Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Bab 149



"Sudah ku bilang tidak apa apa. Sudah ya, jangan menangis lagi. " ucap Louis pada istrinya.


"Kakak istirahat saja, kamu pasti lelah habis perjalanan jauh dan merasa jetlag. Belum lagi selama perjalanan kamu membantuku, tidak ada istirahatnya sama sekali" pinta Friday.


Louis tersenyum. "Tidak. Kamu pasti jauh lebih lelah dariku jadi istirahatlah" suruh Louis.


Louis merangkak ke atas tubuh Friday dan mengungkung tubuh istrinya di bawahnya. Kemudian dia bencium kening istrinya, berlanjut ke hidung, mata hingga bibir. Louis menyingkap daster milik Friday dan masuk ke dalam daster itu. Dia menciumi perut Friday yang masih rata itu.


"Hey boy, jangan membuat mommymu lelah. Lihatlah mommy sampai harus dirawat di rumah sakit" Louis mengajak anaknya berbicara.


"Boy?" tanya Friday heran.


"Iya. Dia anak laki laki" jawab Louis.


"Dari mana kakak tau? Umur 6 minggu belum bisa ditentukan jenis kelaminnya. Jangan mengarang" balas Friday.


"Dia memberitahuku kemarin saat aku mengunjunginya" jawab Louis. Friday tertawa karenanya.


"Sebenarnya aku berharap dia bayi perempuan Fri tapi kenyataannya dia laki laki. Kalau dia perempuan pasti akan sangat menggemaskan seperti mommynya. Tapi bagus juga dia laki laki karena aku tidak perlu khawatir kalau dia sudah besar akan bertemu banyak bad boy di luaran sana" jelas Louis.


"Bagaimana denganmu? Kamu berharap dia laki laki atau perempuan?" tanya Louis.


"Sebenarnya laki laki atau perempuan sama saja kak. Tapi karna kakak sudah bilang dia laki laki, aku berharap dia akan mirip denganku. Aku ingin melihat sosokku dalam versi laki laki, seperti mama dan kak Sunday" jawab Friday. Louis menatap istrinya dalam lalu kembali mensejajarkan wajahnya dengan Friday.


"Ah...kenapa kamu semakin cantik" Louis langsung melummat bibir Friday. Friday membalasnya tak kalah semangat dari suaminya.


Seminggu ini mereka habiskan beristirahat di rumah sakit. Seharusnya mereka bisa pulang dalam 3 hari tapi karena Louis juga mengalami gejala morning sickness mengharuskan mereka memperpanjang masa opnamenya. Mereka akan mual hebat secara bergantian, hari ini Friday dan Louis baik baik saja tapi keesok harinya Louis yang akan mengalami gejala mual. Wetennov yang super sibuk mengurus perusahaannya malah bertambah sibuk lagi mengurus sepasang suami istri yang sedang sakit tapi tidak benar benar sakit itu.


Kini mereka sudah kembali ke rumah mereka, mereka juga kini sudah beraktifitas di perusahaan masing masing. Louis mulai mengambik tanggung jawab sebagai CEO di perusahaan keluarganya sedangkan Friday menjadi CEO di perusahaan milik Wetennov yang terkendala. Aktifitas mereka tidak terganggu sedikit pun karena kehamilan dan morning sickness yang mereka alami.


Frekuensi gejala mual yang mereka derita berangsur berkurang seiring bertambahnya usia kandungan Friday. Kini usia kandungan Friday memasuki semester terakhir, menuju bulan ke 7.


Usia kehamilannya sama dengan lamanya Friday menghilang dari jangkauan teman temannya begitu pun dengan Jeanne. Friday tiba tiba teringat jika dia pernah meminta unclenya untuk membantunya mencari temannya yang hilang saat kejadiaan di hotel dulu. Friday meminta izin pada Louis untuk menemui unclenya ke rumahnya. Friday menginfokan pada Louis jika ada yang perlu dia bahas dengan unclenya dan tentu saja Louis menyetujuinya.


Sesampainya di rumah unclenya, Friday terkejut melihat seseorang yang dia kenali berada di rumah itu. Jeanne teman baiknya yang menghilang di hotel saat kejadian dulu kini berada tepat di hadapannya. Friday berfikir jika unclenya telah menemukan Jeanne dan membawanya ke rumahnya.


Friday memeluk Jeanne, dia senant akhirnya bisa bertemu kembali dengan Jeanne. Jeanne juga memeluk balik Friday, walau pun dia masih terkejut kenapa Friday bisa berada di rumah Wetennov dengan perut buncit seperti sekarang ini.


Mereka duduk di ruang tamu dan masih merasa tidak percaya jika mereka bertemu di negara asing. Ini kebetulang yang sangat indah menurut mereka berdua.


Jeanne tiba tiba murung, dia minta maaf kepada Friday. Friday bingung kenapa Jeanne minta maaf padanya seharusnya dia yang minta maaf karena tidak cepat menemukannya.


"Maafkan aku Fri, aku tidak berniat melakukannya. Itu terjadi begitu saja" ucap Jeanne


"Kamu ngomong apa sih? Kenapa minta maaf terus dari tadi. Harusnya aku yang minta karena tidak segera mencarimu. Dan karena keluargaku, kamu jadi menghilang saat itu" kata Friday.


"Fri, tolong jangan membenciku. Aku akan pergi dengan anakku dan tidak akan pernah muncul lagi di hadapan kalian. Anakku tidak salah apa apa, aku lah yang salah di sini, ku mohon ampuni aku dan anakku" ucap Jeanne lagi.


"Aku tidak mengerti, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Friday.


"Kami telah mendaftarkan pernikahan kami di catatan sipil dan aku telah menikah dengan suamimu . Dan sekarang aku sedang mengandung anaknya. Aku akan memintanya membatalkan pernikahan ini tapi tolong jangan lakukan apapun pada anakku. Aku akan meninggalkan suamimu dan pergi sejauh mungkin dari kalian. Aku berjanji tidak akan pernah mengusik kehidupan rumah tangga kalin lagi. Tolong maafkan aku" Jeanne menangis dengan tangan bergetar. Dia merasa sangat bersalah karena menghianati Friday dengan menerima tawaran Wetennov menikah kontrak dengannya. Jeanne tidak tau jika Wetennov adalah uncle Friday, dia lupa akan wajah uncle Friday yang pernah Friday tunjukkan saat mereka menginap di rumah Friday 8 tahun lalu.


Mendengar penjelasan Jeanne membuat Friday terkejut, marah dan sedih. Friday patah hati karena ternyata suaminya tidak seperti yang dia pikirkan selama ini. Ucapan Louis terdengar manis di telinganya dan dia dibuat jatuh cinta pada suaminya dengan semua perlakuan baik suaminya. Tapi ternyata dibelakangnya, suaminya menduakannya dan menghianatinya. Yang lebih menyakitinya adalah perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.


Friday juga tidak tau ingin berbuat apa, dia ingin sekali menjambak Jeanne sampai botak tapi dia tidak tega. Jeanne sedang hamil dan Friday pun sedang hamil. Friday akhirnya meninggalkan Jeanne tanpa kata sedikit pun. Jeanne langsung menangis meraung karena telah menghancurkan hati dan rumah tangga sahabatnya.


Friday kembali ke rumahnya, dia masih merasa sangat sakit hati mendengar pengakuan Jeanne. Tapi dia menguatkan diri karena sadar dia sedang hamil. Friday hanya duduk di sofa di kamar mereka tanpa melakukan apa pun. Dia masih termenung memikirkan bagaimana masa depan mereka nanti.