Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
H-1



Seperti biasanya Christian akan mengabaikan banyak hal, dia terlalu percaya dengan kakeknya bahkan kepada siapapun. Dia tidak ikut memantau perkembangan rencana pertunangannya. Dia larut dalam pekerjaannya agar cepat selesai dan bisa mengambil cuti setelah acara pertunangannya. Dia yakin di tangan kakeknya acara pertunangan ini pasti akan sangat meriah dan memuaskan. Dari pihak Alexa juga sudah selesai dengan persiapan acara pertunangan itu, dia hanya mempersiapkan diri dan pakaiannya saja. Dia meminta Leo dan Amora sebagai walinya nanti mewakili orang tuanya yang saat ini sedang di luar negeri.


Mendekati hari H pertunangan cucunya, rumah Anthony saat ini sedang ramai dengan para staff wedding organizer yang dia sewa untuk mengatur semua dekorasi dan makanan untuk acara pertunangan itu. Anthony menginginkan acaranya digelar meriah tapi tidak bisa, acaranya tertutup untuk para awak media pemburu berita. Ini adalah salah satu syarat yang diajukan Friday. Tamu yang diundang juga hanya beberapa kolega dari Scaff dan Alcantara yang juga menjaga privasi dari media.


Ada ketakutan dalam diri Friday semenjak kejadian di kota X. Apalagi sampai saat ini mereka belum mengetahui pelaku dan motif, bahkan target yang pelaku incar sebenarnya. Itu membuat mereka meningkatkan kewaspadaannya. Dia menjadi pribadi yang tertutup dan lebih dingin, padahal dulu dia ceria, tengil dan jahil dibumbui kesombongan. Sekarang dia seperti manusia tidak berperasaan yang sangat sulit dijangkau, bahkan lebih dari saat masih kuliah yang hanya dijuluki Miss Unreachable sekarang dia sudah jadi Ice Princess.


H-1 acara pertunangan mereka, Christian kembali pulang ke ibu kota negara A. Dia menuju rumah kakeknya untuk melihat persiapan acaranya, walaupun dia percaya dengan kakeknya tapi ada rasa penasaran di hatinya mungkin efek bahagia. Dia hanya menyapa kakeknya dan melihat sebentar, setelah itu dia pergi menuju apartemennya yang sekarang ditempati oleh Alexa.


Seminggu tidak bertemu membuatnya merindukan perempuan yang sebentar lagi menjadi tunangannya. Dia menuju unit apartemennya yang berada di lantai 28. Dia menekan bel dan menunggu Alexa membuka pintu. Walaupun dia tau pin pintunya tapi dia memilih menunggu Alexa membukanya untuk menghargai hak privasi Alexa sebagai penghuni.


5 menit menunggu di luar, akhirnya pintu terbuka. Christian sudah tersenyum lebar tapi begitu pintu dibuka, dia terkejut karena yang menyambutnya bukan sang calon tunangan tapi pamannya Caleb. "Kamu sudah datang ya, ayo masuk" ajak Caleb.


Christian masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu. "Kenapa paman berada di sini? Di mana Alexa?" tanya Christian penasaran. Dia sudah berpikiran negatif terhadap Alexa dan Caleb. Kenapa mesti hari ini dia mendapati keadaan ini diasaat besok adalah hari pertunangannya. Tega sekali Alexa menghianatinya.


"Jangan berpikiran buruk tentangku" jawab Caleb. "Alexa ada di dalam kamar, sedang mandi. Dia sepertinya kecapean mengurus kelulusan dan penerimaan mahasiswa baru dan stress menghadapi pertunangan besok, jadi paman menawarkan tumpangan untuknya dari kampus. Paman sengaja menunggumu di sini, mau memastikan kamu tidak akan berbuat macam macam padanya seperti di hotel dulu" jelas Caleb. Mendengar penjelasan pamannya, dia lega. Mereka melanjutkan obrolan mereka seputar migrasi system hotel yang melibatkan beberapa mahasiswa tingkat akhir dari IITC.


Setengah jam mereka mengobrol tapi Alexa belum juga muncul. "Mungkin dia ketiduran. Dia pasti capek apalagi sekarang dia merangkap jadi wakil direksi di yayasan" kata Caleb. Caleb melihat ke jam yang ada di pergelangan tangannya, sudah jam 6 sore. "Baiklah, paman pamit dulu ya. Tolong pesankan makanan untuknya dan jangan berbuat yang tidak tidak dengannya. Darah muda sepertimu masih sulit mengontrol diri" peringat Caleb. Christian menatap jengah pamannya. Dia tau apa yang mesti dia perbuat, pamannya tidak percaya padanya.


Caleb pulang ke rumahnya, Christian memesan makanan dari layanan pesan antar untuk makan malam mereka. Christian naik ke atas menuju kamar Alexa untuk membangunkannya. Rasa rindunya sudah di ubun ubun. Dia mengetuk pintu kamar Alexa namun tidak ada jawaban, iseng dia membuka ensel pintu ternyata tidak dikunci. Dia mengintip dari balik pintu dan melihat Alexa yang sedang berbaring pulas di tempat tidurnya dengan gaun tidur yang sangat minim.


Melihat itu, darah Christian langsung mendidih merasa kepanasan, apalagi adik kecilnya mulai meronta. Tapi dia menahannya agar tidak tergoda, dia tidak mau memperko*sa Alexa untuk kedua kalinya. Dia memutuskan untuk membangunkan Alexa dengan cara memanggil nama perempuan itu dari balik pintu. Dia tidak mau masuk, takut tidak bisa mengontrol diri.


Beberapa menit kemudian Alexa turun dengan pakaian yang tertutup yang disambut senyum Christian di meja makan tapi raut wajah Alexa datar. Mereka makan malam berdua dengan suasanan canggung. Mungkin karena mereka tidak ada komunikasi selama seminggu ini. Christian tidak pernah memberikan kabar atau membalas pesan dari Alexa. Selesai makan mereka berbincang mengenai acara besok. Mereka sepakat bahwa Christian akan mengirimkan mobil dan supir untuk menjemput Alexa ke apartemen ke rumah kakeknya, karena Christian sendiri akan menginap di rumah kakeknya.


"Bagaimana persiapanmu untuk besok? Masih ada yang kurang?" tanya Christian. "Aku rasa sudah cukup kak. Mama dan Amora sangat membantuku kemarin" jawab Alexa. "Syukurlah" kata Christian. Setelah percakapan itu mereka sama sama terdiam. Sebenarnya mereka berdua sama sama merasa lelah karena pekerjaan mereka. Apalagi Christian yang baru saja melakukan perjalanan bisnis, itu sangat menguras tenaganya.


"Kakak datang ke sini hanya untuk menyampaikan itu saja? Kenapa kakak tidak meneleponku saja tadi" tanya Alexa dengan wajah yang tidak berubah saat mereka bertemu. Alexa merasa kesal karena mereka banyakan diam dari pada berbicara. Menurutnya itu sangat buang buang waktu. Dia merasa lelah dan ingin tidur. Mungkin benar kata orang, dimana saat saat mendekati Hari H pertunangan atau pernikahan akan ada badai yang menghantam. Ditambah dengan beban pekerjaan membuat emosi tidak stabil dan rentan stress. Saat ini mereka berdua sedang sensitif.


Christian tersulut emosi, dia merasa Alexa tidak menghargai ketulusan dan niat baik Christian yang langsung menemui setelah melakukan perjalanan dari luar kota. "Maksud kamu apa? Aku jauh jauh datang ke sini untuk bertemu denganmu tapi sepertinya kamu tidak mau melihatku. Bahkan kamu tidak menanyakan kabarku dan bagaimana pekerjaanku di luar kota. Bukan cuman kamu yan merasa lelah tapi aku juga. Tidak bisakah kamu melihat usahaku yang datang ke mari untuk menanyakan kabarmu? Aku benar benar khawatir karena tadi aku telepon tapi tidak kamu jawab".


"Bagaimana dengan chat dan teleponku yang selama seminggu ini kak? Apa kakak menjawabnya? Aku juga khawatir dengan kakak yang tidak ada kabarnya. Begitu rasanya diabaikan dan cemas menunggu kabar" jawab Alexa yang meninggikan suaranya dan menangis. Entah kenapa mereka berdua merasa marah dan kesal hanya karena masalah yang sebenarnya tidak besar.


Melihat Alexa menangis, Christian akhirnya luluh, diq mengalah demi kebaikan mereka. Dia sadar bahwa ini adalah kesalahannya. "Maafkan aku Lex, aku tidak berniat melukaimu dengan kata kataku tadi. Dan maafkan aku yang membuatmu cemas. Aku tidak membaca chat darimu dan tidak menjawab telepon darimu itu karena aku takut aku mendengar suaramu membuatku semakin merindukanmu dan tidak bisa melanjutkan pekerjaanku. Lain kali aku tak akan begitu".


Alexa mengangguk dan juga minta maaf karena dia sensitif. Setelah Alexa selelsai menangis, Christian pulang ke rumah kakeknya untuk istirahat. Mereka berharap semoga besok bisa berjalan dengan lancar.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Maafkan aku, kemaren lupa upload udah ada beberapa bab eh tadi pagi laptopku ngambek jadinya aku ketik ulang di hpπŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜” Inilah akibat dari menunda nunda pekerjaan. Lain kali tidak akan begitu