
"Louis membantuku melepaskan has*rat yang sangat menyiksaku. Eh bukan deh, aku pun membantunya" lanjut Friday menjelaskan bagaimana dia dan Louis akhirnya bisa menikah.
"Membantu apaan coba, jelas kamu yang meminum obat peransang itu" bantah Frizzy.
"Ehh...dia menurunkan kewaspadaan di hari terakhir dan akhirnya kena racun itu juga walaupun efeknya tak sekuat yang ku alami" jawab Friday.
"Wow plot twist banget ya" Frizzy menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Tapi lucunya, sebelum dia mengunboxingku, dia menghubungi kakakku dan papaku dulu. Sempat sempatnya dia meminta izin untuk meniduriku hahahaha" tambah Friday. Mendengar penjelasan Friday mereka tertawa.
"Terus apa kata om Kalino? Iya aku memberimu SIM, surat izin meniduri begitu? Gunakan SIM itu dengan bijak dan lakukanlah secara perlahan wkwkwk. Kalau kak Sunday pasti langsung memberikan izin dan mungkin memberikan briefing singkat cara melakukannya hahaha" ucap Frizzy.
"Papa lega karena kak Louis yang menemukanku saat itu makanya papa membiarkannya melakukan itu padaku. Kak Sunday juga sudah tau dari awal karena kak Louis juga mengatakannya padanya sebelum kita berangkat. Kak Sunday yang mendesaknya sehingga dia mengikuti kita liburan ke luar kota" ungkap Friday.
"Tapi kenapa kamu bisa menghilang waktu itu jika keluargamu sudah tau keadaanmu?" tanya Frizzy lagi.
"Jadi ceritanya, setelah kami puas berbuat di kamar hotel aku tertidur. Tapi kak Louis tidak, dia pergi ke luar mencarikan aku obat, dia juga menghubungi keluargaku kembali dan berdiskusi tentang hal apa yang akan mereka lakukan nanti setelah aku bangun. Saat dia kembali ke kamar, aku sudah dibawa pergi oleh uncle Wetennov. Uncle tidak tau apa apa saat itu, dia merasa bersalah melihat keadaanku yang berantakan. Dia mengatur penerbangan saat itu juga dan membawaku ke luar negeri. Uncle yang tidak mengerti situasinya malah mengira jika aunty Jeanne yang sedang mencariku adalah salah satu dari musuhnya hingga akhirnya menculik aunty Jeanne dan juga membawanya bersama kami ke luar negeri. Keesok harinya, uncle mengabarkan keluargaku jika aku sudah berada di rumahnya dan menceritakan kejadian yang menimpaku. Papa yang khawatir saat menerima kabar dari kak Louis jika aku menghilang bisa bernafas lega karena aku sudah aman dibawah lindungan uncleku. Papa memberitahukan kepada kak Louis dimana aku berada dan langsung menyusulku setelah membantu Sarah. Kak Louis datang ke rumah uncle dan mengakui perbuatannya, jelas saja uncle marah. Aku tanpa sadar berteriak saat melihat kak Louis di rumah uncle dan membuat uncle salah paham. Uncle mengira jika aku trauma karena kak Louis jadi dia memukul kak Louis hingga babak belur dan harus dirawat di ICU. Keluargaku yang lain dan papa Yudha akhirnya menyusul ke luar negeri karena keadaan kak Louis yang sudah tidak berdaya di rumah sakit. Aku sadar jika itu bukan salah kak Louis bahkan aku berterima kasih karena dia sudah memperingatkanku dari awal dan menjagaku selama di liburan itu. Tapi uncle bukan orang yang mudah dihadapi. Untuk meloloskan diri, aku bilang pada uncle jika kami saling mencintai. Aku mengirimkan kode pada kak Louis agar mengikuti apa yang aku katakan. Kak Louis juga mengaku dan membenarkan jika kami saling mencintai dan sedang menjalin hubungan. Uncleku walaupun sangat kaku tapi pikirannya tidak kolot jadi dia bisa menerima alasan kami yang saling mencintai. Papa Yudha yang juga di sana malah memanfaatkan situasi itu untuk mendorong kami menikah. Tidak ada alasan bagi kami untuk menolak pernikahan, karena kami sudah mengaku jika kami saling mencintai. Dan akhirnya kami dinikahkan dengan syarat pernikahan ini hanya kami yang tau sampai musuh dibalik kejadian itu ditangkap. Malam pertama setelah kami resmi jadi suami istri kami tidur di kamar yang sama. Kami saling diam dan merasa canggung. Aku hanya bisa minta maaf pada Louis. Ideku memang meloloskannya dari cengkraman uncleku tapi juga membuat kami terjebak dalam pernikahan. Aku selalu mengucapkan kata maaf tapi dia mendiamkanku. Di depan uncle dia akan berubah menjadi suami idaman tapi saat kami hanya berdua dia mendiamkanku. Seminggu setelah kami menikah kami berbaring di atas tempat tidur, biasanya aku akan meminta maaf padanya tapi malam itu aku ikut diam. Suasana di kamar itu sangat sunyi dan mencekam, aku takut dia marah padaku".
Flashback.
"Mau sampai kapan kita seperti ini?" tanya Louis memecah keheningan.
Friday hanya diam, dia tidak mampu menjawab pertanyaan Louis.
"Apa kamu menyesal menikah denganku?" tanyanya kembali.
Friday masih belum mau membuka mulutnya tapi dia menggelengkan kepalanya. Harusnya dia yang menanyakan pertanyaan itu karena dia yang membuat pernikahan itu terjadi.
Louis hanya melirik dengan sudut matanya, dia masih terlentang di atas tempat tidur.
"Kalau kamu tidak menyesal kenapa kamu selalu minta maaf padaku?" tanya Louis lagi.
"Maaf kak, aku takut kakak marah karena ideku malah membuatmu terjebak dalam pernikahan ini" akhirnya Friday membuka mulutnya dan mengeluarkan suaranya.
"Kakak selalu mendiamkanku jadi aku takut" kata Friday lagi.
"Kamu tau kenapa aku mendiamkanmu?" tanya Louis.
"Coba tebak kenapa".
"Apa karna kakak marah padaku?".
"Iya jelas aku marah padamu".
Friday terdiam demi apapun dia ingin menangis saat ini. Louis tidak akan pernah marah padanya jika dia menjahilinya tapi kali ini suasananya berbeda. Ini pernikahan bukan hal candaan lainnya. Tidak kuat menahan diri untuk tidak menangis, Friday menangis dalam diam. Lama Louis menunggu Friday, dia tau saat ini Friday menangis karena dia bisa melihat bahu Friday yang bergetar dari sudut matanya. Tapi Louis masih terlentang dengan posisi yang sama.
"Apakah kamu akan menangis?" tanya Louis.
Friday yang awalnya menangis tanpa suara kini mengeluarkan suara tangisnya. "Aku sudah menangis huaaaaaağŸ˜" jawabnya.
Louis tersenyum, dia menahan diri agar tidak tertawa. Louis mengambil tangan Friday lalu menggenggamnya, Friday mulai meredakan suara tangisannya. "Ckck Cengeng".
"Aku marah, sangat marah. Kamu yang mendorongku ke pernikahan ini tapi sepertinya kamu yang menyesal. Tiap malam kamu akan minta maaf dengan wajah penuh penyesalan. Itu membuatku marah dan kecewa padamu" aku Louis.
"Maaf kak" Friday hanya bisa meminta maaf.
"Jadi apakah kamu menyesal aku yang menidurimu dulu dan apakah kamu menyesal kita sudah menikah sekarang?" Louis mengulangi pertanyaannya.
Bagaimana bisa Friday menyesal, alih alih menyesal dia malah berterima kasih.
"Tidak, aku tidak menyesal. Aku bersyukur itu kakak bukan orang lain".
"Ini pertanyaan terakhir yang akan menentukan masa depan kita. Jawab dengan yakin".
"Oke".
"Maukah kamu menikah denganku?".
"Kita sudah menikah kak".
"Ck...Maukah kamu menikah denganku".
"Apaan sih ga jelas".