
"Adikmu bisa mendapatkan beasiswa di luar negeri juga berkat kak Sunday. Dia adalah donatur beasiswa itu" tambah Frizzy.
"Tapi sepertinya bukan itu alasanmu kembali padanya" tebak Friday.
"Kamu mencintainya kan? Sampai rela melakukan apapun hanya untuknya" ungkap Friday.
"Apakah sangat kelihatan jika aku mencintainya?"
"Iya, sangat terlihat. Kamu bisa jatuh cinta tapi jangan jadi bodoh" balas Friday.
"Lihat siapa yang ngomong, kamu lebih bodoh saat jatuh cinta pada pria itu. Kamu bahkan rela menjauh dari kami demi dia" timpal Frizzy pada Friday.
"Hahah bodohku sedikit saja dan tidak terlihat" bela Friday.
Ketiga wanita itu mengalihkan pandangannya pada pintu yang tiba tiba terbuka. Dari balik pintu mencul Jeanne dengan banyak kantongan plastik berisi cemilan di tangannya. "Kalian jahat, beraninya berkumpul tidak mengajakku" kata Jeanne bersungut sambil masuk ke dalam ruangan.
"Hai Jean" sapa Alexa dengan senyum menghiasi wajahnya yang terlihat pucat.
"Lihat dirimu Lex, sangat tidak terawat. Bagaimana keadaanmu?" bukannya menjawab sapaan Alexa, Jeanne malah mengomel pada Alexa. Jeanne meletakkan semua barang bawaannya di atas meja dan mendekati brankar Alexa.
Kekesalannya tadi seolah meluap saat Jeanne melihat Alexa lebih dekat. "Bagaimana keadaannya, apakah baik baik saja?" Jeanne dengan lembut membelai perut Alexa.
"Kamu pucat sekali Lex, mana yang sakit?" tanya Jeanne dengan nada khawatir.
Alexa seketika menangis mendapatkan perhatian itu dari Jeanne. Jeanne memeluk Alexa dan mengusap pungungnya. "Apakah sangat sakit? Bagian mana yang sakit?" tanya Jeanne kembali. Alexa semakin mengeratkan pelukannya pada Jeanne, dia merasa sangat jahat hari ini karena kebodohannya dia tega menyakiti teman temannya yang sangat tulus sayang padanya.
"Hei, sayang jangan menangis. Nanti dedek bayinya ikut menangis" hibur Jeanne setelah mengurai pelukannya. Dia mengusap air mata Alexa. Alexa semakin merasa sesak di dadanya karena rasa bersalah datang menghantamnya silih berganti. Dia menyesal karena berbuat jahat pada teman temannya terutama saat di hotel 3 tahun lalu. Dia dengan teganya meracuni minuman teman temannya yang tidak bersalah sama sekali demi membalas dendam. Padahal kesalahan tidak dilakukan temannya, dia hanya salah paham saja.
Alexa juga menyesal karena mengikuti nasehat Shelly yang mengusulkan untuk memberi Friday obat perangsang dan menyerahkannya pada pria hidung belang. Pada akhirnya dia juga mendapatkan karmanya. Dia malah diserang saat ingin mengantarkan Friday ke kamar pria hidung belang yang mereka sewa sebelumnya untuk menyakiti Friday. Caleb yang sedang menggila saat itu langsung membekap mulutnya dan menyeretnya ke dalam sebuah kamar. Dia malah diperko*sa dengan kasar oleh Caleb. Bukan hanya Friday yang menjadi korban saat itu, tapi juga banyak pengunjung hotel termasuk dirinya. Senjata makan tuan.
Shelly juga terkena karma jebakan sendiri sebab sebelum memasuki kamar, masih di lobby Friday ditolong dan dibawa pergi oleh Louis. Sedangkan Shelly yang baru kembali dari toilet langsung menyusul ke kamar pria hidung belang untuk memastikan jika rencana mereka berhasil. Tapi naas, rencana mereka berantakan. Dia menemui ajalnya sendiri di dalama kamar itu. Dia menggantikan Friday untuk melayani pria hidung belang itu, karena Friday berhasil lolos dari jebakan itu.
Setelah Alexa tenang dan menghentikan tangisnya, Jeanne mengambil sebuah kursi untuk tempatnya duduk di samping brankar Alexa. Dia juga membawa cemilan ke nakas dekat dengan mereka. Mereka kembali berbincang, kali ini topik pembicaraan mereka bukan lagi kesalahpahaman itu tapi mereka bercerita tentang masa lalu mereka di asrama. Mereka reuni, tidak lengkap rasanya jika berkumpul tanpa cemilan. Mereka kembali mengenang masa masa mereka di asrama, canda dan tawa menghiasi hari mereka di ruang rawat itu. Mereka berhenti saat perawat dan dokter datang mengecek keadaan Alexa, mereka kemudian melanjutkan nostalgia bercampur ghibah setelah perawat dan dokter pergi.
"Jean, aku penasaran kenapa kamu bisa menikah dengan unclenya Friday. Bukankah unclenya sangat menyeramkan dan terlihat tak tersentuh sama seperti keponakannya" tanya Alexa.
"Itu hanya kabar burung saja, tidak berdasar. Jangan percaya media" jawab Friday. Tentu saja Friday tidak terima jika unclenya yang unyu dan lucu dijelek jelekkan media dan disebut gay*.
Jeanne selaku istri Wetennov pun mengangguk menyetujui Friday. Jeanne sudah merasakan keperkasaan suaminya yang bisa dipastikan tidak ada unsur gay* di dalam pernikahannya selama ini.
"Kenapa dia tidak pernah klarifikasi kalau dia normal. Selama ini juga tidak pernah ada isu dia pacaran atau jalan dengan wanita, bahkan tidak ada yang dekat dengannya. Selama ini hanya Kirein dan dokter cab*ul itu yang selalu di sampingnya" ungkap Frizzy yang selama ini sudah mengenal Wetennov dengan baik.
"Sebenarnya selain dia malas berhadapan dengan media, dia juga tidak peduli dengan pendapat orang terhadapnya. Makanya dia tidak pernah klarifikasi, menurutnya buang tenaga, waktu dan uang. Kalian tau sendiri prinsip hidupnya adalah lebih baik mengumpulkan cuan daripada mengumpulkan massa" jawab Jeanne.
"No no no" Friday menggelengkan kepalanya. Frizzy, Alexa dan Jeanne tampak mengerutkan dahinya karena bingung kenapa Friday tidak setuju dengan Jeanne.
"Dia yang bilang sendiri kok" balas Jeanne. Jeanne mulai resah dan takut jika alasan Wetennov menikahinya bukan karena cinta, melihat reaksi Friday yang menolak pendapatnya.
"Jadi uncle belum memberitahumu aunty? Ckckck...tidak sopan sekali dia"
"Apa kamu tau alasan sebenarnya?"
"Tentu saja tau"
"Cepat kasih tau aunty"
"Alasan aunty tadi memang benar tapi ada hal dibalik itu semua. Sebenarnya uncle sudah punya calon istri makanya dia tidak pernah terlihat kencan dengan perempuan lain. Tidak seperti kakakku yang breng*sek itu. Uncle Wetennov sudah dijodohkan waktu kecil, bahkan sebelum calon istrinya lahir" aku Friday.
Raut wajah Jeanne terlihat berubah mejadi mendung. Alasan yang baru saja diungkapkan Friday terlalu mengejutkannya.
"Apakah sampai sekarang mereka masih berhubungan?" tanya Jeanne dengan nada yang sangat datar. Dia berharap jika Wetennov sudah melupakan perempuan yang dijodohkannya itu.
"Tentu saja mereka masih berhubungan dan berkomunikasi dengan baik aunty, bagaimana mereka memutus hubungan yang sudah terjalin jauh sebelum kita lahir?" balas Friday.
"Apa kamu mengenal perempuan itu? Menurutmu apakah unclemu bisa dipercaya? Dia bilang hanya aku yang ada di hatinya, tapi dia masih berhubungan dengan mantan calon istrinya" Jeanne semakin kalut.
"Iya, aku mengenalnya dengan sangat baik" jawab Friday.
"Bagaimana pendapatmu tentangnya?" tanya Jeanne. Dia tau jika tipe Wetennov dan Friday tidak jauh beda, sehingga jawaban Friday akan menggambarkan pandangan Wetennov juga.