
Walaupun sudah banyak fakta yang terungkap, beberapa fakta masih Sita dan Anthony tutupi terutama fakta mengenai Louis. Mereka berjanji akan segera memberitahukannya jika Louis sudah siap dan masalah mereka yang saat ini sedang dihadapi pun sudah selesai.
Tanpa memperdulikan sekelilingnya, Friday masih betah memeluk anaknya. Sesekali Friday akan menciumi wajah anaknya dan kembali mengsap punggung anaknya. Grant juga demikian, dia akan memeluk erat leher mommynya dan kemudian menciumi wajah sang mommy. Hal itu mereka lakukan berulang ulang kali hingga membuat seseorang merasa jengah. Dia sudah sering mendapati adegan romantis penuh haru tapi lebay itu. Awalnya dia merasa tersentuh tapi lama kelamaan dia jengah, siapa lagi jika bukan Jeanne.
Jeanne yang merupakan istri unclenya Friday sering menjaga Grant dan dititipkan padanya jika Friday ada urusan pekerjaan. Setiap Friday menjeputnya atau Jeanne mengantarkan Grant ke rumahnya, mereka akan melakukan adegan itu hingga lebih dari 15 menit apalagi jika Louis ada bersama mereka maka ketiganya akan berpelukan lebih lama lagi. Pemandangan itu sudah biasa bangat buat Jeanne.
"Cut...cut...cut" teriak Jeanne menghentikan keponakan suaminya itu.
"Sirik" teriak Friday membalas auntynya.
"Dasar pasangan bucin lebay" balas Jeanne yang semakin mengerasakan suaranya.
Friday tertawa mendengarnya. "Sirik tanda tak mampu aunty. Keluarga kaku seperti kanebo kering tidak akan mengerti keromantisan dan keharmonisan keluarga kami" balas Friday.
"Romantis apanya kalian lebay" sahut Jeanne tidak mau kalah.
Brent melihat keponakan dan sepupunya berpelukan merasa iri dan ingin berpelukan juga dengan mommynya. Tadi saat Jeanne masuk dan menemuinya, dia hanya menoleh sebentar dan kembali asik bermain dengan Grant. Jeanne sempat kecewa dengan sambutan Brent yang tidak hangat sama seperti suaminya yang begitu kaku.
"Mommy...hug" ucap Brent menarik baju mommynya.
"Ohh...come here my son, separuh jiwaku kebanggaan nusa dan bangsa, anak baik budi yang tampan dan pintar, lope lopenya mommy dan daddy" Jeanne memeluk anaknya dan menciumi wajah anaknya. Ternyata begini rasanya sangat dirindukan anaknya. Ada rasa bahagia sekaligus sedih yang dirasakan Jeanne. Jeanne menangis haru karena akhirnya bisa merasakan pelukan lebay anaknya karena selama ini Brent tidak begitu suka dioeluk oleh orang lain. Sangat menuruni sifat daddynya yang kaku dan tidak peka sama sekali.
"Sekarang siapa yang lebay" teriak Friday melihat Jeanne yang menangis haru menciumi wajah anaknya dan memeluknya begitu erat. Jeanne tidak memperdulikan ejekan Friday, dia masa bodo.
"Dasar anak nakal, dia sama menyebalkannya seperti daddynya. Tidak ada romantisnya sedikit pun" sungut Jeanne. Para penonton di sana menertawakan nasib Jeanne yang langsung diabaikan sang anak.
Padahal sebenarnya Brent adalah anak yang paling peka. Dia melihat mommynya iri pada sepupu dan keponakannya hingga dia rela diusel usel oleh mommynya tapi dia juga ingat bahwa teman barunya Gerald sendirian bermain magic sand hingga dia memutuskan untuk menemani bocah seusianya itu setelah memberikan perhatian pada mommynya.
Brent melihat sekelilingnya sepertinya masih ada yang kurang dan kemudian menoleh ke arah keponakan dan sepupunya. "Glant" panggil Brent pada Grant.
Grant segera memalingkan padangannya dari mommynya mengikuti arah suara uncle kecil yang memanggil namanya. "Main cini, Glant" ucap Brent lagi.
Sama seperti Brent, Grant juga bereaksi menanggapi panggilan Brent langsung berusaha melepaskan diri dari sang mommy.
"Mommy..ush mommy....." Grant mengeluarkan seluruh tenaganya agar bisa terlepas dari kungkungan Friday. Dengan hati sedikit tak rela Friday akhirnya melepas Grant. Grant langsung berlari menghampiri uncle kecilnya itu dan Gerald.
"Begitu rasanya diabaikan Fri" ucap Jeanne.
"Begitu disapih langsung melunjak ya" balas Friday.
"Kalian masih enak kak, anak kalian menghampiri kalian dan memeluk mommynya. Lihatlah anakku, memang paling kalem tapi dia sama sekali tidak ada niat memelukku malah asik dengan magic sand nya" Sarah ikut menimbrung obrolan mama muda itu. Mereka bertiga akhirnya tertawa.
"Ekhemmmmm" Sita berdehem membuyarkan tawa para mama muda itu. Serentak mereka menoleh ke sumber suara. Sarah tersadar jika dia harusnya memberitahukan pada Friday jika Sita juga berada di pulau ini dan sudah tau status pernikahan Friday dan Louis.
Friday terkejut, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, matanya juga ikut melotot. Friday melihat ke arah sampingnya di mana Sarah sedang berdiri. Wajah Sarah menunjukkan wajah penyesalan karena lupa memberi tahu Friday. "Maaf kak" ucap Sarah lirih. Friday menepuk lengan Sarah, "Tidak apa".