
Leo kembali ke kamarnya membawa sebuah nampan berisi makanan untuk sarapan pagi buat Amora. Leo membuka kamarnya dan tidak mendapati Amora di tempat tidur. Dia meletakkan nampan itu dia atas meja yang terletak di antara sofa dan tv.
Leo menunggu Amora yang sedang mandi karena bunyi gemercik air dari dalam kamar mandi terdengar. Lama dia duduk di tepi tempat tidurnya untuk menunggu tapi yang ditunggu belum muncul.
Akhirnya dia memutuskan ke kamar tamu terlebih dahulu untuk mengambil koper berisi pakaian Amora.
Leo kembali ke kamar membawa 2 koper besar milik Amora dan mendapati istrinya itu yang sedang memilih baju Leo yang akan dipakainya di walkin closet.
Leo menghampiri sang pemilik hatinya dan memeluknya dari belakang. Tidak hanya memeluk, tapi Leo juga menciumi tengkuk istrinya yang terekspos karena Amora menggulung rambutnya ke atas dibungkus dengan handuk. Si bule kembali menegang dan meronta ingin keluar dari balik celana Leo.
"Kak lepaskan, aku mau pakai baju dulu. Aku harus langsung makan, udah lapar" Amora membalikkan tubuhnya menghadap Leo.
Leo melihat wajah istrinya yang lemas, lelah, lesu dan lunglai seperti orang yang kurang tidur, kelelahan dan kurang makan. 'Kasihan dia' pikir Leo dan akhirnya melepaskan pelukannya.
Amora kembali memilih pakaian di lemari Leo tapi Leo kembali memeluknya dari belakang. Menumpangkan dagunya di ceruk leher istrinya dan sesekali mengecupinya. Amora hanya menghela nafasnya panjang.
"Kok kamu lesu banget yank? Kayak kurang belaian gitu" tanya Leo.
"Kurang belai dari mananya kak, justru lemas karna dibelai berlebihan" jawab Amora.
Leo tertawa mendengar keluhan istrinya "Maaf dear, apa aku terlalu kasar mainnya?"
"Kak.....jangan bahas itu lagi. Aku malu. Lepasin dulu, aku mau pakai baju"
"Ngapain pake baju sih yank, toh juga dilepas lagi nanti"
"Kaaaaakkkkkkk" Amora semakin kesal dengan jawaban suaminya dan bersiap melayangkan pukulan ke arah suaminya. Leo dengan sigap menghindar.
Leo hanya tertawa dan pergi meninggalkan Amora begitu saja.
Leo kembali ke walkin closet menyeret kedua koper milik Amora. "Yank" panggil Leo.
"Apa lagi sih kak?" jawab Amora kesal tanpa melihat ke arah suaminya.
"Maaf yank, maaf ya. Cuman mau kasih tau, pakaian kamu ada di koper ini."
Amora menoleh ke belakang dan melihat 2 koper besar. "Kenapa ga kasih tau dari semalam sih kak" Amora semakin kesal dan marah.
"Jangan galak galak yank, aku juga baru tau tadi pagi dari mama. Kenapa jadi marah sih? Apa jangan jangan kamu hamil?"
"Please deh kak jangan ngaco. Mana ada hamil, baru ngadon tadi pagi. Emang nya hamil itu kayak buat donat, ngadon bentar tambahkan fermipan lalu tunggu 30 menit langsung ngembang".
"Bercanda yank. Udah jangan marah, pakai baju dulu gih habis itu langsung makan. Tadi aku udah bawa makanan buat sarapan pagimu".
"Tau ga sih kak, penyebab orang emosi itu apa aja?"
"Ga punya duit, lapar, kepanasan itu aja". jawab Leo.
"Belum semua kak, masih ada yang kurang. Salah satunya meladeni orang menyebalkan kayak kakak. Dan aku baru tau kalau kakak itu menyebalkan".
"Itu kan salah satu, kalau salah dua atau salah semua gimana?" tanya Leo lagi.
"Hahaha selamat sayang, akhirnya kamu tau asliku juga. Sayangnya kamu udah ga bisa lari kemana mana lagi. Kamu udah terjebak yank. Selamat menikmati" Leo bahagia melihat wajah kesal istrinya.
"Menyebalkannnnn" gerutu Amora.
Leo meninggalkan Amora yang sedang memakai bajunya, dia takut si bule lepas kendali kalau berlama lama memandang istrinya. Dia memilih menunggu Amora di sofa dan menonton tv.
Amora selesai memakai bajunya langsung menyusul suaminya. Dia mulai makan sarapan paginya dengan tenang karna Leo fokus menonton tv.
Selesai makan, Amora mulai membereskan sisa makanan dan piringnya. Tapi Leo melarangnya, "Biar aku aja yank. Kamu istirahat aja, aku tau kamu kurang tidur, lihat tuh mata kamu udah kayak panda".
"Tapi kak, aku mau sekalian ke bawah, mau menemui mama dan papa".
"Ga usah yank, ga bakalan ada yang bilang kamu menantu yang buruk hanya karena ga ikut sarapan tadi pagi atau ga menyapa mertuamu. Lagian mama dan papa udah berangkat ke luar negeri setengah jam yang lalu".
Amora semakin merasa bersalah karna mertuanya sudah berangkat ke luar negeri padahal dia masih tidur.
"Stop. Ga usah merasa bersalah yank, mereka ngerti kondisi kamu kok" kata Leo menjawab keresahan hati Amora.
"Sekarang kamu istirahat dulu, nanti sore aku antar ke asrama".
"Oh iya. Ini pil pencegah kehamilan, tadi mama kasih ke aku. Mana tau kamu butuh". kata Leo memberikan pil itu.
Amora terdiam sejenak dan pikiran buruk menghatuinya. Kenapa suami bahkan mertuanya memberikan pil itu kepada Amora. Apakah mereka tidak menginginkan anak dari Amora?
Amora akui kalau dia belum siap untuk hamil tapi saat suaminya memberikan pil itu, dia merasa suaminya tidak menginginkan dia menjadi ibu dari anak anaknya. Terlebih sang mertua yang memberikan pil itu. Dia sungguh terjebak dalam permainan ini. Amora hampir menangis karenanya.
"Don't get me wrong yank. I love you more than you know. Aku ga keberatan sama sekali kalau kamu hamil. Malah aku bakalan senang banget karna tidak ada alasan kamu pergi dariku dan ku rasa mama juga akan merasa senang dengan itu karna dari dulu dia pengen menimang cucu"
"Tapi semua tergantung dan atas keputusanmu bersedia atau tidak untuk hamil. Aku menikahimu karna aku mencintaimu bukan karna aku pengen kamu ngelahirin anak untukku. Kamu bukan mesin pencetak anak".
"Kita bakalan punya anak saat kamu bilang siap dan bersedia mengubah bentuk tubuhmu untuk mengandung anakku. Aku bisa menunggu dan mama papa juga ku jamin mau menunggu. Bahkan jika kamu tidak bersedia pun, kami tak akan pernah melarang karna kamu lebih berharga dari itu".
"Kamu mengerti kan yank? Jadi jangan pernah berpikiran negatif karna tujuan mama dan aku bukan melarangmu hamil tapi menyerahkan semua keputusan samamu". Jelas Leo panjang lebar dan memeluk Amora yang hampir menangis.
Amora begitu terharu dan tersentuh dengan penuturan Leo. Ternyata pikirannya salah. Dengan begitu dia merasa dihargai dan dihormati sebagai pemilik tubuh.
Amora begitu bersyukur memiliki Leo sebagai suaminya dan memiliki keluarga yang begitu tulus menyayanginya.
Amora semakin mengeratkan pelukannya ke Leo. Tapi keharuan yang melandanya langsung sirna beberapa detik kemudian.
"Kita menunda memiliki anak bukan berarti si bule tidak bisa berkunjung ke sarangnya. Malah akan semakin sering, jadi persiapkan tubuhmu menerima hadirnya si bule untuk memenuhi sarangnya. Si bule akan selalu siap siaga menggempurmu sampai tumbang" kata Leo tersenyum tengil.
Amora tidak menjawab Leo, dia hanya menggerutu dalam hatinya saja. 'Aku tidak tau, ini anugerah atau bencana dinikahi pria ini. Selain menyebalkan ternyata dia juga mesum. Kejutan apa lagi yang akan dia berikan nanti ya? Satu hal yang pasti, aku terjebak dengannya seumur hidupku tapi sayang aku begitu mencintainya'.
………………………………………………………………………………
Jangan lupa Subscribe, Like dan Comment ya genk kalo bisa vote dan gift jg hehehe...Lafyutu