Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Berkumpul dengan keluarga



Hari ini Louis bisa pulang sore ke rumahnya. Selama tiga bulan ini, dia selalu pergi pagi pagi sekali dan pulang larut malam. Tidak ada interaksi antara dirinya dengan penghuni rumahnya kecuali ayahnya, itu pun kalau Yudha terbangun tengah malam maka dia akan pergi ke kamar Louis untuk menanyakan perkembangan perusahaan Friday ataupun rencana mereka.


Yudha tidak ingin membebani Leo dengan masalah yang ditimbulkan Amora, jadi dia hanya pura pura tidak tau apa apa. Dia juga percaya bahwa Louis dan Friday bisa mengatasi krisis dengan baik dan terbukti bahwa perusahaan setelah ditinggalkan Amora semakin maju dan menjadi perusahaan favorit.


Louis selalu datang pagi ke kantor dan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Di jam istirahat dia akan pergi ke kantor Friday atau mendampingi Friday melakukan meeting dengan mitra kerjanya. Sekarang dia sudah meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen.


Yudha yang mulai meninggalkan satu per satu tugasnya sebagai pemilik perusahaan tentu saja membebani Leo. Dari awal Louis tidak mau mengambil tanggung jawab di grup Hampard hingga mau tidak mau Leo yang mengambil alih setelah ayahnya pensiun. Louis hanya membantu di satu anak perusahaan saja.


Louis minta izin pada Friday bahwa dia akan makan malam di rumahnya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak berinteraksi dengan mama dan adik serta keponakannya yang imut. Setelah mengantarkan dan menitipkan Friday dan Grant ke rumah mertuanya, dia segera menuju rumahnya.


"Wah masih ingat pulang kamu?" sindir mama Sita sesampainya Louis di rumahnya.


Louis melihat ke belakang lalu ke samping kanan dan kiri. Dia tidak menemukan siapa siapa, lalu menunjuk dirinya sendiri. "Siapa ma? Aku?" tanyanya.


"Maksudmu siapa lagi selain kamu? Hanya kamu yang ada di sini" jawab Sita. Dia kesal dengan anaknya yang satu ini. Selain wajahnya yang dingin, tidak peka, irit bicara, dia juga jomblo abadi (Sita belum tau saja hubungan Louis dan Friday).


"Oh" hanya itu yang keluar dari mulut Louis. Benar benar sangat irit. Padahal mengeluarkan suara tidak butuh biaya, tapi sangat sulit mendengarkan suara Louis jika bukan dengan Friday.


"Ohhhh?" Sita mulai terpancing emosi. Sita menjewer telinga Louis, dia berjalan ke arah sofa di ruang tamu masih dengan tangannya di telinga Louis. Louis mengikuti langkah ibunya tanpa ekspresi dan itu semakin menyulut emosi Sita. Bisa bisanya Louis tidak merasa bersalah setelah 3 bulan tidak pulang dan tak memberi kabar.


"Pa, lihat anakmu yang satu ini" adu Sita pada Yudha yang sedang membaca berita dari ipadnya di ruang tamu. Yudha melirik ke arah istrinya. "Ohh" kata Yudha menanggapi.


"Ohh? Astagaaaa anak sama bapak sama saja" gerutu Sita. Dia memegang lehernya yang tiba tiba tegang melihat tingkah suami dan anaknya. Sita duduk di sofa dan memejamkan matanya dan tangannya masih memegang lehernya.


Louis ikut duduk di samping ibunya, dia memijat kepala, leher hingga bahu ibunya. Berharap itu akan mengurangi rasa kesal ibunya.


"Apa lagi sih yang kamu lakukan sampai mamamu marah seperti itu?" tanya Yudha pada Louis.


Louis mengangkat bahunya "Aku pun tidak tau pa" jawabnya.


Sita membuka matanya lalu memukul Louis membabi buta. Louis akhirnya tertawa melihat mamanya menahan sakit di tangannya karena pukulannya di badan Louis yang kekar dan padat tidak berpengaruh sedikit pun bagi Louis tapi sebaliknya. Dia yang memukul tapi dia pula yang kesakitan.


Sita menatap Louis yang tertawa lepas, dia tersenyum karenanya. Sita tiba tiba memeluk Louis. Dia melihat sosok kakaknya di dalam diri Louis. "Sebanyak apapun pekerjaanmu jangan sampai mengabaikan kesehatan, jangan jadi tidak pulang atau tolong kasih kabar biar mama tidak khawatir" pesan Sita pada Louis.


Louis dan Sita tertawa mendengar perkataan Yudha. "Aku selalu pulang kok ma. Aku pulang tapi kalian sudah tidur dan aku pergi saat kalian masih tidur. Louis minta maaf karena membuat mama khawatir, aku hanya tidak ingin membangunkan dan mengganggu tidur mama. Aku rindu pelukan mama" kata Louis.


"Mama juga rindu, nanti kamu tidur dengan mama ya" pinta Sita. Mendengar permintaan istrinya tentu saja Yudha keberatan. "Tidak bisa, dia punya kamar sendiri dan dia sudah besar" protesnya. Louis dan Sita kembali tertawa karenanya.


"Ayo makan malam, kamu pasti sudah lapar. Tadi mama sudah masak makanan kesukaanmu karena mama rindu padamu" ajaknya pada anak dan suaminya.


Di meja makan sudah ada Amora dan Leo beserta Keyra. Mereka ikut bergabung di meja makan. Mereka mulai makan malam mereka dengan tenang. Setelah makan malam, Yudha meminta Leo dan Louis ke ruang kerjanya.


Seperti permintaan Yudha saat makan malam tadi, Leo dan Louis menyusul ayahnya ke ruang kerjanya. Yudha mengunci pintu agar tidak ada yang menggangu mereka saat berbicara apalagi pembicaraan mereka sangat rahasia.


"Apakah semuanya sudah terkendali?" tanya Yudha pada Louis. Louis mengangguk, dia merogoh saku celananya. Sebuah access card terjatuh saat Louis mengambil sebuah kartu nama dari saku celananya. Leo membantu mengambil access card tersebut. Dia memperhatikan access card itu dan heran kenapa access card apartemennya ada pada kakaknya.


"Itu kartu nama ayahnya Kelvin, dia adalah ketua mafia klan 2MFire. Dia akan membantu kita untuk menyembunyikan dan melindungi kakek sementara waktu. 3 hari lagi mereka akan datang menjemput kakek dan Sarah. Karena perusahaan sudah stabil kembali, minggu depan mereka akan datang lagi menjemput Friday dan Grant" jelas Louis sambil menyerahkan kartu nama itu.


Louis kembali ke tempat duduknya, dia memegang bahu Leo. "Untuk sementara, aku akan menggantikan Friday mengurus perusahaannya. Adikku yang paling ganteng dan baik hati, tolong bantu aku mengambil alih tanggung jawab di perusahaan ya" rayunya pada Leo.


"Baiklah. Beberapa bulan ini aku lembur jadi untuk beberapa bulan mendatang aku luang. Jadi santai saja bro" jawabnya.


"Dan apa ini? Kenapa access card apartemenku ada padamu kak?" tanya Leo.


Bukannya menjawab pertanyaan adiknya, Louis menanyakan Leo kembali. "Bagaimana hubunganmu dan Amora akhir akhir ini?" tanya Louis.


"Kami baik baik saja kak, kenapa?" tanya Leo heran, bisa bisanya kakaknya bertanya seperti itu.


"Apakah terjadi sesuatu di AFF yang melibatkan Amora?" tanya Leo penasaran.


"Bukankah AFF sudah stabil kembali?" tanya Leo lagi.


Louis dan Yudha saling menatap dan kembali menghembuskan nafasnya panjang.