Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
What Happen with Alexa



Maafkan aku karena sebulan ini up nya ga nentu dan sedikit, aku lagi banyak kerjaan di RL dan tinggal di rumah keluarga, ga enak aja kalo sibuk dengan hp. Akhir bulan harusnya dah longgar kerjaannya, jadi bisa update rutin. Terima kasih untuk kalian yang masih baca novel aneh dan membosankan ini 🤣🤣. Selera kalian sungguh aneh.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Christian masih tampak berfikir langkah apa yang akan dia ambil. Apakah dia akan menyerah pada Alexa dan menerima Friday atau dia akan membatalkan pertunangan dengan konsekuensi kehilangan seperempat saham grup Scaff yang artinya posisinya sebagai CEO juga akan terancam. Karena total saham miliknya dan kakeknya adalah 70%. Bukan tidak mungkin para pemegang sisa saham 30% itu menghianatinya dan dan malah mendukung Friday.


Christian tidak rela kehilangan harta peninggalan papanya yang sudah terlebih dahulu menghadap sang pencipta. Dia berpikir keras agar bisa lepas dari Friday tapi tanpa kehilangan apa pun.


"Bagaimana jika aku menikah dengan Friday tapi setahun kemudian bercerai kek?" tanya Christian.


"Rupanya kamu masih belum menyerah, sungguh keras kepala seperti ayahnya" kata Anthony dalam hatinya.


"Itu akan semakin merugikanmu karena kalian akan bagi hartanya sama rata. Fifty fifty. Kakek menyepakati bahwa begitu kalian menikah akan ada pemindahan nama harta kekayaan Scaff jadi miliknya sekitar 50%" kata Anthony.


"Tapi kalau kalian punya anak, maka semua harta Scaff akan diwariskan kepada anak kalian. Jika kamu duluan yang meninggal maka Friday yang akan mengatur semuanya sampai anak kalian berumur 23 tahun. Tapi jika Friday yang meninggal sekarang atau setelah menikah tanpa ada anak maka 50% harta haknya di awal pernikahan jatuh kepada walinya yaitu suaminya" lanjut Anthony menjelaskan isi kesepakatan.


"Apa apaan itu, kenapa semuanya merugikan kita kek? Apa yang kakek pikirkan saat membuat kesepakatan itu?" Christian mulai kesal.


"Sudah kakek bilang di awal, mana kakek tau kalau dia ternyata matre. Sebenarnya kakek menandatangani kesepakatan itu tanpa membacanya. Dan itu semua salahmu, kakek percaya dengan omonganmu yang akan bertanggungjawab padanya. Dan kakek tidak pernah mengira bahwa kamu salah orang. Dan lihat hasilnya sekarang, kakek juga terlanjur menyukainya" ungkap Anthony jujur tanpa mau disalahkan atas semuanya.


"Kakek janji akan mendukung semua keputusanku, termasuk merelakan 25% saham ke Friday?" tanya Christian memastikan bahwa kakeknya tidak akan ikut campur lagi dan mengacaukan semuanya.


"Iya kakek akan mendukungmu seratus persen" jawab Anthony.


"Aku sudah merekamnya kek" kata Christian.


"Iya, tapi kakek akan selalu mendukung Friday untuk mempertahankan pertunangan ini" jawab Anthony.


"Terserah kakek saja, yang penting aku yang akan mengambil keputusan" kata Christian. Christian bangkit berdiri dan pamit kepada kakeknya. Dia menuju kamarnya di rumah itu.


Sesampainya di kamar, dia merebahkan tubuhnya yang letih di atas tempat tidurnya, dia merogoh saku celananya untuk mengambil Handphone nya. Dia menghubungi Alexa tapi panggilannya tidak dijawab oleh Alexa karena dia menonaktifkan handphonenya.


Christian mencoba menghubungi pamannya, tapi tidak mendapatkan jawaban juga karena Caleb pun menonaktifkan handphonenya. Dia melihat notif SMS dari Caleb buru buru dibukanya. Caleb menginfokan bahwa saat ini dia sedang bersama Alexa dan masih berusaha menenangkannya.


Mengetahui hal itu, membuat beban Christian sedikit berkurang. Dia bersyukur bahwa Caleb selalu ada untuknya saat saat seperti ini. Sekarang dia bisa tidur untuk mempertahankan kewarasannya. Dia tenang karena Alexa bersama orang yang tepat untuk menjaganya sampai esok hari Christian menemuinya dan menjelaskannya.


Jangankan mandi, mengganti pakaian saja tidak, bahkan sepatunya masih terpasang di kedua kakinya. Christian tidur dengan pakaiannya tadi saat tunangan.


Di dalam kamar mandi, dia duduk di atas toilet mengeluarkan apa yang perlu dikeluarkan. Dia tersadar bahwa dia masih memakai sepatu dan jasnya. Dia kasihan terhadap dirinya yang mengenaskan dan mengumpat kasar karena cintanya tak berjalan mulus.


Dia melihat jam di pergelangan tangannya dan semakin meradang karena saat ini jam di tangannya menunjukkan pukul 13.37. "Pantas saja purutku perih dan lapar" batinnya. Dia benar benar tidak mengerti dengan harinya yang kacau ini.


Setelah menuntaskan BABnya, Christian mandi dengan buru buru dan berpakaian santai karena hari ini dia cuti. Dia turun ke bawah menuju meja makan untuk mengisi perutnya yang sudah kehabisan bahan bakar.


Rencananya dia akan menemui Alexa setelah makan pagi rangkap makan siang ini. Dia akan menjelaskan semuanya kepada Alexa, walaupun pamannya sudah melakukannya tapi tetap saja Christian merasa dia harus menemui Alexa.


Setelah memyelesaikan makannya, Christian menemui kakeknya lagi, dia ingin memastikan lagi bahwa apapun kepustusan Christian, Anthony akan mendukungnya. Dan jawaban Anthony masih sama dengan jawabannya tadi malam, Anthony membiarkan Christian untuk menyelesaikan masalah ini sendiri walaupun harus kehilangan seperempat saham grup Scaff.


Christian langsung menuju mobilnya dan menyetirnya. Tujuan dia saat ini adalah Apartemen miliknya yang saat ini di tempati oleh Alexa. Sesampainya di sana dia menekan tombol lift lantai unit apartemennya. Sesampainya di depan pintu, dia terdiam. Dia meneguhkan dan mempersiapkan diri jika nanti Alexa menamparnya.


Seperti kebiasaan sebelumnya, dia akan selalu menekan bell dan menunggu Alexa membukakan pintu. Pintu tak kunjung terbuka hingga setengah jam dia menunggu di depan pintu. Christian berfikir jika Alexa benar benar marah makanya dia tidak dipersilahkan masuk.


Dia memutuskan untuk tetap menunggu hingga setengah jam ke depan. Bila nanti pintu tak kunjung dibuka, dia akan pergi dan kembali lagi besok. Dia menekan bell sekali 5 menit sembari menelepon Alexa dan Caleb bergantian tapi hp keduanya masih nonaktif.


Sudah satu jam Christian menunggu di depan pintu seperti orang bodoh tapi penghuni unit apartemen itu tak kunjung membuka pintu. Christian mengalah dan pergi dari sana. Dia makhlum jika Alexa tidak mau bertemu dengannya.


Di tempat parkir, saat ingin memasuki mobilnya, Christian melihat Alexa dan Caleb berjalan beriringan memasuki lift. Ternyata pintu tidak terbuka bukan karena Alexa tidak menginginkan Christian masuk tapi karena Alexa tidak ada di sana.


Buru buru Christian mengejar kekasihnya dan pamannya menuju lift. Tapi sayang Christian terlambat karena lift sudah tutup dan naik, dia harus menunggu lift sebelahnya.


Tidak selang beberapa lama, Christian menaiki lift menyusul Alexa. Sesampainya di lantai yang dituju, Christian berlari di koridor dan menemukan Alexa sedang menekan pin di pintu masuk.


"Lex, sayang" panggil Christian.


Alexa dan Caleb menoleh ke arah suara yang memanggil nama Alexa. Alexa sangat terkejut melihat kemunculan Christian dan dia buru buru menyembunyikan map yang sedari tadi digenggamnya. Map berlogo rumah sakit.


Alexa dan Caleb masih terdiam di tempat sedangkan Christian berjalan ke arah mereka. Christian semakin merasa bersalah dan merasa sakit melihat wajah Alexa yang tampak pucat dengan kantong mata yang menghitam. Bahkan wajah sembabnya menunjukkan seberapa banyak si pemilik wajah itu menangis.


Christian tidak bisa berkata apa apa melihat keadaan kekasihnya itu. Jarak yang semakin dekat menyadarkan Alexa dan memalingkan wajahnya dari Christian. Alexa masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju kamarnya. Dia belum siap bertemu dengan pria yang tega mempermainkannya itu.


"Paman, gimana keadaan Alexa. Kalian dari mana? Kenapa ku hubungi tidak bisa? Apa Alexa sakit?" tanya Christian.


Tapi Caleb tidak menjawab satupun pertanyaan Christian, dia melenggang pergi meninggalkan Christian sendiri. Christian heran dengan sikap pamannya, dia memanggil pamannya tapi tidak digubrisnya. Christian memasuki apartemen sedangkan Caleb pergi entah ke mana.