
"Sayang, bangun!" Friday membangunkan lelaki yang sedang tertidur pulas di tempat tidurnya.
"Apa? Aku masih ngantuk. 15 menit lagi ya" kata Louis masih menutup matanya. Matanya masih berat, perih bila di buka karena masih sangat mengantuk. Louis baru tidur belum genap satu jam sudah langsung dibangunkan oleh Friday.
"Enggak bisa, bangun sekarang!" perintah Friday lagi.
"Astaga, aku baru tidur loh my honey bunny sweety. Jam berapa sekarang" tanya Louis tapi masih memejamkan mata dan berbaring.
"Jam 3 pagi, ayo bangun. Sayangku, cintaku Louis Hampard please bangun. We need to talk" paksa Friday.
Jika sudah menyebut nama seperti itu berarti ada yang penting, akhirnya Louis bangun dari tidurnya. Dia duduk dengan mata terpejam, tangannya menggaruk badannya yang tidak gatal dengan sedikit kasar dan raut wajah yang kesal. Dia kesal karena tidurnya terganggu.
"Jam 3? Gilaaaaa. Untung aku sayang samamu, kalau tidak pasti akan ku cekik. Kenapa seleraku berubah drastis jadi perempuan heboh dan berisik seperti ini...ckckck" batin Louis. Tidak mungkin dia mengatakannya kepada Friday, jika sampai Friday tau bisa tamat riwayatnya. Dia hanya tinggal nama saja.
Friday sebenarnya tidak tega membangunkan Louis tapi karena hal urgent, terpaksa dia melakuukannya dan memaksanya. Dia tau bahwa Louis sangat sulit untuk tidur, tapi apa mau dikata hal tak terduga datang begitu saja tanpa direncanakan.
"Maafkan aku, hmmm? Jangan marah" kata Friday. Dia mendekat ke arah Louis dan memeluknya. Tidak lupa dia juga mencium pipi pria kesayangannya itu setelah papanya, kakaknya, dan pamannya. Louis hanya bisa masuk ke daftar pria kesayangannya bukan pria tersayang.
"Hmmmm, katakan ada apa?" Louis membalas pelukan Friday dan mencium keningnya.
"Tadi Sarah meneleponku, katanya Alexa hamil" jawab Friday.
"Baguslah" kata Louis.
"Bagus apanya? Aku bilang Alexa hamil" kata Friday sedikit membentak. Dia melepaskan diri dari pelukan Louis.
"Kata Sarah, dari hasil USG yang dikirimkan ke Christian, dia hamil 5 minggu" jelas Friday.
"Bagaimana bisa?" tanya Louis lagi.
"Pertanyaan macam apa itu? Kenapa bisa? Ya tentu saja mereka melakukannya 5 minggu lalu. Ishhhhhh kayak anak kecil aja, itu aja ga tau" Friday bersungut.
"Tapi kan" Louis belum melanjutkan perkataannya tapi Friday sudah memotongnya.
"Sepertinya masalah akan semakin rumit, mereka sudah bergerak dan ku pikir kita harus segera pulang. Aku juga tidak mungkin bisa menahan Christian lebih lama lagi terjebak dalam pertunangan ini. Ini artinya kakek dalam bahaya" ungkap Friday.
Louis kembali membawa Friday ke dalam pelukannya. Dia menepuk nepuk pelan punggung Friday untuk menenangkan wanita yang telah menemaninya selama 3 tahun ini.
"Tenanglah, ada aku yang akan menjagamu" kata Louis berharap bisa membuat Friday tenang tapi malah sebaliknya.
"Bagaimana aku bisa tenang, habis kakek, mereka pasti akan mengincarmu. Bagaimana bisa kamu melindungi kami, bahkan nyawamu terancam. Bisakah kita berhenti saja?" tanya Friday dengan air mata yang telah mengalir di pipinya.
Louis menangkup wajah Friday dan mencium bibirnya. "Shhhhh. Jangan menangis, semua akan baik baik saja, percaya padaku. Tahan sebentar lagi, kami sudah mengumpulkan sedikit demi sedikit bukti. Kamu dan Grant akan baik baik saja, aku akan melindungi kalian dengan nyawaku".
Friday menggelangkan kepalanya. "Tidak, jangan bertaruh nyawa demi aku. Aku bertaruh nyawa hanya untuk melihatmu hidup dan terus bersamaku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Jika aku kehilanganmu, untuk apa aku melakukan semua ini, semua akan jadi sia sia" Friday semakin terisak.
Louis terkekeh, dia senang mendengar pengakuan Friday yang bahkan rela bertaruh nyawa untuknya tapi juga sedih di saat bersamaan. Lihatlah bukan dia yang bergerak melindungi wanitanya tapi si wanita yang melindungi prianya.