Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Hmm



Louis membuka pintu kamar hotel yang mereka booking menggunakan kartu aksesnya. Dia mempersilahkan Friday masuk dan menempelkan kartu akses di dingding sebelah kanan pintu masuk agar bisa mengaktifkan listrik kamar.


Friday meletakkan tasnya di meja dan langsung ke kamar mandi karena terdesak panggilan alam. Sedangkan Louis menutup pintu dan membuka celana dan bajunya hingga menyisakan boxer hitam yang melekat di tubuhnya. Louis tidak membuka tirai di kamar itu, dia menyalakan ac dan lampu.


Louis menaiki tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. Dia mulai meregangkan ototnya sebelum tidur siang.


Friday keluar dari kamar mandi, dia melihat pakaian suaminya tergeletak di lantai. Dia memunguti pakaian itu dan sesekali menggerutu. Friday selalu mengingatkan Louis agar tidak mencampakkan pakaiannya di lantai setiap memasuki kamar tapi dia hanya melakukannya sesaat setelah Friday marah. Keesok harinya akan terulang kembali. Friday akhirnya tidak marah lagi karena merasa percuma, mending dia sendiri yang membereskannya.


Tidak salah dia menjuluki suaminya gunung kerikil, karena jika dia gunung es pasti suatu saat akan mencair di dekat kehangatan, tapi lain lagi dengan kerikil, mau diapakan pun tetap jadi kerikil.


Friday juga membuka dress yang dia kenakan, hanya menyisakan tanktop dan short. Dia menyusul Louis yang sudah terlebih dulu berbaring di tempat tidur. Louis menepuk sisi kanan tempat tidur itu menyiaratkan agar Friday segera menyusul dan berbaring di sana.


Friday segera naik ke tempat tidur, dia membaringkan tubuhnya tepat disamping kanan Louis. Louis menjadikan tangannya sebagai bantal untuk istrinya. Dia memeluk Friday dari belakang, mereka tidur menyamping. Friday mengambil tangan Louis yang berada di perutnya, dia menuntun tangan itu mengelus perutnya.


Louis segera mengelus perut Friday sampai Friday terlelap dalam tidurnya, tidak lama kemudian dia juga menyusul Friday ke alam mimpi.


Sementara di klinik, setelah dua jam Sita sudah menyelesaikan perawatan wajahnya. Dia membatalkan janjinya ke salon langganannya karena merasa tidak enak membuat Louis dan Friday menunggunya lama. Dia menelepon Friday dan Louis bergantian tapi tidak ada seorang pun yang menerima panggilannya.


Tidak lama menunggu Yudha datang menjemput, dia kebetulan dekat dengan lokasi istrinya, jadi tidak butuh waktu untuk sampai di sana. Sita masuk ke dalam mobil suaminya setelah Yudha meneriakinya agar segera masuk mobil dari pinggir jalan. Buat malu saja batin Sita. Sita menutup wajahnya agar tidak dilihat orang yang sedang berlalu lalang. Yudha memang sengaja melakukannya karena ingin menjahili istrinya.


"Louis ke mana ma?" tanya Yudha.


"Kalau mama tau tidak mungkin mama menelepon papa untuk menjemputku" jawab Sita yang masih kesal dengan kejahilan suaminya tadi.


Yudha terdiam, dia mengerti kenapa Sita menjawabnya dengan ketus, dia tidak marah sama sekali malah dia tidak peduli. Dia menanyakannya hanya ingin basa basi saja.


Sita yang didiamkan jadi merasa bersalah, Dia mengira Yudha marah padanya karena menjawabnya dngan ketus. Kalau dilihat kembali, dia yang paling sering menjahili anak dan suaminya tapi begitu mereka membalasnya dia malah marah. Itu tidak adil bagi suami dan anaknya pikirnya.


"Tadi mama tidak sengaja bertemu dengan Friday di mall, jadi mama ajak saja dia bergabung dengan kami sebelum mama ke klinik. Di klinik mama menyuruh mereka agar tidak perlu menunggu mama di sana dan datang menjemputku setelah jam 7 malam. Ternyata mama berubah pikiran, tidak jadi ke salon. Mama udah coba telepon berkali kali tapi tidak ada satu pun yang terima teleponku makanya mama hubungin papa" jelas Sita panjang lebar.


"Jadi Louis sedang bersama Friday sekarang? Ya jelaslah tidak bisa dihubungi" jawab Yudha setelah mendengar penjelasan Sita.