
Jeanne yang bertugas untuk mengatur segalanya segera menginstruksikan semua anggota untuk memasuki kendaraan yang akan membawa mereka ke hotel. Hotel tempat mereka menginap nanti adalah milik sepupu Leo.
Sesampainya di hotel, Jeanne segera menemui resepsionis untuk meminta kunci kamar hotel. Dia sudah melakukan booking jauh hari melalui aplikasi. Setelah mendapatkan kunci kamar hotel berupa kartu, Jeanne menyerahkan kunci kepada teman temannya.
"Ini kunci kamar masing masing, pembagian kamar sesuai dengan pembagian taxi tadi pagi" kata Jeanne.
"Astaga bosan lihat muka Frizzy mulu" keluh Friday.
"Lu kira gue ga bosan, ga bisa ganti kamar ya?" tanya Frizzy.
"Tenang cynnn...kan ada aku, kalau kamu bosan lihat ke kiri, kamu masih bisa lihat wajahku di sebelah kanan" kata Jeanne menengahi.
"Kok kalian pada berantem sih. Tiada hari tanpa ribut" kata Alexa.
"Tau nih Frizzy dan Jeanne ribut mulu, heran deh" jawab Friday.
"Lah yang berantem kamu dan Frizzy Fri...napa bawa bawa Jeanne" kata Alexa.
"Kasian Jeanne yang harus jadi korban, ngurus kalian mulu" tambah Shelly.
"Begitulah yang kurasakan selama ini gaes. Jeanne semangat mengemban tugas mulia ini ya. Semoga kamu betah mengurus dua bayi besar itu" kata Amora dan disambut gelak tawa semua orang.
"Serius nanya nih, aku ga bisa pindah kamar?" tanya Frizzy lagi memastikan.
"Boleh sih, tapi kamu satu kamar dan tidur bareng Kelvin ya. Hanya itu kamar yang tersisa dan siap menampungmu dengan senang hati" jawab Jeanne. Semua semakin tertawa apalagi melihat wajah Frizzy yang semakin murung.
Setelah itu mereka menuju kamar mereka masing masing di lantai yang sama dan bersebelahan juga. Mereka akan kumpul kembali pada malam hari untuk makan malam bersama. Sisa hari ini diisi dengan kegiatan bebas, mau tidur, mau renang, jalan jalan, makan dan lain lain bebas.
Sementara di tempat lain, Wetennov dan Kirein sedang berada di restoran hotel yang sama dengan Friday. Mereka sedang menunggu pemilik hotel untuk melakukan meeting pengembangan hotel menggunakan perusahaan konstruksi milik Alcantara.
"Berapa lama kita di kota ini Kiran?" tanya Tennov.
"Saya Kirein bozz bukan Kiran" jawab Kirein.
"Beda dikit aja udah nyolot...santai aja dong" balas Tennov lagi.
"Sebenarnya pertemuan kita dengan pemilik hotel hanya hari ini dan besok pagi tapi kita harus menghadiri pesta ulang tahun hotel yang diadakan 3 hari lagi, karena kita juga diundang. Sebagai client yang baik, tentu kita harus hadir bozz" jawab Kirein.
"Kalau pesta yang formal dihadiri sekumpulan pengusaha penjilat itu, demi neptunus dan pluto aku tidak mau datang. Tolak saja, atau kamu bisa hadir mewakili" kata Tennov. Tennov tipe orang yang kaku tapi tidak pernah suka dengan orang bermuka dua.
"Tenang bozz, pestanya diadakan 2 kali, besok khusus para pemegang saham dan perusahaan yang bekerja sama dengan mereka dan 3 hari lagi khusus anak muda. Jadi kita akan menghadiri pesta khusus anak muda" jelas Kirein.
Wajah Wetennov mulai mengernyit tidak suka tapi buru buru Kirein menyela sebelum Wetennov melayangkan protesnya. "Saya sudah cek semua jadwal kita dan minggu ini kita luang bozz. Jadi kita 4 hari atau bahkan 5 hari di sini sekalian kita tinjau lapangan tidak akan masalah. Percayalah" ucap Kiren meyakinkan.
"Saya jamin pesta ini akan dihadiri banyak gadis gadis bozz, siapa tau ada yang mau diajak ke atas ranjang berkeringat bersama" sambung Kirein.
"Lumayan kan cuci mata. Saya kan normal bozz, dan itu kebutuhan semua pria. Apa jangan jangan bozz itu cemburu sama saya? Hmm... bozz suka sama saya? Kenapa selama ini bozz hanya mau ditemani olehku, dan tidak pernah sekalipun betah dengan perempuan?" tanya Kirein mulai ragu dengan orientasi se*ks sang bozz.
"Apa? Aku normal ya jangan mengada ada kamu ya" jawab Wetennov.
"Sial sekali hari ini, harus naik pesawat ekonomi, dipandangi mata rakyat jelata dan sekarang dikatain gay*? Semoga para leluhurku tidak marah" guman Wetennov.
"Bozz sepertinya itu nona Friday, keponakanmu" kata Kirein sambil menunjuk arah Friday berada.
"Ngapain anak nakal itu ke sini?" tanya Wetennov.
"Mana saya tau, anda kan pamannya bozz bukan saya" jawab Kirein.
"Ckck" Wetennov hanya bisa berdecak kesal dengan asistennya itu. Tapi benar juga kata asistennya itu, dia kan pamannya, mestinya dia lebih tau.
Wetennov langsung menghampiri Friday yang kebetulan di restoran yang sama dengannya. Friday pamit kepada teman temannya untuk makan terlebih dahulu karena tadi di pesawat dia tidak menyentuh makanannya sama sekali. Katanya bukan seleranya.
"Hai cewek, godain kita dong" kata Wetennov usil.
Friday yang sedang menyantap makanannya langsung menghentikan aktivitasnya dan meletakkan sendoknya di sisi piringnya. "Ck..bahkan an*jing yang sedang makan saja tidak boleh diganggu, beraninya kau?" kata Friday tanpa melihat ke arah pria yang menggodanya.
"Oho...ajaran sesat siapa itu?" kata Wetennov sambil menarik telinga keponakannya yang sungguh amat sangat nakal itu. "Dasar kamu gadis nakal" kata Wetennov lagi.
Friday kenal betul siapa pemilik suara itu, ya itu adalah unclenya yang paling protektif kepadanya diantara semua anggota keluarga Alcantara. "Uncle ngapain di sini? Kenapa uncle ikutin aku? Aku udah dewasa, udah bisa jaga diri, ga perlu pengawasan dari uncle. Lagian aku udah izin dari mama papa" Friday malah berbalik marah kepada unclenya. Friday pemengang prinsip: Sebelum kamu dimarahi, lebih baik marah terlebih dahulu.
Wetennov melepaskan jeweran tangannya dari telinga keponakannya yang nakal. "Jadi anak jangan kepedean begitu. Uncle ke sini untuk urusan bisnis, uncle juga baru tau kalau kamu di sini itupun karna Kirein yang melihatmu. Siapa yang bakalan mengira kalau anggota keluarga Alcantara berbaur dengan rakyat jelata" jelas Wetennov yang tidak mau dituduh sebagai penguntit keponakannya sendiri.
"Ya udah sana uncle pergi, urusin bisnisnya. Hasilkan uang yang banyak agar aku bisa berfoya foya" usir Friday.
"Ck...menyebalkan, jangan berbuat ulah ya. I'm watching you" kata Wetennov dengan menggerakkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke arah matanya lalu ke arah Friday.
Ternyata Jeanne datang menyusul Friday ke restoran. Jeanne sempat melihat perdebatan diantara Wetennov dan Friday. Dari kejauhan mereka seperti bertengkar, buru buru Jeanne menghampiri Friday yang masih santai menyantap makannya setelah Wetennov pergi.
"Fri, tadi siapa yang bertengkar denganmu? Apa yang kalian ributkan?" tanya Jeanne.
"Ntahlah, hanya orang biasa. Aku juga ga kenal tuh. Bukan apa apa, santai aja. Lagian dia duluan kok yang mengganggu" kata Friday tidak mengakui pamannya.
"Ckck...aku tau kalau pasti kamu yang berbuat salah duluan..kamu kan tidak pernah lepas dari masalah. Sayang sekali kamu tidak kenal dengan lelaki itu. Dia pria tampan yang duduk di sebelahku tadi di dalam pesawat" jelas Jeanne.
"What? Modelan begitu kamu bilang tampan? Ckckc ada yang salah dengan penglihatanmu" kata Friday.
Sedangkan Wetennov setelah bertemu dengan keponakannya langsung meminta Kirein menginstruksikan dan menempatkan bodyguard untuk mengawasi keponakannya. Dari kemarin dia mempunyai firasat buruk. Firasatnya semakin besar apalagi setelah melihat Friday juga ada di kota ini. Dan Kirein langsung melaksanakan perinta bozznya itu.