrinya sedang hamil.


"Sebentar aku ganti airnya dulu" buru buru Louis pamit pada Friday dan membawa baskom berisi air itu ke kamar mandi. Padahal air di baskom itu masih bersih belum digunakan sama sekali tapi Louis menghindarinya dengan berdalih ingin mengganti air baskom. Friday tertawa karena berhasil menjahili suaminya. Reaksi Louis sudah Friday perkirakan.


Lama Friday menunggu suaminya yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Akhirnya dia melap dirinya sendiri menggunakan tisu basah. Dia juga mengganti pakaiannya dengan daster.


"Kak aku mulai kedinginan" teriak Friday pada suaminya. Dia kesal karena suaminya belum manampakkan batang hidungnya hingga dia selesai mengganti pakaiannya.


Louis berlari dari kamar mandi untuk melihat istrinya. "Loh kamu kok sudah pakai baju" ucap Louis.


"Aku nungguin tapi ga muncul muncul padahal katanya cuman ganti air aja. Karna kedinginan aku lap sediri aja dan ganti pakaian" jawab Friday.


"Ngapain aja di dalam?" tanya Friday menatap tajam suaminya. Friday semakin mendekat ke arah suaminya tapi Louis malah melangkah mundur menjauhi Friday.


"Itu..anu...itu" Louis menjawab Friday dengan gagap. Suara bell menghentikan keduanya.


"Sebentar, aku cek dulu, mungkin itu makanan kita" Louis pergi melihat siapa orang di balik pintu. Ternyata benar dugaan Louis jika itu adalah makanan mereka. Louis membuka pintu dan mempersilahkan para pelayan hotel masuk membawakan makanan yang tadi mereka pesan lewat telepon.


Mereka akhirnya makan malam berdua di dalam kamar. Selasai makan Louis mengajak Friday untuk pergi ke luar menikmati malam di ibu kota. "Mau jalan jalan berdua? Kita belum pernah kencan. Anggap saja kita sedang pacaran".


"Aku malas pergi jalan, malas ganti pakaian lagi, aku malas berdandan dan aku malas harus mandi lagi nanti setelah dari luar. Lagian aku sudah pakai daster, ini lebih nyaman dikenakan dan aku mau rebahan saja" Friday menolak ajakan Louis.


"Ya udah kalo gitu, jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Louis.


"Peluk aku sepanjang malam" jawab Friday yang langsung merentangkan tangannya meminta dipeluk.


Louis menangkup wajah Friday lalu mencium bibir yang sedari tadi mengganggu pikirannya. Louis melepaskan tautan bibir mereka lalu mengusap wajah Friday yang dihiasi senyuman. "Aku merindukanmu sayang. Aku masih belum percaya kamu sekarang di sini bersamaku" ucapnya.


"Aku pun merindukanmu kak" Friday membenamkan wajahnya di pelukan hangat suaminya.


Friday melepas pelukannya lalu mengambil HPnya di dalam tas. Dia memutar lagi romantis dari HPnya. Dia kemudian mendekati suaminya lagi dan mengajaknya menari. "Ini adalah impianku dari dulu, menari dengan suamiku lalu berciuman sepanjang malam. Maukah kamu mewujudkan impianku suamiku?" tanya Friday. Dia mengulurkan tangannya pada Louis.


Tentu saja Louis menerima uluran tangan itu dan mengikuti gerakan Friday. Mereka menari dan sesekali berciuman seperti keinginan Friday.


"Ku pikir selama ini perempuan berisik dan jahil sepertimu tidak akan pernah bisa membuatku tergerak. Dulu aku selalu berpikiran jika perempuan pintar dan pendiam akan cocok denganku. Tapi nyatanya aku malah jatuh cinta pada perempuan sepertimu dan perempuan sepertimu yang paling tau kebutuhanku. Perempuan seperti mu juga yang bisa menghiasi duniaku yang sepi dan kaku. Perempuan sepertimu pula yang menghangatkan duniaku yang dingin".


"Ku pikir membaca literatur dan berdiskusi tentang filosofi dengan pasangan akan menyenangkan tapi nyatanya menari dan berciuman di bawah sinar bulan lebih menyenangkan. Ku pikir rumah yang hening akan menenangkan jiwaku tapi nyatanya suaramu yang cerewet dan cempreng yang mengisi setiap sudut rumah jauh lebih menenangkan. Kejahilanmu membuatku lebih banyak tersenyum dan tertawa. Pelukanmu bisa mengangkat kegelisahanku. Dan goyangamu di kasur mampu membuatku puas hingga tanpa sadar terlelap. Perlahan tapi pasti kamu jadi candu bagiku" aku Louis.


"Maukah kamu membesarkan anak anak dan menua bersamaku?" tanya Louis.


Friday menganggukkan kepalanya dan semakin mendekap tubuh Louis.


"Setiap bulannya aku akan melamarmu dan mengingatkanmu janji pernikahan kita sampai kita tua nanti. Aku ingin hubungan kita akan selalu menjadi pengantin baru setiap harinya" ucap Louis lagi.


"Ternyata pria tak peka sepertimu bisa juga memikirkan hal romantis ya" ejek Friday. Louis dan Friday tertawa dan menikmati malam indah mereka.


Friday dan Louis terlelap di kamar hotel yang dihadiahkan oleh Sunday kepada mereka. Mereka berpelukan sepanjang malam.


Pagi hari Louis bangun terlebih dahulu karena merasa mual. Dia lari ke toilet dan memuntahkan isi perutnya. Friday yang mendengar suara muntahan itu datang menyusul Louis ke toilet. Dia ingin membantu suaminya tapi melihat suaminya yang muntah membuatnya mual dan kemudian muntah. Suara muntah mereka berdua bersaut sautan di dalam toilet.


Masih jam 4 pagi mereka berdua memutuskan untuk check out. Mereka akan kembali ke rumah orang tua Friday karena tidak mungkin mereka ke rumah orang tua Louis. Friday masih menggunakan dasternya dan ditutupi oleh jaket milik Louis. Sedangkan Louis hanya menggunakan kaos oblong dan celana olahraga pendek. Mereka berdua juga hanya menggunakan sandal yang disediakan hotel. Louis menggeret koper milik Friday dan menggandeng tangan istrinya itu keluar dari hotel.


Louis mengemudikan mobilnya dengan Friday di sampingnya. Di tengah jalan Friday kembali mual hingga Louis menepikan mobilnya. Karena masih subuh, jalanan juga masih sepi sehingga mobil Louis yang berhenti di pinggir jalan tidak menghalangi kendaraan lainnya. Setelah selesai muntah mereka melanjutkan perjalanan. Friday membuka jendela mobil agar udara luar masuk ke dalam mobil. Tapi belum 5 menit, Louis menepikan mobilnya lagi. Kali ini bukan Friday yang muntah tapi itu Louis yang muntah.