
Christian kembali menceritakan isi perjanjian antara kakek dan Friday. Hal itu membuat Alexa semakin tercengang.
"Ternyata Friday belum berubah" guman Alexa.
Christian mendengar gumanan itu, seketika dia teringat bahwa Alexa dan Friday adalah teman. Jadi pastinya Alexa tau sifat Friday.
"Orang seperti apa Friday ini?" tanya Christian.
"Dia orang yang ambisius kak, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia mau. Jiwa kompetitifnya bukan main main. Walaupun tidak butuh tapi jika tau ada saingannya, maka dia akan mati matian mendapatkannya. Apalagi kalau dia tau bahwa aku terlibat di dalamnya. Dia selalu menganggapku saingan" jawab Alexa.
"Sekarang semuanya sangat jelas. Dari cerita kakek bisa disimpulkan bahwa awalnya dia menolak keras perjodohan ini, bahkan mengusir kakek beberapa kali. Tapi kenapa tiba tiba dia berubah pikiran?" kata Christian.
Alexa dan Christian saling melihat dan Alexa mengangguk.
"Dia tau bahwa aku punya hubungan denganmu kak" jawab Alexa.
"Psikopat macam apa dia" gerutu Christian.
"Pantas saja isi perjanjiannya sangat tidak masuk akal" lanjutnya lagi.
Mereka melanjutkan pembicaraan mereka tentang rencana dan tindakan apa yang harus mereka lakukan untuk membuat Friday menyerah dengan sendirinya dan membatalkan perjanjian.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sementara itu di negara di belahan dunia lainnya, Louis sedang merajuk dan marah kepada Friday karena perempuan yang dicintainya bertunangan dengan lelaki lain. Apalagi pada saat pertunangan itu, Friday terlihat sangat cantik, dia tidak rela perempuan pujaan hatinya dilihat oleh mata pria lain.
Dia bukan takut Friday jatuh hati pada sepupunya, walaupun dia tidak bisa memungkiri bahwa sepupunya itu tampan dan tajir. Yang paling dia takutkan kalau sepupunya malah jatuh hati pada Friday pada pandangan pertama. Oleh karenanya, Louis langsung mengejar Friday ke negara WX setelah Friday meninggalkan pesta pertunangan yang belum selesai.
Louis langsung masuk ke rumah kediaman Friday selama di negara WX, dia menuju kamar Friday. Tapi tidak ada Friday di kamar tersebut, tanpa bertanya pada pekerja di rumah itu, Louis mencari ke kamar sebelahnya.
Louis membuka pintu kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu, dan benar saja Friday berada di kamar itu. Friday sedang berbaring di tempat tidur dan hendak istirahat. Mendengar pintu terbuka, Friday tidak menoleh ke arah pintu, dia tersenyum karena dia tau siapa orang yang berbuat seenaknya bahkan berani membuka pintu kamar di rumahnya. Siapa lagi kalau bukan Louis.
Louis mendekati tempat tidur, dia bersiap akan memarahi Friday dan mengeluarkan unek uneknya. Tapi Louis tidak jadi melakukannya karena Friday menoleh ke arahnya dan meletakkan jari telunjuknya di mulutnya.
Kini Louis mengerti kenapa Friday langsung terbang pulang ke negara ini dan seketika hatinya luluh. Kekesalannya tadi meluap begitu saja bercampur dengan udara sekitar.
"Aku capek dan ngantuk, aku akan tidur sebentar, mau bergabung?" ajak Friday sembari merentangkan tangannya. Tapi Louis masih tidak beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.
Louis tersenyum malu dan dia mulai salah tingkah. Karenanya Friday semakin melunjak dan menggodanya terus menerus. Untuk mempertahankan kewarasaannya dan menghindari godaan si iblis betina dihadapannya yang sayangnya menjadi kelemahannya, dia memilih untuk mandi terlebih dahulu.
Louis masih menggunakan pakaian yang sama dengan pakaian kemarin saat menghadiri acara pertunangan itu. Itu artinya lebih dari sehari, dia tidak mandi.
"Tidak. terima kasih" tolak Louis.
"Aku mau mandi dulu, aku juga capek dan merasa jetlag. Tidurlah duluan, nanti ku susul. Ini sangat tidak nyaman" kata Louis sambil mengendus badannya. Friday hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Friday mulai memejamkan matanya kembali sementara Louis pergi ke kamar sebelah yaitu kamar Friday dan mandi di sana.
Setelah bersih dan segar, Louis kembali ke kamar sebelah tempat Friday berada. Dia mendekati tempat tidur dan naik. Louis menciumi wajah sosok malaikat di tempat tidur itu hingga terusik dari tidurnya.
"Pelit sekali, aku kan kangen" jawab Louis tanpa merasa berdosa.
Louis menyingkir dan berpindah ke samping Friday. Dia memeluk Friday dari belakang.
"Tadi kamu yang menawarkan aku untuk bergabung, tapi sekarang kamu malah memarahiku" kata Louis menciumi tengkuk Friday. Tangannya mulai aktif meraba tubuh bagian atas Friday terutama daerah pegunungannya.
"Bergabung untuk tidur bukan untuk mengganggu" sangkal Friday. Dia membalikkan badannya agar berhadapan dengan Louis. Louis mengeratkan pelukannya dan menciumi wajah Friday. Friday melingkarkan tangannya ke leher Louis.
"Aku sangat merindukanmu, rasanya sudah sangat lama kita tak seperti ini" kata Louis. Friday menaiki tubuh Louis, otomatis Louis bergerak hingga posisinya terlentang. Kini mereka berhadapan dengan Louis di bawah mengaitkan kedua tangannya di pinggang Friday sesekali meremas bokongnya sedangakan Friday berada di atasnya.
"Lama apanya, sebelum pertunangan itu siapa yang menyusup ke kamarku dan memperdayaiku seharian di kamar?" tanya Friday. Louis hanya terkekeh.
"Bahkan kakiku masih lemas dan gemetar sampai sekarang. Aku pikir aku tidak bisa lagi berjalan. Bahkan aku hampir tidak datang di acara pertunangan itu, keterlaluan sekali" keluh Friday.
"Itu memang tujuanku, biar kamu tidak perlu tunangan dengan Christian. Dan itu dua hari yang lalu loh, bayangkan 48 jam tidur tanpamu. Itu sudah sangat lama dan menyiksaku" jawab Louis. Dia meraih wajah Friday dan meluma*t bibirnya.
Louis melepaskan tautan bibir mereka. Dia kembali berkeluh kesah mengenai acara tunangan itu. "Kenapa kamu berdandan cantik waktu itu? Apa kamu mau menarik perhatian Christian? Dressmu juga terlalu sexy, lain kali jangan menunjukkan lekuk tubuhmu di hadapan orang lain". Friday mengangguk.
"Ada lagi?" tanya Friday.
"Selama di pesawat tadi aku sudah mengarang susunan kata yang harus aku sampaikan tapi sekarang aku lupa" jawab Louis jujur. Friday menertawakannya dan Louis mencebik kesal.
"Bukan maksudku berdandan cantik saat acara itu tapi mau gimana lagi aku sudah cantik tanpa make up, ya kalau dipoles akan semakin cantik. Dressnya juga bukan aku yang memilih tapi kamu" kata Friday.
Louis terdiam, sekarang dia ingat bahwa dialah yang membelikan dress itu. Moodnya anjlok seketika.
Friday tersenyum melihat keterdiaman Louis, Friday tau saat ini Louis merasa bersalah kepadanya, oleh karena itu dia menautkan kembali bibir mereka, dia mencium bibir Louis dengan sangat lembut. Louis pun terbuai dan sedikit demi sedikit menaikkan moodnya.
"Kamu memang selalu tau apa yang ku butuhkan. I love you more and more" kata Louis.
"Tentu saja, kamu harus selalu mencintaiku terus menerus. Bahkan setiap harinya harus bertambah" kata Friday.
"Aku siap jadi bucinmu" kata Louis kembali.
"Itu wajib" timpal Friday.
Friday meraih kening Louis dan menciumnya sangat dalam. Kini bibirnya berpindah ke mata Louis, lalu pipinya hingga dagu. Dan terakhir adalah bibirnya. Louis memejamkan matanya dan menikmati perlakuan Friday kepadanya hingga dia tertidur.
🌸
🌸
🌸
Tadinya aku ga mau spill dulu tentang Louis dan Friday ini tapi aku mau buat kalian semakin tak bisa tidur memikirkan apa yang terjadi di kehidupan mereka terutama 3 tahun terakhir wkwkwkkw