Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Mengulur Waktu



Alexa menangis sejadi jadinya di dalam ruang rawat inap yang ia tempati. Untungnya Alexa ditempatkan di ruang VIP oleh Caleb, jadi tidak akan ada yang terganggu dengan tangisannya. Dia menumpahkan segala kesesakan yang selama ini menghimpit di dalam dadanya. Meratapi nasib yang tidak pernah berpihak padanya. Kembali teringat kejadian tadi, seharusnya ini malam pertunangannya tapi Friday yang hilang entah kemana beberapa tahun ini kembali dan merebut posisinya. "Ah kenapa dia selalu beruntung" teriaknya frustasi.


Lelah dengan tangisannya, dia membaringkan tubuhnya di brankar pesakitan. Dia meletakkan kedua tangannya di perutnya seperti sedang memeluk anaknya. "Apa pun akan mama lakukan untuk mempertahankanmu. Berikan mama kekuatan agar bisa lari dari papamu. Mama tidak mau kehilanganmu seperti apa yang terjadi pada kakakmu. Mama menyayangimu" ucapnya kepada calon bayinya berharap calon bayinya mendengarkannya.


Alexa tertidur karena kelelahan, dengan mata yang sembab dan wajah yang bengkak karena kebanyakan menangis. Dalam tidurnya, dia merasakan sebuah tangan mengusap kepalanya. Pelan pelan dia membuka matanya sedikit saja untuk mengintip siapa pelakunya yang ternyata adalah Caleb, Alexa pura pura tidur. "Ternyata dia kembali" pikir Alexa.


"Maafkan aku, aku harus kembali memintamu menggugurkan kandunganmu. Aku hanya merasa jika aku tidak akan bisa menjadi ayah yang baik untuknya. Aku terlalu jahat, aku tidak mau dia yang menanggung segala karma karena perbuatanku di masa lalu dan rencana jahatku di masa depan" ucap Caleb mengakui alasan dia tidak ingin memiliki anak.


Mendengar alasan Caleb yang sebenarnya membuat Alexa ingin menangis tapi sebisa mungkin dia menahannya. Caleb menyingkap pakaian yang Alexa gunakan dan mengelus perut putihnya tempat benihnya kini bersemayam. "Maafkan papa yang tidak memberikanmu kesempatan untuk lahir ke dunia. Papa sadar tidak bisa memberikan dunia yang damai padamu, jadi papa pikir lebih baik jika kamu tidak hadir di dunia ini. Papa mencintaimu, dan karena cintaku mendorong papa melakukan ini" Caleb tidak sanggup melanjutkan kata katanya. Dia menangis sambil menciumi perut Alexa.


Alexa mele*guh seperti terusik dalam tidurnya sehingga Caleb berhenti menciumi perutnya. Alexa menggaruk badannya yang tidak gatal dan membalikkan badannya untuk membelakangi Caleb. Alexa sudah tidak kuat menahan tangisnya. Kenyataan bahwa Caleb menyayangi calon bayinya sungguh membuatnya terharu. Alexa menaikkan selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya beserta kepalanya. Di dalam selimut dia menggigit tangannya agar suara tangisnya tidak terdengar oleh Caleb.


Caleb yang tidak tau bahwa Alexa sudah bangun dari tidurnya dari tadi mengelus lengan Alexa dari balik selimut. Caleb bangkit berdiri dan membungkukkan tubuhnya hingga condong ke depan untuk menjangkau kepala Alexa yang dibungkus selimut. Dia mencium pucuk kepala Alexa. "Tidurlah yang nyenyak, aku mencintaimu" ucap Caleb sangat lirih bahkan Alexa di balik selimut pun tidak bisa mendengarnya.


Caleb membaringkan tubuhnya di sofa yang disediakan di ruang rawat Alexa. Tidak lama kemudian dia tertidur dengan sangat lelap. Sangking lelapnya Caleb sampai mengorok sehingga Alexa berani membuka selimut dari kepalanya dan melihat ke seluruh ruangan. Dia mencari keberadaan Caleb dari arah suara orok Caleb dan mendapati jika Caleb sudah tertidur di sofa. Ada perasaan hangat yang menghinggapi hatinya.


Tadinya dia ingin lari dari Caleb karena merasa Caleb tidak peduli dan hanya memanfaatkannya untuk memenuhi hawa naf*sunya. Dia ingin berlari sejauh mungkin agar terlepas dari Caleb dan bisa melahirkan anaknya. Hatinya goyah kembali, dia melupakan Christian lelaki yang membuatnya nyaman. Hatinya kembali memilih Caleb yang selama ini memberinya kemewahan dan kenikmatan di ranjang.


"Benar kata Friday dulu, jika aku masih memilih menetap di kota yang sama dengannya maka rantai yg mengikat leherku akan semakin kuat. Harusnya dulu aku pergi ketika ada kesempatan" batinnya. Tapi dia tidak menyesal dengan keputusan yang dia ambil.


"Ayo nak, bantu mama merubah pikiran papamu" Alexa kembali berkata pada calon bayi yang sedang ada di dalam perutnya itu.


"Aku akan mengulur waktu hingga kamu mau menerimaku dan calon bayi kita" guman Alexa masih memandangi Caleb. Alexa kembali memejamkan matanya, jika tadi dia dengan wajah sembab karena menangis kali ini dia tidur dengan wajah tersenyum.


Pagi pagi sekali Caleb terbangun dari tidurnya, dia memandangi seluruh ruangan dan baru tersadar jika dia tidur di ruang inap Alexa. Buru buru dia bangun dan tak sengaja menjatuhkan telepon genggamnya hingga menimbulkan bunyi berisik. Dia melihat ke arah Alexa dan bernafas lega karena Alexa tidak terusik sama sekali.


Caleb mengambil telepon genggamnya dari lantai dan menyimpannya di saku celananya. Dia bangit berdiri dan pergi menuju pintu keluar, tapi menoleh kembali ke arah Alexa. Dia menghampiri Alexa mengecek kondisinya. Sebelum benar benar meninggalkan Alexa, dia mengecup kening Alexa dan membelai rambutnya. Caleb pergi meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya.


Begitu terdengar suara pintu yang tertutup, Alexa membuka matanya. Dia sudah bangun saat Caleb menjatuhkan telepon genggamnya. Dia memegang kening bekas bibir Caleb, hatinya sangat senang. "Setidaknya dia memiliki sedikit rasa peduli untukku" batinnya.


Pukul 9 pagi, Caleb datang lagi menemui Alexa di rumah sakit. Alexa sudah diperbolehkan untuk pulang jadi Caleb datang menjemputnya. Dengan wajah datar, Caleb memintanya untuk segera bersiap pulang ke apartemen. Alexa langsung bergegas tidak ingin membuat Caleb menunggunya lama. Caleb menyelesaikan seluruh administrasi di rumah sakit dan membayarkan biaya Alexa selama di rawat di sana. Dia mengabaikan saran dokter untuk memeriksa kandungan Alexa ke dokter spesialis kandungan.


Caleb membawa Alexa pergi keluar dari rumah sakit. Di perjalanan mau pulang, Caleb menyempatkan untuk mengajak Alexa makan di restoran. Setelah kenyang, mereka melanjutkan perjalanan dengan hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing masing.


Sesampainya di parkiran apartemen, Alexa hendak turun tapi ditahan oleh Caleb. "Segera kabari aku jika kamu sudah siap untuk melakukan abo*rsi" pinta Caleb. Ingin rasanya Alexa menangis tapi dia menahan diri. "Beri aku waktu untuk bersiap. Bulan ini hingga bulan depan aku ada pelatihan dari dinas pendidikan. Dan di kampus juga sedang dalam masa ujian penerimaan mahasiswa baru. Sebagai wakil rektor di bidang kemahasiswaan, aku bertanggung jawab dalam semua proses penerimaan mahasiswa baru. Jadi aku belum bisa cuti lama" Alexa tentu saja menolak permintaan Caleb. Tapi untungnya Alexa punya alasan yang masuk akal untuk mengulur waktu hingga Alexa bisa mengubah keputusan Caleb.


"Baiklah" Caleb menyetujuinya. Caleb mengantarkan Alexa hingga ke apartemen tempat Alexa tinggal. Mereka mendapati jika Christian sudah berada di sana. Alexa mengabaikan Christian begitupun dengan Caleb. Caleb langsung pergi tanpa menggubris Christian yang bertanya padanya.