Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Masakan mama mertua



Louis menerima semua niatan baik mamanya dan berjanji akan menyampaikannya pada Friday.


"Sekarang pergilah" suruh Sita.


"Maaaaaaaaa...mama marah ke Louis? Kenapa mama berusaha mengusirku" tanya Louis merasa sedih karena lagi lagi mamanya seolah olah mengusirnya.


"Bukan, mama udah bilang alasannya. Sebentar lagi papamu akan datang menjemput jadi mama harus beres beres dulu. Mama tidak punya waktu untuk mengurusmu" jelas Sita.


"Ma..".


"Mama tidak marah sayang, sudah ya mama mau packing beberapa barang mama yang mau dibawa ke rumah kakek" kata Sita.


Sita memeluk Louis, "Kamu harus jaga kesehatan dan selalu hati hati selama di apartemen" pesannya.


Louis mencium kening mamanya. "I love you ma".


Sita tersenyum dan membalas Louis. "Mama akan selalu menyayangimu apapun yang terjadi".


Louis akhirnya pamit meninggalkan kamar orang tuanya walaupun hatinya sedikit resah. Dia melakukan panggilan telepon pada papanya untuk menanyakan perubahan sikap mamanya. Tapi papanya meyakinkan Louis jika papanya sudah memberikan pengertian pada mamanya jika Louis saat ini sibuk mengurus proyek baru mereka. Dan ditambah lagi Leo yang saat ini sedang liburan bersama keluarga kecilnya mengharuskan Louis mengambil alih tanggung jawab Leo.


Alasan itu cukup masuk akal bagi Louis. Tidak tau saja Louis jika Yudha membohonginya dan sudah membocorkan rahasia pernikahan Louis dengan Friday dan bahkan Yudha juga sudah mengatakan jika saat ini Friday sedang hamil anak kedua mereka.


Sesampainya di parkiran apartemen, Louis meminta bantuan beberapa satpam untuk membawakan barang bawaannya ke apartemennya. Dia juga meminta bantuan Kelvin yang kebetulan baru sampai di parkiran bersama Frizzy. "Siyal" batin Kelvin.


Louis mengucapkan terima kasih dan memberikan tips pada satpam yang telah membantunya membawa barang bawaannya sampai ke depan pintu apartemennya. Setelah satpam pergi, dia juga menawarkan uang pada Kelvin sebagai tanda terima kasih telah membantunya. Jumlahnya lebih banyak daripada tips satpam tadi. Louis hanya bercanda dan Kelvin tau itu tapi entah kenapa Kelvin merasa kesal. Louis senang melihat reaksi Kelvin pergi begitu saja dan bersungut sungut sepanjang koridor karenanya. Sepertinya jiwa jahil Friday menular padanya.


Louis menekan pin pintu apartemen dan masuk setelah pintu terbuka. Friday yang sedang duduk santai di ruang tamu terkejut dengan kehadiran suaminya. Dia menghampiri suaminya yang masih di depan pintu sedang memindahkan barang.


"Loh kok kakak kembali ke sini? Dan ini apa?" tanya Friday dan menunjuk semua barang bawaan Louis.


"Mama mengusirku" jawab Louis tanpa melihat istrinya. Dia masih sibuk mengurusi barang barang itu. Friday merasa bersalah karenanya mama mertuanya marah dan mengusir Louis.


Friday pergi meninggalkan Louis untuk mengambil telepon genggamnya.


"Mau ke mana sayang?" tanya Louis menghentikan langkah Friday.


"Mau telepon mama Sita, aku mau minta maaf karena menahan kakak selama 2 hari ini hingga akhirnya diusir" jawab Friday. Louis tertawa mendengar jawaban istrinya.


"Kenapa malah menertawakanku?" Friday bersungut.


"Aku hanya bercanda sayang, tidak mungkin mama mengusir anak tampan dan baik sepertiku" jawab Louis.


"Tapi kenapa kamu balik lagi dan membawa banyak koper?" tanya Friday lagi.


"Syukurlah" saut Friday.


Louis mengambil beberapa paperbag yang dititip Sita tadi padanya untuk diberikan pada Friday.


"Dari mama untuk kamu" kata Louis.


Friday menerima paperbag itu dan membawanya ke ruang tamu. Louis mengikuti istrinya dan duduk di sampingnya. Friday membuka satu per satu paperbag untuk melihat isinya.


"Ini..." Friday melihat ke arah suaminya. Louis tersenyum dan mengangguk.


"Mama membeli semua pakaian yang sempat kamu sentuh, katanya mama merasa tidak enak karena mengganggu waktu belanjamu" jelas Louis. Padahal sebenarnya Sita sengaja membelinya untuk cucu dan menantunya.


Friday dengan senang hati menerimanya karena sesuai dengan seleranya. Apalagi dress putih yang ada di dalam kotak itu, sangat cantik dan pastinya bisa dia gunakan selama dia hamil karena modelnya yang over size.


Friday membantu Louis membuka satu per satu koper yang dibawa oleh Louis dari rumahnya. Ternyata 2 koper berisi pakaian Louis dan keperluan Louis. Sedangkan koper lain adalah makanan ringan yang dibuat sendiri oleh Sita. Ada juga container makanan berisi makanan kesukaan Louis yang dimasak oleh Sita. Melihat itu seketika Friday meneteskan air liurnya.


Dia membawa container itu ke dapur yang merangkap jadi ruang makan. Dia membuka dan mengambil sebagian lalu meletakkannya di atas piring. Dia makan dengan lahapnya. Louis hanya tersenyum memperhatikan istrinya yang sangat hobby makan itu.


"Bisa ku makan semua?" tanya Friday.


"Tidak boleh. Sudah cukup, kamu sudah makan 2 piring nanti kalau lanjut makan bisa bisa perutmu meledak" jawab Louis.


Louis menutup kembali container itu dan menyimpannya ke kulkas. Dia kembali ke tempat istrinya berada dan mengelus kepala Friday yang menampilkan wajah kecut.


"Itu untukmu semua, tapi makannya jangan sekaligus. Pelan pelan saja, tidak akan ada yang berebut denganmu. Nanti kamu kekenyangan jadi susah bergerak dan sakit perut" jelas Louis.


Friday mengangguk mengerti. "Pokoknya itu untukku semua" titahnya.


"Grant di mana?" tanya Louis setelah sejam lebih baru menyadari anaknya tidak ada di sana. Dasar ayah durhaka.


"Tadi mama menjemputnya, tidak tau mau dibawa ke mana" jawab Friday dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. Dia kembali mengunyah makanan lain yang Sita siapkan untuk Louis.


Louis kembali menyimpan makanan itu ke kulkas. Buru buru dia menyimpan makanan lainnya sebelum Friday membuka dan menyicipinya. Bukannya pelit tapi Louis hanya khawatir karena Friday sudah makan banyak.


Louis menarik tangan Friday agar meninggalkan dapur. Dia ingin menghentikan Friday dari godaan makanan itu.


Louis memegang kedua bahu Friday dan menekannya agar dia duduk di sofa. Dia juga duduk di samping Friday. Perlahan dia menjatuhkan tubuhnya di sofa dan kepalanya di pangkuan Friday. Wajahnya menghadap ke perut dan tangannya dilingkarkan ke pinggang Friday.


Louis menyingkap baju yang dikenakan Friday kemudian menciumi perut Friday yang membuncit lebih dari biasanya. Perut buncit itu bukan hanya karena kehamilan Friday tapi juga karena hasil masakan Sita tadi. Friday membelai rambut Louis yang sibuk menciumi perutnya, dia memejamkan matanya menikmati ciuman suaminya.


Ciuman Louis mulai naik ke dada Friday. "Euggghhh" suara legu*han Friday mulai terdengar. Louis tidak lama di bagian dada, ciumannya naik lagi menuju bibir Friday. Ciuman lembut Louis di bibir Friday disambut baik oleh pemilik bibir. Louis perlahan duduk menyamping merengkuh tubuh istrinya.