
Malam harinya Louis makan malam bersama dengan keluarganya. Louis menyampaikan bahwa dia akan berangkat besok ke luar negeri dan menetqp di sana, tentu saja mamanya syok mendengarnya. Mamanya tidak terima dengan keputusan Louis. Louis minta maaf kepada mamanya tapi bukan berarti Louis mebatalkan kepergiannya yang mendadak itu.
Dengan berat hati Sita melepaskan anaknya, sedikit banyak Yudha memberikan penjelasan kepada Sita alasan Louis mendadak memutuskan menetap di luar negeri. Yudha berdalih jika kontrak kerja sama mereka dengan perusahaan lokal di sana ada masalah serius dan harus ditangani sendiri oleh pemilik perusahaaan sehingga Yudha mengutus Louis untuk mengambil alih tanggung jawab anak perusahaan di sana.
Keesok harinya Louis diantarkan oleh Sita dan Yudha ke bandara. Louis sudah menolak berulang kali agar dia berangkat sendiri ke bandara tapi Sita bersikeras untuk mengantarnya. Alhasil agar mamanya tidak uring uringan Louis membiarkannya saja. Louis memberitahukan kepada Friday jika mereka akan bertemu di pesawat saja.
"Mama, sebentar lagi pesawat kami akan boarding jadi mama pergi lah duluan" pinta Louis.
"Tidak. Mama akan menunggu hingga pesawat yang kamu tumpangi take off" jawab Sita.
Louis melirik papanya meminta bantuan agar membujuk mamanya supaya meninggalkan bandara terlebih dahulu. Tapi sayang, Yudha malah pura pura tidak tahu maksud Louis. Dia membuang muka tidak ingin ditatap lebih lama oleh Louis.
"Ma, bukannya Amora akan melahirkan minggu ini? Kasian dia di rumah sendirian, Leo kan sedang meeting pagi ini. Siapa yang akan menemaninya kalau bukan mama?" Louis mencoba mengalihkan perhatian mamanya.
"Iya juga ya, tapi kamu..." jawab Sita.
"Tidak apa apa ma, 10 menit lagi pesawat pass boarding kok. Aku jalan ke ruang tunggu juga akan memakan wakti 10 menit. Jadi mama duluan saja. Amora lebih butuh mama" ucap Louis lagi.
"Ya udah kalau begitu. Hati hati ya nak, tetap kabari mama. Semoga selamat sampai tujuan" Sita memeluk anak kebanggaannya itu. Dia juga mencium pipi kanan dan kiri Louis. Begitu pun dengan Yudha yang memeluk anak pertamanya itu.
Dengan cepat Louis menyusul Friday yang sudah berada di ruang tunggu. Friday menunggu kedatangan suaminya untuk masuk ke dalam pesawat bersama. Louis segera menggandeng tangan istrinya, berjalan berdampingan menuju ke pesawat. Mereka akan menumpang pesawat pribadi milik uncle Friday yang bernama Wetennov.
Di dalam pesawat selama penerbangan Friday mabuk perjalanan sepanjang jalan. Louis dengan telaten membantunya sekedar membersihkan bekas muntahan atau memijit punggung Friday saat muntah. Dia juga menyuapi Friday makan agar perutnya tidak kosong. Dan menjadi bantal guling agar Friday tidur dengan tenang. Louis memeluk istrinya yang berbaring dari bekalang dan mengusap perutnya hingga Friday bisa tidur. Sejenak Friday bisa melupakan mualnya. Perjalanan 16 jam itu terasa sangat melelahkan bagi Friday.
Begitu pesawat landing Friday dibantu oleh Louis untuk turun dari pesawat. Louis meminta dibawakan sebuah kursi roda agar Friday tidak perlu berjalan. Louis meminta supir yang akan mengantar mereka ke rumah sakit terdekat terlebih dahulu karena wajah Friday sudah mulai pucat. Dia takut terjadi sesuatu pada istri dan anaknya.
Sesampainya di rumah sakit, para staff medis langsung memeberikan pertolongan pada Friday. Sementara Friday diperiksa oleh dokter Louis menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu dan menyampaikan keadaan Friday kepada keluarganya.
Louis menemani Friday di ruang inapnya, dia menciumi telapak tangan Friday dan mengusap dahi Friday yang tampak mengerut. Walaupun hasil pemeriksaan dokter mengatakan jika Friday dan kandungannya baik baik saja, Louis masih merasa cemas.
"Kak, kamu bau. Mandi dulu sana" Friday menutup hidungnya setelah Friday bangun.
Louis mengendus badannya untuk memastikan jika dia bau seperti kata istrinya. Ternyata dia mencium bau yang tidak segar dari badannya. Tidak terlalu bau bagi manusia normal tapi cukup untuk membuat hidung tidak nyaman saat menciumnya untuk wanita hamil seperti Friday yang penciumannya lebih sensitif.
"Sebentar ya, aku mandi hanya 5 menit" tanpa membantah sedikit pun Louis langsung pamit untuk mandi sejenak. Dia juga merasa pengap dan tidak nyaman habis perjalanan jauh belum menyentuh air.
Setelah mandi Louis kembali duduk di kursi di sisi brankar dimana Friday sedang terbaring saat ini. Friday menghirup dalam aroma tubuh Louis dan tersenyum. "Sudah wangi" ucapnya.
"Aku juga mau mandi tapi aku malas bergerak. Aku tidak nyaman dengan bekas muntah dan keringat tadi" ucapnya lagi.
"Aku bantu washlap aja ya, atau kamu mau kumandikan?" tanya Louis.
Louis mencabut jarum infust di tangan Friday lalu menusukkannya ke botol infus itu. Louis langsung mengangkat tubuh istrinya dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada di ruang rawat itu. Dia membantu Friday menyiram, menyabuni tubuh Friday, membersihkan badannya kembali dan menyikat giginya.
Setelah selaesai mandi kembali Louis mengankat badan Friday yang hanya menggunakan handuk. Louis mendudukkan Friday di atas brankar lalu Louis bergerak ke sudut ruangan untuk mengambil pakaian untuk Friday dari kopernya.
"Pakai daster saja, yang tanpa lengan" seru Friday.
"Loh kenapa?" tanya Louis. Dia tidak mau sampai Friday kedinginan karena daster tanpa lengan itu. Lagian mereka sedang di rumah sakit di tempat umum pasti banyak orang yang berlalu lalang. Dia tidak mau kulit istrinya menjadi bahan tontonan orang lain. Dan Louis lupa mereka di kamar VIP dimana tidak sembarangan orang bisa masuk dan bukan kamar sharing.
"Gerah" jawab Friday singkat. Louis mengalah dan mengambil daster berwarna pink tanpa lengan milik Friday.
Louis kembali ke sisi istrinya itu. Dia melepas handuk yang melilit di tubuh Friday dan membantu istrinya memakaikan celanaa dalamm. Lalu mengambil braa untuk dipasangkan di dada Friday tapi Friday menolaknya.
"Tidak usah pakai Braa. Sesak" ucapnya. Louis hanya menurutinya saja. Dia memakaikan daster ke rubuh Friday. Setelahnya Louis memanggil perawat untuk memasang infus kembali ke tangan Friday.
"Kak, peluk aku. Aku kedinginan" pinta Friday.
Louis segera naik ke brangkar dan memeluk istrinya dari belakang. "Pake sweater mau? Biar ku ambilkan" tawar Louis.
"Tidak, gerah" jawab Friday.
"Pake jaket gerah pake baju tanpa lengan gerah. Apa sih maunya nih cewek?" tanya Louis dalam hati.
Friday bergerak menjadi berhadapan dengan Louis. "Peluk" perintahnya dan dilakukan oleh suaminya.
"Apa aku menyebalkan?" tanya Friday.
"Tidak" jawab Louis.
"Ga usah sungkan. Jujur saja" balas Friday.
"Hmmm sedikit" jawab Louis.
"Maaf" Friday meminta maaf.
"Tidak apa apa" jawab Louis.
"Aku pun tidak tau kenapa aku begini" Friday menangis karena menyadari jika beberapa waktu ini sikapnya sangat menyebalkan. Dia takut suaminya akan jenuh dan marah akhirnya meninggalkannya saat dia mulai menyayangi suaminya.
"Sudah jangan menangis. Aku tidak marah walaupun sikapmu sedikit berlebihan. Kata dokter kemungkinan besar itu karena hormon kehamilanmu yang membuat moodmu menjadi tidak menentu dan lebih sensitif" tambah Louis. Louis mengusap punggung Friday yang menangis di dadanya.