
Mendengar jawaban Friday, Louis tertawa bahagia. Dia merutuki kebodohannya yang sempat berfikir jika Titan adalah nama lelaki lain yang Friday sukai.
"Nackal....arkkk dasar nakal. Kamu membuatnya menegang sayang. Sekarang bagaimana aku bisa menenangkannya kalo sudah begini. Pokoknya kamu harus tanggung jawab jika kita sudah bertemu kembali" Louis mengarahkan kameranya ke pangkal pahanya dimana si Titan bersemayam. Gundukan itu terlihat semakin besar karena si Titan sedang bangun.
Friday hanya tertawa melihat mainan barunya yang dia beri nama Titan itu menegang. "Siapa takut?" tantang Friday.
"Aku merindukanmu. Andai kamu di sini aku akan senang" ucap Louis lagi. Keduanya kemudian terdiam saling menatap wajah melalui layar telepon genggamnya.
"Fri.." panggil Louis.
"Iya kak" jawab Friday.
"Tadi aku bertemu dengan Sarah. Dia hamil dan dia mau menggugurkan kandungannya. Apa yang harus kita lakukan? Aku bingung. Christian adalah adikku yang berarti bayi yang dikandungan Sarah adalah keponakanku. Bagaimana bisa aku menyetujui ide gila Sarah untuk melenyapkan bayi itu? Aku benar benar bingung" ungkap Louis.
"Apa alasan Sarah ingin menggugurkan bayinya?" tanya Friday.
"Dia bilang dia tidak mampu, dia tidak memiliki keluarga yang akan mengurus dan menemaninya. Apalagi kehamilannya ini menyiksanya, dia bedrest di rumah sakit sekarang karena morning sickness yang dialaminya" jawab Louis.
"Jadi apa yang kakak sampaikan padanya mengenai pendapatnya itu?" tanya Friday lagi.
"Aku bilang biar dia memikirkannya kembali. Setelah dia yakin akan keputusannya, aku tidak akan menghalanginya" jawab Louis. Friday menganggukkan kepalanya.
"Kak..." panggil Friday.
"Hmmmm" Louis berguman.
"Aku mengirimkan sesuatu untukmu. Besok terima paket dari kak Sunday ya" pesan Friday.
"Paket apa?" tanya Louis balik.
"Lihat saja besok" jawab Friday.
"Kasih tau sekarang saja isinya apa, aku penasaran benda apa yang membuatmu sampai mengirimkan paket dari sana" balas Louis.
Friday tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Lihat besok aja" titahnya.
"Fri apa kamu baik baik saja? Dari tadi ku perhatikan wajahmu terlihat berbeda" tanya Louis.
"Aku baik baik saja kak, itu mungkin karna aku tidak pakai riasan apa pun di wajahku makanya sedikit berbeda" jelas Friday. Louis mengangguk.
"Aku mencintaimu" ucap Louis mengakhiri panghilan video call mereka.
"Selamat istirahat kak" balas Friday.
Keesok harinya, Sunday mengirimkan paket yang dipesankan oleh Friday kepada Louis. Mama Sita menerima paket itu dan menyerahkannya pada Louis.
"Bagaimana aku bisa tau apa yang Sunday kirimkan mama, aku kan belum membukanya" jawab Louis.
"Apakah kamu sedekat itu dengan Sunday?" tanya Sita lagi.
"Maksud mama?" tanya Louis balik karna tidak mengerti maksud mamanya.
"Dia sampai mengirimkan paket berarti kalian dekat kan?" tanya Sita memastikan hubungan Sunday dan Louis.
"Iya bisa dibilang kami cukup dekat" balas Louis.
"Mama dengar dan baca gosip mengenai Sunday, katanya dia playboy Lo" kata Sita.
"Jadi kalau dia playboy, mama akan melarangku dekat dengannya? Mama dapat gosip yang belum tentu benar itu dari mana sih?" tanya Louis.
"Bukan gitu Lo, mama tidak melarangmu bergaul dengannya justru mama senang. Karena dia playboy pasti dia mengerti bagaimana caranya menggoda wanita dan mendapatkan pacar dengan gampang dan cepat. Mama mau kamu belajar darinya cara dekat dengan wanita agar kamu segera punya pacar" jelas Sita maksud dan tujuannya.
Louis meninggalkan mamanya tanpa kata sedikitpun. Sita berteriak memanggil anaknya tapi tidak dihiraukan.
"Astaga anak itu semakin hari semakin dingin, kapan aku bisa melihatnya menikah kalau begini" Sita mulai meresahkan masa depan Louis lagi.
Louis pergi meninggalkan rumahnya menuju kampus dimana dia mengajar. Dia membawa paket yang baru saja dia terima. Ini adalah hari terakhir Louis mengajar di kampus itu, dan hari ini ada acara farewell.
Setelah mengikuti acara farewell di kampus, kini Louis secara resmi bukan lagi staff pengajar di kampus itu. Di parkiran kampus, dia membuka paket yang Friday kirimkan padanya. Paket itu berisi sebuah access card kamar hotel.
Segera Louis mengemudikan mobilnya ke hotel yang tertera di access card itu. Jika itu dari Sunday dia pasti tidak akan pergi ke sana tapi karena itu dari Friday, tidak akan masalah menurutnya. Walaupun masih bertanya tanya dalam hati untuk apa Friday memesankan sebuah kamar hotel untuknya.
Sesampainya di hotel, dia segera menuju kamar hotel itu. Dia memasuki kamar dengan access cardnya. Di dalam kamar terdapat sebuah box, Louis membuka box itu dan melihat isinya.
Louis merasa sangat campur aduk mendapatkan hadiah itu. Perasaannya tidak bisa diungkapkan dengan kata kata lagi. Bahagia campur haru bahkan rasa sedih menyelimutinya hari ini. Kesedihan harus meninggalkan pekerjaan yang dia sukai dan kampus tempat dia berbagi ilmu. Tapi ada kebahagian dimana dia akan tetap bersama dengan istrinya. Sekarang ada rasa haru karena mendapat hadiah dari Friday.
Tiba tiba terdengar suara muntah dari dalam kamar. Louis heran kenapa bisa ada suara di kamar yang dipesankan oleh istrinya. Louis dengan perasaan was was mengecek kamar. Dia tidak mendapati seorang pun di dalam kamar tapi suara itu semakin jelas terdengar. Louis mencari ke sekeliling dan menemukan sebuah tas. 'Berarti ada orang' pikirnya. Louis mengikuti arah suara dari dalam toilet dan melihat keadaan toilet yang terbuka. Dia memasuki toilet dan mendapati seorang perempuan yang sedang berjongkok di depan toilet duduk dan berusaha mengeluarkan isi perutnya.
Dia terkejut melihat perempuan itu. "Sayang" panggilnya. Dia mendekat kepada istrinya yang sedang muntah. Friday menoleh sebentar tapi kemudian melanjutkan muntahnya. Friday merentangkan satu tangannya ke arah Louis.
"Jangan ke sini" larang Friday pada Louis. Tapi Louis tidak menghiraukannya. Louis mendekatinya dan membantu Friday yang sudah kacau.
Louis mengusap punggung Friday dan tangan satu lagi menahan rambut Friday yang tergerai. Setelah selesai muntah Louis mendudukkan Friday di atas toilet duduk dan membantu Friday berdiri dan melap mulutnya yang basah. Tidak lupa Louis juga membersihkan sisa muntahan Friday.
Louis menggendong Friday di depan seperti baby koala meninggalkan toilet. Friday menyandarkan kepalanya di ceruk leher pria yang sangat dirindukannya itu.
Louis duduk di sofa dengan Friday yang masih berada digendongannya. Kedua tangannya mengusap punggung Friday. Berangsur Friday menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, dia malu. Seharusnya dia memberikan kejutan yang manis pada suaminya tapi dia mengacaukannya. Suaminya malah melihat wajahnya yang jelek saat memuntahkan semua isi perutnya.
"Mau minum?" tawar Louis. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Louis meraih air mineral yang ada di meja lalu membukanya dan memberikannya pada Friday. Setelah minum, Friday kembali menyandarkan kepalanya di dada Louis.