
Melihat Leo yang berlutut dan mengucapkan pertanyaan yang hampir semua perempuan tunggu dari kekasihnya pun terucap dari bibir Leo. Amora merasa seperti mimpi. Apakah perasaannya berbalas?
"Jadi gimana? Will you marry me?" tanya Leo lagi.
Amora pun menangis dan terduduk. Dia sadar sekarang ini dia sedang dipermainkan oleh Leo pria yang dicintainya.
Leo langsung menunduk menuntun Amora agar berdiri. Dia heran kenapa tiba tiba Amora menangis seperti itu. Itu bukan tangis terharu atau tangis bahagia. Leo memeluk Amora dan mengecupi kening Amora.
"Kenapa? Ada apa Amora? Jangan membuatku panik" kata Leo.
Amora langsung memukuli dada Leo sambil terus menangis. "Kamu laki laki kejam dan tak punya perasaan kak. Jangan permainkan perasaanku lagi. Aku capek kak. Kakak ga tau apa selama ini aku berharap hubungan kita bukan pacar pura pura. Aku selalu bersikap selayaknya pacar kamu".
"Aku terjebak dengan kepura puraan ini. Aku menikmati masa pacaran pura pura ini sampai aku lupa diri. Aku senang kakak baik kepadaku. Aku senang keluargamu menyayangiku dan aku senang kedua orang tuaku merestui hubungan ini".
"Tapi aku makin merasa sedih karena ini hanya bohongan. Aku ga mau harus berbohong lebih lama lagi. Aku ga mau kebahagian mereka atas kebohongan. Please lepasin aku kak, aku mau menata hatiku lagi".
"Makanya ayo kita menikah" kata Leo serius.
"Kak stop mempermainkanku. Kita aja ga pacaran sungguhan, apalagi ini? Menikah? Menikah bukan main main seperti ini kak. Menikah bukan seperti membeli baju yang kalau tidak muat atau kebesaran bisa diganti atau kalau sudah rusak bisa dibuang. Kakak sadar ga apa yang kakak minta. Kalau menikah bohongan aku ga mau lagi membantumu kak" jawab Amora.
"Aku tau dan aku serius memintamu menikah denganku. Aku menyukaimu dari dulu, tapi aku tidak berani mengatakannya karna aku pikir aku belum layak bersamamu. Sekarang aku sudah punya pekerjaan tetap dan punya penghasilan sendiri, aku bisa menafkahimu. Jadi menikahlah denganku bukan untuk pura pura tapi seriusan" ajak Leo.
"Maaf kak aku ga bisa, aku ga mau dipermainkan" kata Amora.
"Siapa yang mempermainkanmu? Tidak bisa kah kau melihat ketulusanku?"
"Apa ini kalau bukan permainan kak, melamar tanpa cincin dan melamar tanpa ungkapan cinta bahkan melamar tanpa pacaran terlebih dahulu. Aku bukan orang yang bisa kakak rayu untuk dijadikan mainan kak"
"Tapi aku serius Mor. Harusnya besok aku melamarmu, tapi karna kamu ingin putus sekarang makanya aku langsung melamarmu saat ini. Aku pun belum punya persiapan lamaran hari ini. Lihat ini aku sudah booking restoran besok untuk lamaran ini" Leo menunjukkan sms reservasi atas namanya di sebuah restoran.
"Tunggu sebentar" Leo menuju ke bufet sebelah tempat tidurnya dan membuka laci bufet itu. Leo mengambil sesuatu dari sana. "Lihat, ini cincin yang sudah ku siapkan untuk besok. Tapi terlanjur aku mengungkapkannya, lebih cepat lebih baik bukan?"
"Kamu tau alasanku meminta Friday membawamu tahun lalu?"
Amora menggelengkan kepalanya.
"Kamu tau alasanku memintamu yang membantuku? Kenapa tidak Alexa saja atau Jeanne atau bahkan Vemola?"
Amora kembali menggeleng.
"Karena aku menyukaimu dari dulu, aku berniat membuatmu jatuh cinta padaku dengan pura pura menjadikanmu pacarku. Kebetulan sekali aku punya alasan yang kuat menarikmu dalam jebakan ini"
"Karena aku mencintaimu dan tidak mau jauh darimu, itu sebabnya aku selalu mengajak Friday jalan. Aku tau Friday akan selalu mengajakmu. Dan Friday akan selalu meninggalkan kita berdua agar aku punya kesempatan untuk dekat denganmu"
"Dan untuk kebohongan kita kepada orang tuaku dan orang tuamu jangan khawatirkan itu. Aku sudah lebih dulu membicarakannya kepada mereka. Mereka tampak tidak keberatan"
"Aku juga sudah memintamu kepada orang tuamu untuk ku jadikan istri. Ini bukti bahwa aku serius denganmu"
"Jadi Amora Patricia Mouver, kita putus dan akhiri hubungan palsu ini dan menjalani hubungan yang lebih serius. Maukah kamu menikah denganku?" tanya Leo lagi sambil berlutut dan memegang cincin.
"Tapi kak, aku masih kuliah dan aku masih punya banyak cita cita yang ingin ku capai. Maaf aku ga bisa menikah secepat ini. Bukannya aku ga suka tapi aku ga mau menyesal nantinya setelah aku menikah" jawab Amora.
"Kita hanya menikah bukan masuk penjara. Menikah bukan menjadi penghalang kuliah dan cita citamu. Kamu masih bisa kuliah dan bekerja. Aku hanya ingin hubungan kita jelas. Aku mau mengikatmu agar tidak lari dariku. Apalagi nanti aku sudah tidak bisa lagi mengawasimu di kampus. Banyak mahasiswa baru yang siap jadi ancaman" jelas Leo panjang lebar.
"Mau ya" bujuknya lagi.
Dari tadi mereka berbicara serius dan tidak menyadari bahwa semenjak mereka bicara sudah ada seseorang yang menguping. Siapa lagi kalau bukan Friday.
Amora masih belum menjawab ajakan dan bujukan Leo, dia masih menimbang semuanya hingga membuat penguping tadi tidak sabaran.
"Jawab iya susah amat cuy. Iya in aja napa? Kasian dia dari tadi berlutut, pasti pegal itu" kata Friday dari balik pintu.
Benar benar si trouble maker, penggangu, pengacau dan ancaman bagi kedamain dan kesehatan mental.
Leo berdiri dari berlututnya dan menatap kesal ke arah Friday "Sejak kapan kamu di situ? Dasar penguntit, benar benar trouble maker, menyebalkan"
Friday hanya mengangkat bahunya acuh menjawab Leo. Dia yang dipelototin oleh Amora pun menjawab pertanyaan Leo "Sejak tadi kalian masuk, aku mengikuti kalian dan mendengarkan semuanya. Aku hanya mengawasi kalian, siapa tau kalian akan berbuat mesum. Kalian kan udah lama ga ketemu, pasti rindunya sudah menumpuk. Takut kalian khilaf, jadi tante memintaku untuk mengawasi" jawab Friday jujur.
"Ckckck dasar ga punya kerjaan, pengganggu" kata Leo kepada Friday dan kemudian beralih kepada Amora. "How Mor? Will you marry me? I hope you will answer yess"
Amora mengangguk mengiyakan ajakan Leo. Leo langsung memeluk Amora, dia bahagia mendapatkan jawaban Amora. Friday juga turut senang melihatnya.
Saking senangnya, Leo sampai mencium bibir Amora. Amora terdiam sebentar karena terkejut tapi detik berikutnya dia membalas ciuman Leo.
Lama mereka ciuman sampai ciuman berubah jadi lumaattan, Leo mulai menggerayangi tubuh Amora. Leo juga menuntun Amora ke tempat tidurnya. Mereka lupa bahwa si trouble maker masih di sana.
Friday awalnya biasa saja melihat Leo dan Amora berciuman tapi ciuman itu sudah berubah jadi lumaattan membuatnya panik. Dia menunggu di sana dan mengawasi jangan sampai bablas. Benar benar jadi penguntit. Friday sudah tidak tahan saat Leo membawa Amora ke tempat tidur dan menindihnya.
Akhirnya Friday berteriak karena sudah tidak tahan dengan adegan mesum di depan matanya " Tanteeee, tolong tanteeeee...mereka ciumannnnnnnn".
Tersangka langsung bangun dan mulai merapikan tampilannya. Mama Sita langsung datang menghampiri mereka.
………………………………………………………………………………
Jangan lupa Subscribe, Like dan Comment ya genk kalo bisa vote dan gift jg hehehe...Lafyutu