
Mereka masih melanjutkan melakukan hubungan suami istri dengan ganti posisi sampai mereka mendapatkan pelepasan bersama.
Leo ambruk diatas tubuh Amora, dan segera memiringkan tubuhnya dan Amora tanpa melepas penyatuannya. Leo memeluk Amora dan menciumi pelipis wanita itu dengan sayang.
"Thanks dear, itu adalah moment terindah dalam hidupku. Sangat nikmat" bisik Leo tepat ditelinga Amora dengan nafas tersenggal. "Ternyata lebih nikmat dari pada kombinasi antara tangan dan sabun yang menciptakan harmonisasi indah hahahaha. I feel alive". Tidak lupa dia mencium kepala si gadis eh salah mantan gadis.
Amora masih menetralkan deru nafasnya yang cepat. Dia lelah tapi sangat puas. Tidak pernah terpikir bahwa bercin*ta senikmat ini. Rasa penasarannya terjawab sudah, mungkin ke depannya dia akan candu.
Setelah melakukan hubungan suami istri, mereka tidak langsung tidur. Mereka melakukan pillow talk. Pillow talk adalah perbincangan intim yang dilakukan antara pasangan di atas tempat tidur.
Mereka saling berpelukan dan menatap mata pasangannya. Membicarakan masa lalu, bagaimana kesan pertama mereka bertemu hingga pembicaraan mengenai masa depan mereka sampai mereka terlelap dalam tidur.
Leo terbangun jam 8 pagi dan langsung bergegas mandi. Dia tidak tega membangunkan Amora yang tertidur sangat pulas.
Leo keluar kamar menuruni tangga menuju ruang makan. Dia mendapati keluarganya sudah memulai acara sarapan pagi mereka.
Leo langsung duduk di kursi biasanya dia tempati. Keluarganya serempak melihat ke arah Leo dengan tatapan tanda tanya karena Leo hanya sendiri, kemana Amora?
"Amora ke mana? Kenapa dia tidak ikut sarapan?" tanya mama Sita.
"Amora masih tidur ma, nanti sarapannya biar ku bawa ke kamar saja" jawab Leo.
Mama Sita menyipitkan matanya meminta penjelasan lebih. "Kamu pasti berbuat macam macam ke Amora kan, sampai dia tidak bisa jalan atau bahkan tidak bisa bangun?"
"Apaan si mah, curiga mulu. Amora masih tidur ma, Leo ga tega bangunin. Lagian kalaupun Amora sudah bangun, ga bakalan ikut sarapan pagi juga di sini. Leo bakalan tetap bawa sarapannya ke kamar"
"Kenapa?" semua anggota keluarganya langsung bertanya serempak.
"Gimana sih ma, kok mama lupa kalau kita menikah dadakan tanpa perencanaan. Amora ke sini kan ga bawa pakaian sehelai pun. Pakaian kemaren yang dia pakai sudah kotor jadi sekarang cuman pakai kaos Leo aja" jelas Leo.
"Yakin cuma karena itu?" tanya papa Yudha. Dia bertanya seperti itu karena yakin bahwa anaknya sudah berbuat begituan dengan menantunya. Buktinya adalah tadi pagi terdengar jeritan dan eranga*n yang bersumber dari kamar Leo.
"Hehehehe maksud papa apa?" Leo hanya cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan sok polos, ga tau apa apa. Papa dengar jeritan Amora tadi pagi" jelas papa Yudha.
"Apa? Ish dasar anak nakal, sudah mama bilang kalau kamu jangan berbuat itu dulu bersama Amora" mama Sita menarik telinga Leo.
"Mama ingat ga semalam bilang apa ke kita? Mama dan papa minta tidak ada jeritan malam hari doang. Ya udah karena sudah pagi jadi ga apa apa dong kalo kita lakukan. Larangannya kan cuman malam bukan pagi. Lagian salah mama juga kenapa ga persiapkan pakaian buat Amora. Kalau dia punya pakaian yang layak mungkin tadi pagi ga sampai bablas ma" Leo membela diri.
"Au ahhh...mama kesal" kata mama Sita. "Jadi gimana keadaan Amora? Masih bisa jalan ga? Kamu gempur dia berapa lama?" tanya mama Sita kepo.
"Rahasia" jawab Leo singkat.
"Ckckck... mama lupa kasih tau kemaren. Koper Amora ada kamar tamu. Sebelum acara wisuda, mama sudah meminta kedua orang tua Amora untuk packing pakaian Amora" jelas mama Sita.
"Iya ma, nanti Leo ambil ke kamar tamu. Makasih mamaku sayang, I Love You" jawabnya.
"Jadi gimana? Enak ga?" tanya papa Yudha penasaran.
Ayah dan anak itu tertawa dan mama Sita hanya menghela nafasnya dalam. Berharap Amora akan betah dan tidak lari dari Leo setelah tau seberapa mesum Leo. Pasti Leo menuruni sifat papa Yudha yang juga berotak mesum.
"Apanya yang nikmat sih?" tanya Louis yang dari tadi hanya pendengar yang baik.
"Makanya kamu segera menikah, biar tau apa itu enak. Umur sudah tua masih aja kutu buku. Kamu pikir, kamu bisa punya anak dari hasil print buku buku yang kamu baca? Bahkan perempuan jelek dan putus asa tidak akan sanggup hidup denganmu yang membosankan ini. Cepatlah menikah agar bebanku berkurang. Mama juga mau segera punya cucu" omel mama Sita.
Louis seperti biasanya akan mengacuhkan omelan mamanya. Menganggap omelan itu hanya sebatas kentut yang menumpang lewat. Baunya hanya sementara, dihirup dalam dua tiga kali, maka baunya akan hilang.
Bukan hanya Louis, papa Yudha dan juga Leo akan mengacuhkan omelan mama Sita. Sepertinya sifat tidak mau tau itu diwarisi oleh papa Yudha.
Prinsip papa Yudha adalah biarkan dia mengomel, kalau sudah capek pasti akan diam sendiri.
Lama mama Sita mengomel dan merepet, Papa Yudha, Louis dan Leo hanya menganggukkan kepalanya seolah olah mereka mendengarkan pada hal mereka tidak mendengar sama sekali hingga akhirnya mama Sita berhenti.
Mereka bersyukur karena akhirnya mama Sita mau berhenti mengomel dan melanjutkan makan sarapan paginya dengan tenang.
"Oh iya, hari ini papa dan mama berangkat ke luar negeri. Perusahaaan yang di sana dapat tender yang lumayan besar. Client berharap papa yang turun tangan langsung untuk menanggungjawabi semua pekerjaan selama project berlangsung. Mungkin akan lama di sana makanya mama ikut bersama papa" kata papa Yudha.
"Kok buru buru amat pa? Dan kenapa papa baru ngasih tau sekarang" tanya Louis.
"Malah bagus, makin cepat pergi makin bagus lah" kata Leo.
"Dasar anak tidak punya akhlak" kata mama Sita langsung menarik telinga Leo. Seperti biasa Leo akan mengadu kesakitan.
"Lepasin dulu ma, bukan gitu maksud Leo. Amora pasti bakalan malu banget ketemu sama mama papa, kalau kalian pergi sekarang sebelum dia bangun kan jadinya tidak akan ada kecanggungan nantinya pas kalian bertemu kembali" jelas Leo.
"Iya juga sih, padahal mama masih mau ngobrol sama menantuku. Jaga dia baik baik ya. Awas kalau kamu buat dia sampai kelelahan" kata mama Sita memperingati.
"Iya ma, iya...." kata Leo.
Sebenarnya rencana keberangkatan mereka ke luar negeri sudah lama, mereka lupa memberi tahukannya kepada anak anak mereka. Oleh karena itu, sebelum pergi dan menetap di luar negeri, mereka mematenkan Amora sebagai menantunya. Meskipun dilakukan dengan cara yang anti mainstream.
"Leo, ikut mama ke kamar sebentar, mama mau kasih kamu sesuatu. Nanti sampaikan kepada Amora dengan bijak. Mama ga mau karena ini kalian salah paham" kata mama Sita. Leo hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Setelah acara makan pagi mereka, Leo dan mama Sita segera menuju kamar utama kamar orang tua Leo. Di sana mama Sita memberikan Leo obat pencegah kehamilan. Bukan mama Sita tidak ingin Amora hamil, dia bahkan sangat menginginkannya tapi semuanya harus atas persetujuan Amora, begitu menurut mama Sita.
Leo akhirnya mengerti kenapa mamanya memanggilnya ke kamar, dia bahkan tidak memikirkan sampai ke situ. Dia hanya memikirkan celup mencelupnya saja, hasil akhirnya belakangan.
Begitulah mereka memulai pagi mereka setiap harinya, riuh.
………………………………………………………………………………
Revisi Genk Revisi wkwkwk... jadi part hot nya gue skip
bayangin dalam hati aja ya, mereka ngapain aja di sana wkwkwk
Jangan lupa Subscribe, Like dan Comment ya genk kalo bisa vote dan gift jg hehehe...Lafyutu