Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Bab 134



"Jelas dia tampan, mommynya saja sangat cantik dan menawan sepertiku" jawab Friday dengan bangganya. Orang lain yang mendengar itu merasa muak akan kenarsisan Friday yang tak lekang oleh waktu.


"Tapi tidak ada satu bagian pun dari wajahnya yang mirip denganmu Fri, bagaimana bisa dia tampan karena wajahmu yang cantik. Dia pasti mirip daddynya, dan ketampanannya berasal dari daddynya" balas Alexa yang membuat Friday terdiam karena kalah telak.


"Ckck menyebalkan" Friday mendengus kesal. Semua orang tertawa karenanya.


"Alexa yang belum tau siapa suamimu saja bisa menebak jika ketampanan anakmu diwariskan dari daddynya bukan karna mommynya" Jeanne seolah memancing kemurkaan sang keponakan.


"Tidak. Lihatlah baik baik pokoknya dia tampan karena yang melahirkannya adalah malaikat cantik sepertiku" tuntut Friday.


Friday menangkup wajah anaknya yang memang tidak mirip sama sekali dengannya. "Bisa bisanya kamu tidak sedikit pun mirip wajah mommy Grant, padahalkan mommy yang lahirin kamu sayang". Grant hanya melongo tidak mengerti maksud mommynya.


"Tapi kami bisa langsung tau kok dia anakmu Fri walaupun tidak mirip denganmu" ucap Frizzy membuat Friday langsung kembali tersenyum menawan.


"Sifatnya yang barbar sangat mirip denganmu" lanjut Jeanne yang membuat Friday yang sedang terbang tinggi terhempas begitu saja dari langit ke tujuh.


"Kamu tau banget apa yang ada di benakku Jean" ucap Frizzy. Mereka semakin tertawa karena ibu dan anak itu.


"Siapa anak tampan ini" tanya Alexa saat Gerald datang mendekati mereka. Gerald sangat mengagumi Grant dan ingin selalu berdekatan dengan Grant. Gerald sangat senang karena menemukan teman yang sebaya dan asik diajak merusuh. Apalagi mereka sering bertemu membuat kedua anak itu semakin lengket. Memang darah lebih kental daripada air, tanpa sadar mereka langsung dekat karena memang dari awal mereka sudah mewarisi darah keluarga yang sama.


Grant turun dari sofa dan meraih tangan Gerald, "Delal" sapa Grant. Friday membiarkan kedua bocah itu.


"No. Gelal" ucap Gerald memperbaiki namanya yang salah sebut oleh Grant.


"Delal" ucap Grant lagi.


"Gelal" Gerald meninggikan suaranya.


Para orang dewasa yang menontonnya sangat terhibur oleh kedua bocah nakal itu.


"Dia Gerald anaknya Sarah Lex. Ayo Gerald sapa aunty Alexa" ucap Friday. Friday menuntun Gerald mendekat pada Alexa.


Gerald melepaskan tangannya dari Grant dan menjulurkan tangannya pada Alexa. Alexa yang mendapat perlakuan itu merasa gemas. Terlihat jika kedua bocah nakal itu dididik dengan baik oleh orang tuanya. "Tampan sekali kamu. Ih aunty gemas" Alexa menciumi wajah Gerald.


"Mereka berdua sangat mirip, seperti saudara kandung" Alexa menatap bergantian pada wajah kedua anak itu. Friday dan Sarah hanya tersenyum menanggapinya.


Monday membawa baby Daizy masuk kembali ke dalam kamar setelah berjemur di taman. Dia masuk bersama dengan Sita, Jennifer dan dua orang pelayan. Mama Monday meminta pelayan itu mengganti sprei tempat tidur yang telah dikacaukan dua anak nakal tadi. Karena baby Daizy juga tidur bersama dengan Alexa di sana jadi tempat tidur itu harus benar benar bersih.


Grant langsung melompat ke arah Sita dan Sita segera menangkapnya. "Glenmaaaaa". Sita membawa Grant untuk duduk di sofa bergabung dengan kumpulan anak muda itu. Melihat Grant seperti itu langsung dicontoh oleh Gerald, dia juga menghapiri Jennifer dan merentangkan tangannya ingin digendong. Dengan senang hati Jennifer menggendong Gerald dan membawanya duduk di samping Sita.


Reaksi Grant sungguh diluar dugaan semua orang termasuk Friday. Grant merasa tidak terima jika mommynya menggendong anak lain selain dirinya. "Noooooo......mommy stoppppppp" teriak Grant.


Friday tidak menyangka jika anaknya akan menolak adik bayi itu. Grant merasa tersaingi, dia tidak akan protes saat Friday menggendong atau memperhatikan Gerald dan Brent karena dia merasa jika Gerald adalah adiknya dan Brent adalah uncle kecilnya. Tapi bayi kecil itu bukan siapa siapanya, kenapa dia harus berbagi pelukan mommynya. Baby Daizy menjadi ancaman yang serius untuknya.


"Mommy lepas....mommy tulunin...mommy nooooooo no no mommy nooooo" tangisan Grant semakin kencang karena dengan usilnya Friday mencium wajah cantik baby Daizy.


Grant merinta dalam pelukan Sita ingin segera menyingkirkan bayi yang ada di pelukan mommynya. Sekuat tenaga Sita menenangkan Grant tapi tidak mempan. Jeanne berdiri dari duduknya dan meminta baby Dayzi dari Friday. Brent langsung berpindah ke pangkuan Monday yang adalah budenya. Brent merasa biasa saja saat mommynya memeluk anak lain.


Sita melepas Grant yang masih saja menangis karena cemburu. Dengan cepat Grant berlari ke pelukan mommynya. Friday membawa anaknya ke dekapannya dan menciumi kepala anaknya yang masih terisak.


"Hiks.. Mommy Glen" tunjuk Grant pada dada Friday.


"Iya, ini mommy Grant" jawab Friday.


"No baby.....mommy Glen" kata Grant lagi, dia semakin memeluk mommynya takut baby Daizy kembali merebut mommynya.


Friday menenangkan Grant dan membalas pelukan anaknya. "Iya mommy adalah mommy Grant bukan mommynya baby".


Jeanne membawa baby Daizy ke samping Brent dan memperhatikan reaksi anaknya tapi sayangnya tidak seperti yang Jeanne harapkan. Brent merasa biasa saja, tidak ada rasa cemburu sedikit pun.


Awalnya mereka menebak jika Grant akan menerima baby Daizy dipelukan mommynya dan sebaliknya Brent yang akan merasa terancam. Tapi pada kenyataan malah kebalikannya, sungguh diluar dugaan.


Jeanne berniat memanas manasi anaknya dengan mencium wajah baby Daizy tapi tidak ada reaksi dari Brent. Brent malah merasa iba pada keponakannya yang masih menangis.


"Brent...ayolah cemburu pada mommy sedikit saja" ucap Jeanne memelas. Brent hanya melihat mommynya sekilas tapi kembali perhatiannya pada Grant. Dia malah semakin menjauh dan menghampiri Grant. Dia menepuk nepuk punggung keponakannya itu. Jeanne semakin nelangsa.


"Sabar Jean" ucap Frizzy merasa iba.


"Ayo coba gendong dia Sarah. Aku penasaran bagaimana reaksi Gerald" kata Jeanne. Dia menyerahkan bayi Alexa pada Sarah. Gerald meminta turun dari pangkuan neneknya. Dia berjalan menuju mamanya yang sedang menggendong adik bayi.


Gerald tersenyum pada Sarah. "Baby...baby..baby" ucap Gerald berulang ulang. Sarah mendekatkan baby Daizy pada Gerald membuat anak kecil itu merasa bahagia. Dengan hati hati dia mengelus pipi baby Daizy lalu menarik tangannya kembali dengan cepat. "He he he" tawanya membuat orang sekelilingnya juga ikut tertawa.


"Mau mencium adek bayi?" tanya Sarah yang langsung diangguki oleh Gerald.


Senyum tulus dari anak kecil itu selalu menghiasi wajahnya saat melihat bayi dipangkuan mamanya. "Tium baby".