
Christian mengangguk mengerti tujuan dan alasan Sarah mengundurkan diri. Tapi dia juga masih berusaha menahan sekretarisnya itu. "Bagaimana kamu bisa membiayai anak dan kakekmu jika kamu berhenti bekerja? Maaf jika saya menanyakan hal pribadi. Saya hanya penasaran saja sebab di cv mu tertera statusmu belum menikah. Sekali lagi maaf jika pertanyaanku menyinggungmu. Saya hanya khawatir jika setelah keluar dari sini kamu jadi gelandangan. Orang sebertalenta kamu akan sayang jika disia siakan" Christian menjelaskan maksudnya bertanya hal sepribadi itu.
Sarah tersenyum, dia merasa senang karena ternyata selama ini atasannya yang sebentar lagi menjadi mantan atasannya peduli padanya, ya walaupun dia hanya sekretaris yang tidak berpenampilan menarik. "Tidak apa apa pak, wajar saja bapak menanyakannya. Saya sudah memiliki passive income berupa saham di beberapa perusahan dan juga tabungan di bank. Selain itu saudara dari ayah anak saya berjanji membantu keuangan saya tiap bulannya. Mereka mau menanggungjawabi segala kebutuhan saya dan anak saya. Ini akan jadi kesempatan bagus bagi saya untuk lebih dekat dengan anak saya pak" jawab Sarah.
Sepertinya sudah tidak ada peluang baginya menahan Sarah di sisinya sebagai sekretaris. Dia harus merelakan Sarah mundur walau sedikit tidak rela. "Baiklah jika memang itu yang terbaik buatmu. Kamu bisa berhenti jika sudah menemukan penggantimu" kata Christian.
"Saya sudah menghubungi team HRD untuk mencarikan sekretaris pengganti jauh hari pak. Dan saat ini sudah ada 3 orang yang siap mengisi posisi sekretaris. Saya sudah mengajari mereka selama 2 bulan dan transfer knowledge. Bapak bisa menguji mereka mulai besok dan meilih siapa yang paling cocok" jawab Sarah lagi.
"Ternyata kamu sudah mempersiapkannya jauh hari" kata Christian lirih.
"Oh iya pak, saya akan berhenti mulai besok" kata Sarah.
"APA? Tidak bisa, kenapa cepat sekali? Peraturan perusahaan adalah one month notice" kata Christian yang terkejut dengan informasi yang dia terima.
"Saya mengerti pak. Saya tidak melanggar aturan perusahaan pak. Selama 2 tahun ini saya belum memekai jatah cuti tahunan saya pak. Kalau ditotal sisa cuti tahunan saya 28 hari. Dalam waktu 1 bulan hanya 22 hari kerja. Jika saya mengambil cuti saya sekaligus maka sangat mungkin bagi saya untuk mulai berhenti kerja besok" jelas Sarah.
Christian terdiam, dia menyadari jika memang Sarah tidak pernah dia izinkan untuk cuti. Rasa bersalah menghantam dadanya. Apakah selama ini dia terlalu mengekang hak Sarah sebagai pegawai? Padahal dia tau sendiri jika Sarah telah memiliki anak, tapi dia dengan teganya memaksa Sarah tetap bekerja dan selalu menolak permintaan cutinya.
Selama ini dia selalu berpikiran jika kesejahteraan keuangan pegawainya adalah hal paling utama, sekarang dia sadar jika kesejahteraan mental juga penting. Dia akan lebih memperhatikan lagi hak hak pegawainya dan kewajiban perusahaan demi kesejahteraan bersama.
"Baiklah kalau begitu. Maaf jika selama ini waktumu banyak tersita untuk pekerjaan" ucap Christian dengan tulus. Lagi lagi Sarah hanya tersenyum.
"Jika kamu berubah pikiran, kami dengan senang hati menerimamu kembali" kata Christian lagi.
"Terima kasih pak" balas Sarah. Dia masih berdiri di tempatnya.
"Katakan saja. Sepetinya kamu masih ingin menyampaikan sesuatu" kata Christian lagi karena dia melihat Sarah ingin menyampaikan sesuatu tapi ragu ragu.
"Tidak jadi pak" jawabnya.
"Kalau begitu saya permisi pak" lanjutnya.
"Sebentar" tahan Christian.
Christian berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Sarah. Dia mengulurkan tangan kanannya pada Sarah. Sarah menerima uluran tangan Christian dan mereka akhirnya berjabat tangan.
"Pak" kata Sarah menyadarkan Christian untuk segera melepaskan tangannya. Setelah itu Sarah kembali ke ruang kerjanya untuk membereskan barang barangnya.
Sedangkan Christian kembali dibuat galau "Fix, Sarah menganggapku pria mesum" pikir Christian. Belum sehari dia terciduk menonton film por*no di ruang kerjanya, dia kembali melakukan hal buruk yang mencoreng citranya tanpa sadar dia menggenggam erat tangan Sarah. Seperti pria hidung belang.
Sarah menyampaikan pada Friday jika Christian telah menerima surat pengunduran diri darinya. Dia akan mempacking semua kebutuhan Sarah dan anaknya besok selama mereka mengungsi ke tempat persembunyian keluarga Kelvin. Dia siap menjalankan semua instruksi dari Friday dan Louis.
Christian kembali teringat akan dua manusia yang dia tonton tadi. Dia membuka rekaman cctv di komputernya, ingin melihat sudah sampai mana kegiatan mereka. Ternyata mereka sudah selesai, dan saat ini Alexa sedang tiduran di sofa sambil menonton sedangkan Caleb sudah tidak terlihat di sana.
Christian menghubungi Alexa dan kali ini Alexa langsung menerima panggilan teleponnya. "Halo" sapa Alexa dari seberang telepon.
"Hai Lex, gimana kabarmu hari ini? Ada keluhan?" tanya Christian.
"Aku dan anakmu baik baik saja. Hanya sedikit lelah" jawab Alexa.
"Kenapa bisa lelah?" tanya Christian pura pura tidak tau.
"Emmm...tadi aku membersihkan rumah, jadi sedikit kelelahan" jawabnya.
"Cih" batin Christian.
"Kan sudah ku bilang jangan terlau lelah, pekerjaan rumah biarkan ART yang melakukannya. Aku akan datang menjemputmu, agar kita bisa periksa ke dokter. Aku takut terjadi apa apa denganmu dan kandunganmu" kata Christian pura pura peduli.
"Tidak usah, yang ku butuhkan hanya istirahat saja. Udah dulu ya, aku mengantuk" tolak Alexa sekalian mengakhiri telepon mereka.
Christian tersenyum kecut meratapi layar telepon genggamnya, seperti biasanya dia selalu ditolak oleh Alexa jika dia meminta ikut periksa ke dokter kandungan.
Christian telah mengetahui fakta jika kandungan Alexa sudah lebih dari 7 bulan padahla mereka melakukannya 6 bulan lalu. Itu artinya Alexa telah hamil sebelum dia bercin*ta dengan perempuan itu.
Itu sebabnya Alexa tidak ingin ditemani dengan alasan tidak mau mengganggu Christian bekerja atau lebih nyaman sendirian pergi. Padahal karena dia tidak ingin Christian tau jika anak yang dikandung bukanlah darah dagingnya. Alexa selalu memberikannya foto hasil usg saja, tidak tau itu foto dari internet atau dari mana. Christian juga tidak mau tau, dia kan tetap berpura pura jika anak yang dikandung Alexa adalah anaknya sampai nanti dia akan membongkarnya.
Christian tidak ingin mamanya terlalu terlibat dalam hubungannya dengan Alexa. Dia meminta Jennifer untuk tidak perlu mengajak Alexa keluar dan merawatnya hanya karena Alexa sedang hamil. Dia beralasan jika Jennifer sering terlihat pergi jalan dengan Alexa akan membuat Alexa dalam bahaya. Mereka tidak pernah tau kapan dan di mana lawan bisnisnya akan menyerang mereka. Jennifer yang mengerti situasi mereka dimana musuh selalu mengintai hanya bisa patuh.