
"Bukankah itu berbahaya untuk kesehatan?" tanya Friday. Dia merasa iba kepada suaminya.
"Lebih berbahaya jika aku tidak tidur sama sekali" jawabnya singkat.
"Jangan konsumsi obat itu lagi kak. Pasti ada cara lain selain itu" usul Friday.
"Kami sudah melakukan berbagai cara sebelumnya tapi tidak berhasil Fri" jawab Louis putus asa.
"Atau kurangi dosisnya pelan pelan ya. Aku takut jadi janda muda dalam waktu dekat. Besok kita temui dokter itu lagi" putus Friday. Louis tertawa mendengarnya.
"Tidak akan ku biarkan kamu menjanda secepat itu" jawabnya yakin.
"Makanya berhenti mengkonsumsi obat itu walaupun itu atas resep dokter".
"Tapi jika aku tidak meminumnya aku tidak akan bisa tidur dan akan begadang semalaman" keluh Louis.
"Aku akan menemanimu begadang. Lagian aku tidak punya kegiatan lagi sekarang. Perusahaan sudah diurus oleh Amora, Kelvin dan Frizzy. Mereka juga dibantu oleh Charlie sekretaris kak Sunday" balas Friday.
"Ok baiklah, besok kita temui dokter untuk mengurangi dosisnya" Louis mengalah.
Friday mendekatkan diri dan mulai memeluk suaminya. "Ayo begadang malam ini" ajaknya pada Louis. Kebetulan sekali besok weekend, dia tidak punya jadwal mengajar. Selama di negara ini Louis mengajar secara online karena waktu cutinya sudah habis.
Mereka terus bercerita sepanjang malam, semakin larut suasananya semakin romantis. Friday tidak segan lagi untuk mencium bibir suaminya begitu pun dengan Louis. Setelah itu mereka kembali bercerita.
Kini Louis mencium bibir Friday begitu dalam dan melummatnya. Friday membalas ciuman itu dan mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Semakin lama ciuman itu semakin liar dan menuntut. Dengan nafas yang tereengah Louis melepas tautan bibir mereka. Wajahnya kini memerah menahan panas di tubuhnya setelah ciuman panas mereka. Louis mengungkung tubuh Friday di bawahnya.
"Bisakah kita melakukannya hari ini? Aku sudah menahannya beberapa hari ini" tanya Louis. Tentu saja Louis tersiksa tidur setiap malam disamping perempuan cantik yang sudah berstatus istrinya. Tapi dia takut jika dia memintanya malah membuat Friday takut atau kabur.
Tanpa pikir panjang Friday menganggukkan kepalanya mendandakan dia bersedia. Lagian mereka sudah menikah jadi sah sah saja jika ingin bercintaa bukan? Mereka juga sudah berjanji akan menjalani pernikahan ini dengan baik dan itu termasuk kebutuhan maka dia tidak akan menolaknya.
Louis kembali memanguut bibir Friday lalu turun kelehernya. Tangannya juga ikut bergerak menangkup dada Friday yang pas digenggamannya. Dia mulai meremas dada itu dengan lembut dari balik baju Friday. Tidak puas, Louis menyingkap baju tidur Friday untuk mencapai dadanya. Friday hanya memejamkan matanya menikmati semua perlakuan Louis, sesekali desssahan terdengar dari mulutnya.
Tanpa Friday sadari dia sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Begitu pun dengan Louis yang sudah tellanjang. Friday membuka matanya ketika Louis melebarkan kakinya. Louis mengambil posisi di antara kedua kaki Friday.
Louis mulai menggesekkan adiknya di gua milik Friday untuk menstimulasi pelumas alami dari gua itu. Friday tiba tiba saja menutup rapat kedua kakinya membuat Louis terkejut dan panik apalagi setelah melihat wajah Friday yang ketakutan.
"Kenapa sayang?" tanya Louis.
"Itu besar sekali. Tidak akan muat" jawab Friday menunjuk ke arah adik Louis yang sudah berdiri tegak.
"Itu terlalu besar, nanti punyaku robek" tolak Friday.
"Tidak akan robek, kemarin saja kita bertempur aku memakai senjata yang sama. Punyamu tidak robek dan muat kan? Tidakkah kamu tau jika punyamu elastis?" Louis mencoba memberi pemahaman pada Friday.
"Aku akan pelan pelan, sakitnya hanya sebentar saja. Nanti akan berganti jadi nikmat" Louis kembali meyakinkan Friday. Demi apa pun dia akan berusaha membujuk Friday agar mau melakukannya, ini sudah sangat tanggung pikir Louis.
Louis kembali mencium bibir Friday dengan lembut, Friday perlahan membalas ciuman itu. Setelah Friday rileks, Louis mencoba mendorong pinggulnya agar adiknya bisa masuk gua.
"Akhhhh sakit kak. Hentikan" Friday menahan perut Louis yang sedang berusaha mendorong adiknya masuk lebih dalam lagi ke dalam guanya. Tapi Louis yang sudah masuk setengah tidak membiarkan Friday menghalanginya lagi. Tadi dia sudah meminta izin di awal pertempuran ini maka jawaban itu yang akan Louis pegang. Terlihat egois tapi hassratnya juga harus disalurkan.
Louis mendorong kembali pinggulnya dan membenamkan semua batang adiknya ke dalam gua Friday. Dia mendiamkannya sebentar dan menatap wajah Friday yang menahan rasa sakit.
"Apakah sudah robek?" tanya Friday yang merasa bagian bawah tubuhnya sudah robek setelah adik Louis memasukinya.
"Sakitnya hanya sebentar, tahan sebentar lagi ya. Tidak ada yang robek. Kamu mau melihatnya?" tanya Louis.
Friday mengangkat kepalanya ingin melihat penyatuan dua tubuh itu dan memastikan jika guanya baik baik saja. Louis kemudian mengangkat kedua kaki Friday dan menyandarkannya di bahunya. Kemudia Louis memulai ritual bercocok tanam mereka.
Awalnya Friday meriintih kesakitan tapi lama kelamaan goyangan dari pinggul Louis membuatnya merasakan nikmat yang tiada tara. Walaupun sudah pernah melakukannya tapi ini adalah pengalaman pertama kali untuk Friday karena dulu dia dalam keadaan tidak sadar saat Louis mengunboxingnya.
Friday semakin merasakan kenikmatan seolah dibawa terbang ke langit ke tujuh. "Kak aku mau pipis" seru Friday.
"Itu bukan pipis tapi orga***sme" jawab Louis. Dia semakin mempercepat goyangan pinggulnya memberikan sensasi yang lebih nikmat lagi buat Friday. Sampai akhirnya Friday berteriak dan melepaskan diri dari adik Louis karena mendapatkan pelepasan pertamanya. Karena nikmatnya Friday juga mengeluarkan air seninya dan menyiram tubuh bagian bawahnya. Louis menunggu Friday menikmati pelepasannya, dia sangat senang melihat Friday yang mendapatkan orga***sme yang memuaskannya hingga tubuhnya ikut bergetar.
"Ahhh basah, sudah ku bilang aku mau pipis tapi kakak tidak percaya sih" Friday cemberut mendapati tempat tidur mereka yang basah karena air seninya.
"Tidak apa apa, kita bisa melanjutkannya di sana" jawab Louis. Kemudian dia membopong tubuh istrinya itu ke sofa. Louis membaringkan tubuh telannjang Friday di atas sofa lalu membuka kedua kaki Friday lebar. Kembali dia memasukkan adiknya tapi kali ini Friday tidak berteriak kesakitan lagi.
Louis melakukan ritual memaju mundurkar pinggulnya untuk mencapai nikmat dunia. Setelah mencapai puncak pelepasannya Friday dan Louis terkulai lemas. Louis membalik tubuhnya hingga dia berada di bawah dan Friday di atasnya. Dia tersenyum melihat istrinya yang sudah lemas tak berdaya setelah dia tunggangi. Sesekali dia mencium puncak kepala istrinya dan mengucapkan terima kasih tapi tidak ada jawaban dari Friday.
"Apakah kamu menikmatinya?" tanya Louis.
Friday menjawabnya dengan suara deheman saja.
"Apakah kamu puas dengan pelayananku. Berapa nilai yang akan kamu berikan?" tanya Louis lagi.
"Jangan berbicara padaku, aku sangat ngantuk. Aku mau tidur, jangan menggangguku" jawab Friday.