Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Terkuak



Amora melihat Alexa saat ini sama seperti kerang, terlihat keras diluar tetapi nyatanya sangat lunak di dalam. Amora masih setia menunggu Alexa siap menceritakaan apa yang terjadi 2 tahun lalu. Alexa memberanikan diri untuk menceritakan apa yang telah dia alami di hotel waktu mereka berlibur di kota X. Bukannya membawa kebahagiaan seperti yang mereka harapkan malah menambah penderitaan.


"Maaf Mor, aku tidak sebaik yang kamu pikirkan selama ini. Aku menolak untuk dijodohkan dengan kak Louis bukan karena keadaan kak Louis tapi karena keadaanku yang seperti ini. Aku memiliki sebuah rahasia yang akan membuatmu benci bahkan jijik melihatku". Amora mengerutkan dahinya semakin bingung dengan kejadian apa yang yang telah menimpa sahabatnya ini.


"Dua tahun lalu tepat malam saat pesta ulang tahun hotel diadakan, Friday dan Frizzy meminum Limoncello yang sudah tercampur obat perangsang dan sepertinya Kelvin juga meminumnya. Saat itu kami terpisah karena aku dan Shelly ingin merasakan bagaimana euforia club malam dan menari di lantai dansa, jadi aku dan Shelly tidak minum minuman itu. Kami berdua hanya minum bir, karena kami belum pernah minum sebelumnya jadi kami sedikit mabuk". Christian masih menyimak, bagaimana pun kejadian di hotelnya dulu adalah kesalahan mereka.


"Pesta belum selesai tapi kami memutuskan untuk segera kembali ke kamar hotel karena melihat gelagat aneh dari para lelaki di sekitaran kami yang ingin mengajak kami bercinta. Tidak lama setelah itu Friday dan Frizzy juga mengalami hal yang sama, selain mereka mabuk mereka juga kepanasan dan mulai bergerak kelisah menyentuh bagian dadanya. Di situ kami menyadari ada yang tidak beres dengan minuman itu dan segera meninggalkan rooftop".


"Saat kami menunggu lift, Shelly kebelet pipis dan dia ke toilet terlebih dahulu, jadi yang menuntun Friday ke kamar saat itu hanya aku. Kelvin dan Frizzy sibuk berciuman sepanjang jalan. Walaupun sesekali Kelvin sadar dan menghentikan perbuatannya sesaat".


"Aku terus menuntun Friday sampai ke lantai 16, dan menyadari Frizzy dan Kelvin tidak ikut masuk lift dengan kami. Sebelum mencapai kamar, ada sebuah tangan membekap mulutku dan menyeretku pergi meninggalkan Friday yang mabuk dan sedang dikuasai obat perangsang. Aku meronta dan melawan tapi tidak berhasil, tenaganya lebih besar dariku"


"Aku dibawa ke sebuah kamar dan dia segera menguncinya. Aku diperlakukan secara kasar, dia menyeretku dan mendorongku hingga terjatuh di tempat tidur. Dia mulai menyentuhku, menciumiku dengan kasar dan brutal. Dia bahkan merobek baju yang ku kenakan. Aku melawan sekuat tenaga tapi dia tidak melepaskanku. Semakin aku melawan semakin dia berbuat kasar, mencambak rambutku, menampar pipiku bahkan meremas dan memukul dadaku".


"Saat itu aku tau bahwa melawannya hanya buang buang tenaga dan percuma, bahkan akan semakin menyakiti tubuhku jadinya aku diam dan berserah. Dia melucuti semua yang aku kenakan dan menyentuh setiap inci tubuhku. Aku menutup mataku berharap semua cepat berlalu dan hanya mimpi tapi ternyata tidak. Semuanya nyata, benar benar nyata. Dia menarikku dari tempat tidur secara kasar dan memaksaku berlutut".


"Dia memaksaku untuk membuka mulutku dan memasukkan Mr P nya ke dalam mulutku. Dia memaju mundurkan pinggulnya di depan wajahku dan menarik kasar rambutku agar aku mengikuti gerakan pinggulnya. Erangan dan de*sahan yang keluar dari mulutnya masih terngiang di telingaku hingga saat ini. Dia baru melepaskan rambutku dari cengkramannya dan Mr P nya dari mulutku setelah aku muntah".


"Tapi penderitaanku tidak sampai di situ, karena setelahnya dia menyeretku kembali ke tempat tidur. Dia mulai memasukkan Mr. P nya ke Ms V ku dengan kasar dari belakang. Dia kembali menarik rambutku dengan kasar dan menciumiku. Dia menampar bokongku, mencekikku dan mencengkram kuat tanganku. Dia memper*kosaku secara kasar dan brutal. Dia melakukannya tidak hanya sekali, aku disetu*buhi berkali kali. Bahkan aku pun tidak tau kapan dia berhenti karna saat aku terbangun, tidak terlihat siapapun di kamar itu. Sekujur tubuhku sangat perih dan sakit, bahkan meninggalkan bekas luka dan lebam".


"Lex, kenapa kamu tidak menceritakannya kepada kami dulu? Kamu anggap kami apa hah? Kamu mengalami kesulitan dan bahkan diper*kosa, tapi kami tidak tau apa apa. Kenapa kamu menanggungnya hanya seorang diri? Aku memang sahabat yang tidak berguna" Amora ikut menangis bersama Alexa. Dia merasa bersalah karena tidak ada saat temannya menderita bahkan tidak tahu menahu tenang kejadian itu. Mereka hanya fokus dengan hilangnya Jeanne dan Friday.


Amora juga menyadari bahwa setelah menikah, waktunya untuk para sahabatnya hampir tidak ada. Fokusnya benar benar hanya untuk suaminya, bahkan acara meet up mereka yang hanya sebulan sekali dan hanya 2 jam saja, Amora tidak bisa menyisihkan waktunya. Dia hanya ikut meet up sebanyak 5 kali dalam setahun. Dia bahkan melewatkan banyak hal yang biasa mereka lakukan dulu waktu di asrama. Itu adalah janji mereka agar tetap kompak, dan saling membantu.


Christian yang juga mendengarkan semua kisah si perempuan teman Amora itu juga merasa bersalah, karena kejadian itu terjadi di hotel miliknya dan itu adalah kelalaian dan kesalahan mereka sebagai pengurus hotel yang tidak bisa menjamin dan menjaga keamanan hotel. "Bahkan aku juga menghancurkan hidup dan masa depan gadis lain" kata Christian dalam hatinya.


"Jangan menyalahkan diri Mor, aku hanya tidak ingin membebani kalian dengan masalahku" jawab Alexa menenangkan Amora yang merasa bersalah atas ketidaktauannya.


"Lihat bahkan kamu yang menenangkanku, padahal kamu yang lebih membutuhkannya. Bahkan dulu aku sempat mengecammu dalam hati. Aku berpikir kalau kamu sangat lebay saat itu. Kamu menangis hingga matamu membengkak, bahkan tidak nafsu makan hanya karena kehilangan gelang". Amora menghela nafasnya panjang, tersirat banyak penyesalan di setiap hirupan nafasnya.


"Shelly sangat kesulitan untuk mengurusmu. Menurutku kamu sangat egois saat itu karena tidak merasa simpati dengan Jeanne dan Friday yang menghilang tanpa jejak. ternyata kamu mengalami kejadian yang mengerikan itu. Bahkan aku tidak peka dan tidak mau tau dengan keadaanmu. Maafkan aku Lex" Amora menangis menyesali perbuatannya dulu.


"Jangan menangisi itu lagi Mor, semua sudah berlalu. Tadi kita sudah sepakat untuk melupakannya kan. Sebenarnya aku juga sedih karena kehilangan gelang itu. Kamu tau kan itu gelang sangat spesial untuk persahabatan kita. Walaupun harganya tidak seberapa tapi itu sangat berarti bagiku, apalagi itu dibeli dengan uang hasil jerih payahku sendiri" kata Alexa.


………………………………………………………………………………


Jangan lupa Subscribe, Like dan Comment ya genk kalo bisa vote dan gift jg hehehe...Lafyutu