Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Pulang



Amanda memanggil Sunday masuk kembali ke ruang kerjanya setelah Alexa berpakaian layak. Amanda meninggalkan mereka berdua di ruangannya agar lebih leluasa berbicara.


Sunday masuk langsung duduk di sofa menghadap Alexa saat ini duduk. Sunday ingin mencecar Alexa dengan banyak pertanyaan tapi melihat wajahnya yang masih pucat, Sunday menahan dirinya.


"Aku tidak akan menghakimimu hari ini, beruntung kamu bisa lepas. Aku sudah mencari tau apa yang terjadi dan kenapa kamu bisa sampai senekat ini".


"Lain kali kalau kamu begini lagi, aku tidak akan pernah mau membantumu. Bahkan aku sendiri yang akan menyewa banyak orang untuk menyantapmu secara bersama sama. Mengerti?" kata Sunday.


Alexa menganggukkan kepalanya yang telah tertuntuk dan makin menunduk, sungguh dia malu menghadapi Sunday. Rasa sesal di hatinya semakin besar karna ternyata banyak kasih sayang yang dia dapatkan dan baru menyadarinya hari ini.


Sunday melihat gelagat Alexa yang ingin menyampaikan sesuatu tapi diurungkan Alexa. Mungkin Alexa masih malu memulai duluan pikir Sunday, jadi Sunday yang berinisiatif menanyakan gadis itu, "Ada yang ingin kamu sampaikan?"


Alexa memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam untuk mengumpulkan keberanian. "Bisakah aku lebih tidak tau malu lagi? Ayo Alexa, mana keberanianmu tadi sebelum mendatangi tempat ini?" batin Alexa masih berperang.


"Sudahlah, kenapa mesti malu, perbuatanku tadi sudah sangat memalukan kenapa mesti malu lagi untuk minta tolong. Tidak apa apa, demi bapak dan ibu" batin Alexa lagi.


Setelah beberapa menit terdiam, Alexa menatap wajah Sunday dan mulai berbicara. "Kak, aku minta maaf atas kebodohanku tadi, aku lagi dalam kesulitan. Kakak pasti sudah tau apa yang terjadi kepada keluargaku kan? Aku mau minta tolong untuk kakak meminjamkan uang untukku, tapi itu dalam jumlah yang banyak. Aku akan bayar kembali dengan cara cicil. Bisa kakak menolongku?"


"Pulanglah..." kata Sunday. Sunday beranjak dari tempat duduknya menuju sudut ruangan. Sunday mengambil sebotol minuman yang ada di kulkas di ruangan itu lalu meminumnya.


Alexa langsung lemas seketika. Mengapa hidupku sebegitu menyedihkannya pikirnya. Kenapa Sunday mesti repot repot membantunya tadi kalau pada akhirnya Sunday tidak akan menolongnya soal orang tua dan luntah darat itu.


Kalau tau begini mending tadi Alexa menyerahkan tubuhnya dijamah oleh Pak Sunggokong. Setidaknya itu bisa mengurangi sedikit bebannya dengan bayaran yang dia terima.


Sekarang apa yang dia dapat? Nothing. Tidak ada. Eh bukan, dia dapat malunya saja.


Alexa kecewa dan sedih, tapi tidak tau harus bagaimana. Ingin marah tapi pada siapa pun Alexa tidak tau. Ingin menyerah tapi bagaimana nasib adik adinya selanjutnya terutama orang tuanya. Alexa dalam kegalauan dan kekalutan.


"Ekhemmm" Sunday berdehem membersihkan tenggorokannya yang serak dan kering.


"Kamu urus adik adikmu dulu. Mereka juga pasti sangat ketakutan. Tidak usah khawatir dengan para lintah darat itu, aku sudah membereskannya. Dan untuk biaya admistrasi dan perawatan rumah sakit orang tuamu juga sudah selesai. Jangan khawatir, everythings gonna be alright" sambung Sunday.


Ternyata tadi Sunday sempat berhenti menjelaskan karena tenggorokannya tiba tiba gatal dan tak sanggup meneruskan bicaranya. Kalian tau kan sebelum moment heroiknya menyelamatkan Alexa, Sunday sudah menghabiskan tenaganya untuk olahraga malam sambil berteriak dan mende*sah nikmat. Wajar saja tenggorokannya jadi gatal dan kering.


"Kak...." Alexa tidak bisa lagi melanjutkan kata katanya. Dia terharu dan berterima kasih banyak atas bantuan Sunday. Dia merasa terberkati dan bersyukur mempunyai kenalan yang sangat tulus dan baik. Ternyata berkat maupun rejeki tidak hanya sebatas harta atau yang melimpah, teman dan lingkungan sekitar yang baik juga merupakan berkat.


"Kenapa kau menahan diri untuk tidak menangis? Apa kau mau terlihat tegar dan kuat? Tidak apa apa jika kamu terlihat tidak baik baik saja" kata Sunday.


Lama Alexa menahan diri untuk tidak menangis dan terlihat cengeng di hadapan Sunday tapi ternyata tidak bisa. Air mata yang ditahannya tadi meleleh sudah membasahi pipinya.


Sunday sedang dalam mode narsisnya Dia berharap agar Alexa semakin menangis dan terharu dengan kebaikannya. Dengan begitu Sunday merasa orang yang paling berjasa dan sangat dibutuhkan. Padahal tanpa begitupun Sunday sudah diakui hebat oleh Alexa.


Amanda kembali masuk ke ruangannya bersama beberapa pelayan club yang membawa makan malam untuk mereka. Sunday menyambutnya dengan senyum sumringah secerah mentari.


Amanda melihat Alexa yang sesenggukan pun langsung bisa menebak bahwa itu ulah pemilik ular kadut pengunjung tetap guanya.


"Sudah ku duga kamu akan membuatnya menangis lagi. Kenapa sih sifatmu yang satu itu tidak bisa hilang? Menyebalkan sekali" kesal Amanda kepada Sunday tapi seperti biasa Sunday tak akan peduli.


Amanda mendekati Alexa dan memeluknya, Amnda juga mengusap punggung gadis itu. "Sudah ya, apapun yang dikatakan Sunday jangan masukkan dalam hati, anggap saja radio rusak yang lagi cari sinyal. Ayo kita makan dulu".


Para pelayan telah menghidangkan makanan di meja, Sunday begitu senang karena Amanda tau apa yang dia butuhkan saat ini. Kebetulan sekali dia sangat lapar.


"Terima kasih lov, kamu tau aja kalau aku sedang kelaparan. Kamu benar benar menguras tenagaku tadi" kata Sunday.


"Jangan kepedean ya, aku membawa makanan bukan karena tau kamu lapar tapi karna Alexa yang lapar" balas Amanda.


"Tapi tetap saja kamu membawa untukku juga" jawab Sunday.


"Iya, jadi berhentilah bicara. Segera habiskan makananmu" perintah Amanda.


"Suap aaa..." Sunday melebarkan mulutnya bersiap menerima suapan Amanda.


Tapi sayang, bukan suapan makanan yang dia terima tapi cubitan di pinggangnya. "Berhentilah bersikap seperti bocah, aku terlalu lelah untuk meladeni ketengilanmu hari ini" kata Amanda.


Akhirnya mereka bisa makan dengan tenang. Alexa sebenarnya bingung dengan kedua orang dihadapannya ini. Apa hubungan mereka? Kenapa bisa sedekat itu? Tapi buru buru Alexa menepis pertanyaan di kepalanya karena merasa itu bukan urusannya.


Setelah selesai makan malam yang terlalu malam itu, Sunday meminta salah satu pekerja di club untuk mengantarkan Alexa pulang. Sunday sendiri tidak bisa mengantarkannya karena ada urusan lain katanya.


Alexa langsung menemui adik adiknya ke dalam rumah begitu sampai di rumahnya. Alexa begitu miris melihat keadaan rumahnya yang hampir kosong karena sebagian barang telah hancur. Puing puing barang yang hancur sudah dibersihkan ketiga adiknya dibantu juga oleh para anak buah Sunday.


Adik adiknya langsung berhamburan memeluk kakaknya dan mereka menangis. Dia merasakan bahwa adiknya begitu menderita dan ketakutan. Ternyata ketakutannya tadi tidak sebanding dengan ketakutan adik adiknya, dia pun ikut menangis memeluk adiknya dengan erat. Benar kata Sunday, dia harusnya pulang dan menenangkan adik adiknya.


………………………………………………………………………………


Jangan lupa Subscribe, Like dan Comment ya genk kalo bisa vote dan gift jg hehehe...Lafyutu