Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Wisuda Leo



Setelah makan malam bersama keluarga Leo di restoran langganan keluarga Leo, Amora dan keluarganya pamit pulang. Ibu Amora selalu memuji kebaikan ibunya Leo. Ibu Amora sudah sangat akrab dengan ibu Leo.


Makin besar beban Amora. Andai saja semua ini bukan pura pura, dia akan menjadi perempuan paling beruntung mendapatkan pria yang dicintainya dan keluarga pria yang menerimanya apa adanya dan keluarganya serta menyayanginya seperti anak sendiri.


Semakin dia pikirkan, semakin dia takut kehilangan keluarga Leo yang begiyu menyayanginya. Dia takut kelurlarga Leo akan membencinya karena tega berbohong dan pura pura jadi pacar Leo.


Selama perjalanan pulang ke rumahnya dari restoran, Amora tampak terdiam dan raut wajahnya menunjukkan kesedihan. Ibunya yang melihat anaknya tampak berbeda pun mengambil tangan Amora, dipegangnya dengan kedua tangannya.


"Mama tidak tau apa yang sedang kamu pikirkan, sepertinya sangat serius. Kalau kamu mau cerita, mama siap jadi pendengar yang baik. Mama kangen dengan curhatan kamu". Mamanya tersenyum kepada Amora.


Amora menggelengkan kepalanya, dan balik menggenggam kedua tangan mamanya. "Amora baik baik aja ma, lagi banyak kerjaan aja" katanya.


Tapi sepertinya mama Amora tau anaknya sedang tidak baik baik saja dan bukan karena pekerjaan.


"Apapun yang terjadi, kamu masih punya mama. Siapapun yang melukai perasaanmu jangan sedih karna kamu punya mama. Walaupun semua orang meninggalkanmu bahkan dunia ini menolakmu, mama akan bertahan di sisimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Suatu saat kalau kamu sudah tidak punya arah tujuan, pulanglah ke rumah. Mama akan selalu menyambutmu dengan senyuman dan tangan terbuka" mendengar penuturan mamanya Amora langsung menangis.


Mamanya pun memeluknya sembari mengusap punggung yang bergetar itu karena tangisnya. Papanya yang ikut mendengar percakapan dua perempuan yang disayanginya itu pun ikut menanggapi perkataan mamanya.


"Jangan lupakan papa, papa pun akan selalu ada untukmu. Kalau kamu lelah, pulanglah. Kami menyayangimu lebih dari yang kamu tau".


Amora pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dia bersyukur memiliki orang tua yang sangat menyayanginya dan mengerti kondisinya. Semua perkataan orang tuanya membuat hatinya menghangat.


Dua hari ini Amora menghabiskan masa liburannya di rumah saja, berinteraksi dengan orang tuanya lebih intense. Dia benar benar memanfaatkan waktunya yang sedikit itu untuk menemani orang tuanya sebelum kembali ke asrama.


*…………………………………………………………………………………………*


Hari ini adalah wisuda para mahasiswa tingkat akhir, wisuda Leo dan Kelvin. Setelah acara wisuda, Orang tua Leo mengundang teman teman Leo dan teman teman calon memantunya Amora merayakan kelulusan Leo di rumahnya. Mereka mengadakan pesta sederhana atau lebih tepatnya acara syukuran.


Sudah setengah tahun tidak bertemu dengan pujaan hatinya dan komunikasi bereka yang terputus membuat jantung Amora berdetak kencang. Dia hampir menangis saking rindunya.


Begitu pun dengan Leo, dia begitu merindukan perempuan pujaan hatinya. Tanpa basa basi dia langsung memeluk Amora dengan erat meluapkan semua kerinduan yang dia pendam selama ini.


Bukan sengaja menghindari Amora, tapi selama 6 bulan ini Leo fokus dalam magangnya. Dia benar benar serius bekerja agar layak meminang gadis pemilik hatinya. Dia tidak sadar bahwa komunikasi penting bagi kelangsungan hubungan mereka.


Mereka masih berpelukan, membuat teman temannya menyoraki mereka. Seperti biasa Friday akan bertindak sangat menyebalkan


"Udah wee udah, kayak ga ada hari esok aja. Kalau udah ga tahan kawin saja sudah".


Mama Sita langsung menggeplak kepala Friday "Kawin. Kawin. Enak aja, nikah dulu. Jangan ajarin yang ga bener" semua yang menyaksikan langsung tertawa.


"Hehehe iya maaf tante, aku salah, harusnya nikah dulu baru kawin. Tapi kalau kawin dulu ga apa apa tante itung itung itu test drive. Siapa tau langsung jadi kan lebih bagus buy one get one free." balas Friday.


Mereka melanjutkan acara syukuran wisuda Leo di rumahnya dengan suka cita.


Amora selalu melihat ke arah Leo yang sedang sibuk dengan teman temannya. Dia ingin berbicara kepada Leo mengenai hubungan mereka. Dari tadi dia mencari kesempatan untuk bicara berdua dengan Leo tidak berhasil.


Amora meminta bantuan Friday untuk menarik paksa Leo. Amora bertekat akan mengakhiri sandiwara yang memberatkannya ini hari ini juga. Dia tidak tahu kapan lagi punya kesempatan bicara dengan Leo. Hari ini pokoknya harus tuntas.


Seperti biasa, Friday selalu bisa diandalkan untuk bertindak memaksa dan menyebalkan. Dia berhasil menyeret Leo ke hadapan Amora. Amora langsung mengajak Leo untuk berbicara serius dengan waja h yang serius juga.


"We need to talk" Hanya kalimat itu dan Leo langsung mengerti apa yang akan dibicarakan oleh Amora.


Leo langsung membawa Amora ke kamarnya. Mereka akan bicara di sana agar jauh dari gangguan. Gangguan yang paling dihindari karena bersifat mengancam kedamaian dan kesejahteraan suasana hati Leo adalah mama Sita dan Friday.


Kadang sifat kepo Friday mencapai level dewa bisa menggunakan segala cara licik maupun secara halus. Dan itu sangat menyebalkan.Tidak jauh beda dengan mama Sita yang tingkat keponya melebihi gunung everest.


Mereka terdiam untuk sesaat, Amora memantapkan hatinya untuk mengakhiri semuanya. Amora sudah bertekat akan membongkar rahasia ini di depan orang tuanya dan orang tua Leo setelah mereka bicara.


Amora langsung mengatakan niatnya ingin bicara dengan Leo. "Kak, ayo kita akhiri hubungan ini. Aku merasa bersalah kepada orang tuaku dan terlebih keluargamu. Sudah cukup lama kita berbong. Aku sudah tidak mau lagi".


"Kamu kejam sekali Mor, bukannya menanyakan kabarku lebih dulu atau bilang rindu malah minta putus. Tidak sabaran sekali kamu ya. Aku juga berniat untuk mengakhiri hubungan pacaran palsu ini" kata Leo.


Amora merasa sedih mendengarnya "Ternyata waktu satu tahun ini tidak cukup membuatmu jatuh cinta padaku" batinnya.


Dengan senyum terpaksa Amora menganggukkan kepalanya, "Syukurlah kakak sudah memikirkannya. Sekarang bagaimana cara kita menyampaikannya kepada orang tua kita?" tanya Amora.


Leo terdiam dan tampak berfikir. Sebenarnya dia tidak sedang berfikir. Dia hanya pura pura sibuk berpikir.


Amora mengusulkan untuk membicarakannya sekarang dengan orang tua mereka mumpung semuanya sedang berkumpul. Lebih cepat lebih baik bukan?


Leo tampak menimbang dan mengangguk tapi dia berkata lagi " Sebelum kita membicarakan ini kepada orang tua kita, aku mau tanya kamu sesuatu".


Leo berlutut di depan Amora " Will you marry me?". Amora terkejut dengan tindakan Leo.


"Apa apan ini? Apakah aku sedang bermimpi?" tanyanya dalam hati.


………………………………………………………………………………


Jangan lupa Subscribe, Like dan Comment ya genk kalo bisa vote dan gift jg hehehe...Lafyutu