Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Instan Karma



Dengan amarah yang sudah mencapai puncaknya, Celeb meraih telepon genggam itu lalu menolak panggilan telepon yang masuk. Tidak lupa juga dia mematikan telepon genggam itu dan melemparnya ke sofa seberangnya. Caleb kembali ke posisinya semula lalu melanjutkan apa yang ingin dia lakukan.


Tidak sampai semenit, Caleb sudah melakukan penyatuan dan memulai ritual goyangan mautnya diantara kedua kaki Alexa. Christian sangat puas melihat kekesalan pamannya itu. Dia tertawa sangat keras karena berhasil menjahili paman dan kekasihnya itu.


Christian yang masih fokus pada tertawa tidak menyadari bahwa Sarah sudah masuk ke ruangannya. Sarah sudah beberapa kali mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari pemilik ruangan. Akhirnya Sarah memberanikan diri untuk masuk karena pengunduran dirinya tidak bisa ditunda lagi. Seperti permintaan Friday dan Louis sebelumnya yang meminta Sarah beserta Anthony untuk segera pergi ke tempat persembunyian keluarga Kelvin.


Sarah masuk ke ruangan Christian lalu Sarah menyapa atasannya itu. "Permisi pak" sapa Sarah, dia semakin mendekat kepada Christian. Christian yang mendapat sapaan segera menghentikan tawanya dan memegang dadanya. Dia begitu terkejut.


"Maaf pak, tadi saya sudah mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban jadi saya langsung masuk" kata Sarah menundukkan kepalanya seraya memberikan penjelasan pada Christian sebelum dia bertanya.


"Tidak apa apa. Ada apa?" tanya Christian berusaha menetralkan detak jantungnya yang sempat berdetak tidak beraruran karena terkejut. Sarah terdiam, dia agar ragu menyampaikan kembali keinginannya untuk segera mundur dari pekerjaannya saat ini. Christian sudah tau alasan Sarah menemuinya hari ini tapi dia ingin memastikan kembali. Keheningan pun melanda keduanya.


Christian memainkan cursor mouse komputernya saat menunggu Sarah memberikan jawaban dan tidak sengaja menambah volume. "Ah..ahhh....ahhhh....shhh lebih dalam dad" suara desa*han perempuan tiba tiba terdengar di ruangan Christian. Christian lupa mematikan cctv yang tadi dia tonton. Dan karena panik mendengar suara Alexa yang sedang ditunggangi itu, Christian malah semakin menambah volume komputernya hingga full.


Sarah tau betul suara apa itu. Raut wajah Sarah seketika memerah mendengar suara itu. Bukan Sarah yang melakukannya tapi dia yang merasa malu. Tidak tahan berdua di ruangan atasannya sambil mendengar suara desa*han, Sarah pergi begitu saja meninggalkan atasannya yang masih berusahan mematikan tontonan panasnya.


Jangan tanyakan bagaimana perasaan dan raut wajah Christian saat ini. Dia malu setengah mati dan wajahnya kini memerah hingga telinganya. "Sa....", dia ingin menghentikan Sarah yang sudah diambang pintu tapi karena dia malu pada Sarah akhirnya dia tidak jadi memanggil Sarah kembali ke ruangannya.


Christian yang sudah kewalahan akhirnya memutus supply listrik ke komputernya dengan mencabut colokannya. Hanya cara itu yang terpikirkannya saat ini untuk mengatasi krisis tadi. Setelah komputernya mati, dia mengetuk ngetukkan dahinya ke meja kerjanya. Sekarang dia sudah tidak punya muka di depan Sarah. Sarah akan berpikiran jika dia adalah pria m*esum dan pria tidak berakhlak karena kedapatan menonton film por*no di kantor dan masih jam kerja. Untungnya Sarah tidak tau jika yang sedang dia tonton adalah siaran langsung, bahkan ator dan artisnya adalah paman dan kekasihnya sendiri. Itu akan semakin membuat citranya buruk. Sad Boy.


"Siyal. Karma bayar tunai" guman Christian yang berpikiran jika dia sedang menerima karma atas perbuatannya tadi. Mengerjai pamannya termasuk tidak menghormati orang tua.


"Sekarang bagaimana aku berhadapan dengan Sarah? Apa aku menerima surat pengunduran dirinya saja agar tidak bertemu lagi dengannya? Astagaaaa" kata Christian lirih. Dia kembali mengetukkan dahinya ke meja kerjanya. Dia berpikir untuk melepas Sarah.


"Tapi jika aku melepas Sarah, siapa yang akan menggantikannya?" guman Christian yang kembali galau. Sangat sulit untuk Christian melepaskan Sarah. Bukan hanya bekerja dengan sangat gigih dan rapi, Sarah tidak sekalipun berniat menggodanya di saat perempuan lain melakukannya. Dandanan Sarah yang polos, tertutup dan apa adanya membuat Christian nyaman bekerja sama dengan Sarah. Tidak punya niat untuk menggodanya saja sudah membantu Christian 40%.


"Apa aku jelaskan saja pada Sarah mengenai kejadian tadi?" pikir Christian lagi. Tapi dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. Apa hubungannya dengan Sarah hingga dia harus menjelaskannya, lagian dia mau ngapain di kantornya sendiri juga tidak akan ada yang melarang pikirnya lagi.


Lebih baik memasang wajah datar saja pikir Christian. Dia memutuskan untuk melupakan kejadian tadi dan pura puta tidak terjadi apa apa sebelumnya. Dia memanggil Sarah melalui telepon agar Sarah menemuinya di raung kerjanya.


Tidak berapa lama, terdengar suara ketukan pintu ruangannya yang Christian yakini adalah Sarah.


"Masuk" jawab Christian mempersilahkan orang di balik pintu untuk masuk. Dan benar tebakannya, itu adalah Sarah. Sarah masuk tanpa menutup pintu ruangan atasannya itu. Dia berdiri agak jauh dari meja kerja Christian.


"Iya pak, kenapa bapak memanggil saya?" tanya Sarah dengan kepala menunduk tidak berani menatap Christian. Sarah selalu menunduk saat bertemu dengan Christian tapi kali ini kepalanya lebih menunduk dari biasanya.


Christian menghela nafasnya kasar dan panjang. "Mendekatlah" pinta Christian.


Tapi Sarah menolak, dia masih berdiri di tempat semula. "Saya di sini saja pak" jawabnya.


Melihat pintu yang terbuka dan Sarah yang menjaga jarak darinya, bisa Christian tebak jika Sarah takut padanya. Sarah takut jika Christian akan mengajaknya berbuat yang enak enak dengannya. Hancur sudah imagenya di depan Sarah.


Dengan kejadian ini, dia tidak punya alasan lagi menahan Sarah bekerja sebagai sekretarisnya. Sarah terlihat tidak nyaman dengannya setelah kejadian tadi. Dia tidak ingin memaksakan kehendaknya dan berujung pada performa Sarah yang menurun.


"Apakah kamu benar ingin keluar dari perusahaan ini? Aku ingin memberikanmu waktu untuk berpikir kembali" kata Christian.


"Maaf pak, keputusan saya sudah final. Saya harus mengundurkan diri dan mengurus kakek saya yang sedang sakit sakitan" jawab Sarah.


"Saya bisa menaikkan gaji kamu dan cukup untuk menyewa perawat untuk merawat kakekmu" bujuk Christian lagi.


"Terima kasih atas kebaikannya pak, tapi sepertinya bapak lupa jika saya jiga punya tanggung jawab lain selain kakek saya. Saya juga mempunyai anak yang butuh perhatian saya pak. Saya merasa sedih harus meninggalkannya tiap hari untuk bekerja. Sudah lebih dari dua tahun dia diasuh oleh baby sitter. Saya ingin menjadi ibu yang selalu ada untuknya apalagi saat ini dia sudah mulai bersosialisi. Saya ingin membayar waktu saya dulu dengan melihat tumbuh kembangnya pak" jawab Sarah.