
"Tenang saja, pasti akan kami jaga" jawab Kelvin. Walaupun Kelvin juga belum tau apa pun tentang Alexa dan keterlibatan Frizzy dan Friday tapi dia menyanggupi permintaan Friday. Nanti dia akan meminta Frizzy menjelaskannya padanya setelah Friday dan Louis pulang.
"Tapi kenapa bisa Alexa bersama kalian" Louis tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Nanti aku jelaskan di rumah ya. Sudah terlalu lama aku pergi dari rumah, Grant pasti mencariku" Friday khawatir jika anaknya akan mencari carinya seperti sebelumnya.
"Ada mama yang jaga kok, tidak perlu khawatir" Louis menenangkan Friday.
"Tetap saja aku khawatir, apalagi akhir akhir ini dia sering tantrum. Mama juga pasti kewalahan mengatasinya" ungkap Friday. Memasuki usia dua tahun, anak pada umumnya sudah mulai mengerti tentang emosi dan bisa menyalurkannya dalam berbagai cara misalnya membantah atau berteriak marah marah dan bersikap emosional yang dikenal dengan istilah tantrum.
Louis sepertinya masih ingin mendengarkan penjelasan. "Aku juga lelah, ingin istirahat" lanjut Friday. Dan benar saja setelah mengatakan dia lelah, Louis langsung bergegas membawa Friday pulang untuk istirahat. Louis tidak mau jika istrinya kelelahan apalagi saat ini mereka sedang berada di rumah sakit, lingkungan yang tidak baik untuk ibu hamil dan anak. Dia akan memendam rasa penasarannya hingga sampai di apartemen.
Sepeninggalan Friday dan Louis, Frizzy menceritakan semua kejadian hari ini pada Kelvin. Kelvin yang mendengarkan hanya mengangguk menandakan dia paham dengan cerita Frizzy. Pada saat Frizzy sedang asik berbicara dengan Kelvin, Alexa terbangun. Alexa memang kerap sekali terbangun padahal tidurnya masih sebentar mungkin efek kehamilannya dan juga merasa kurang nyaman di area selang*kangannya karena kateter yang dipasang di area itu. Dia ingin memanggil Frizzy tapi niat itu diurungkannya karena ingin tau apa yang Frizzy dan Kelvin bicarakan.
Bukannya tidak ada sopan santun karena mencuri dengar percakapan orang lain, hanya saja Alexa meningkatkan kewaspadaannya terhadap lingkungannya apalagi setelah kejadian sebelumnya. Alexa tidak mau lengah dan merasa perlu tau apa yang mereka bicarakan mana tau menyangkut dirinya.
Dan benar saja dugaannya, mereka membicarakan tentangnya. Tapi Alexa memilih diam dan mendengar, jika nanti ada bahaya dalam pembicaraannya maka dia akan menyusun rencana agar bisa kabur dari sana.
"Aku tidak tau persis alasan kenapa Alexa bisa menghampiri kami, tapi dari ucapan dan tingkahnya sepertinya ada ancaman yang mengintainya hingga dia meminta perlindungan pada kami. Katanya mereka mau membunuhnya dan bayinya. Alexa tidak memberitahukan mereka yang dia maksud siapa" Frizzy mengungkapkan pendapatnya. Lagi lagi Kelvin hanya mengangguk.
"Tolong bantu cari tau siapa yang Alexa maksud ya" pinta Frizzy pada Kelvin lagi karena tidak ada response lain dari Kelvin selain mengangguk.
Kali ini Kelvin tidak mengagguk lagi. Dia merasa mencari tau yang berhubungan dengan Alexa bukanlah tugas dan kewajibannya. Lagian apa untungnya buat Kelvin membantu orang yang berjasa atas kekacauan di hidupnya dan irang terdekatnya.
"Uantuk apa aku membantunya? Apakah Friday yang memintanya? Aku heran kepa Friday masih saja baik padanya setelah apa yang Alexa lakukan selama ini" jawab Kelvin.
"Friday tidak memintanya tapi aku. Aku yakin keputusan Friday untuk membantunya adalah yang terbaik. Jadi aku ingin membantunya juga" balas Frizzy.
"Apa sih yang ada di pikiran kalian. Aku tidak setuju, tidak ada untungnya juga. Aku tidak menuntutnya ke pihak berwajib saja sudah suatu bantuan yang besar. Jadi jangan minta yang lain lagi, aku ke sini juga karna Friday yang memintaku dan aku tidak tau jika harus menjaga Alexa" tegas Kelvin.
"Tapi vin.." ucapan Frizzy terpotong oleh Kelvin.
Kelvin dan Frizzy terdiam, hingga akhirnya Kelvin bangkit berdiri dan pamit ingin ke kantin dulu karena dia belum makan dari tadi.
"Aku pergi sebentar ya. Aku sudah menempatkan beberapa bodyguard di sekitaran sini jadi jangan khawatir" ucap Kelvin.
"Iya, makasih Vin. Nanti tolong bawakan makanan juga ya" pinta Frizzy.
"Kamu belum makan? Ya udah ayo bareng saja" Kelvin khawatir.
"Aku sudah makan, maksudku bukan untukku tapi untuk Alexa" jawab Frizzy.
Kelvin menghela nafasnya panjang menahan kesal. Bisa bisanya Frizzy masih menghawatirkan Alexa dan menitipkan makanan juga. Tapi melihat wajah Frizzy yang sedih membuatnya berubah pikiran. "Iya nanti bawakan makanan yang bergizi khusus ibu hamil" Kelvin mengalah. Mendengar ucapan Kelvin, Frizzy mengubah raut wajahnya menjadi senang dan itu membuat Kelvin ikut senang. Ya begitulah Kelvin yang terkenal bucin walaupun selalu dapat penolakan. Apapun akan dia lakukan agar bisa melihat wanita yang dicintainya bahagia walau harus mendustai hati nurani.
Kelvin menutup pintu, Frizzy mengalihkan pandangannya ke arah brankar tenpat Alexa istirahat. Frizzy terkejut karena melihat Alexa sudah bangun, dia takut jika Alexa mendengar pembicaraan mereka dan salah paham padanya karena ucapan Kelvin yang terang terangan tidak suka dengan Alexa
Frizzy menghampiri Alexa, dia duduk di kursi tepat di samping brankar itu. "Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Frizzy mencoba bersikap biasa saja.
"Maafkan aku Zy, aku akan pergi setelah infusnya selesai. Aku tidak ingin membebani kalian" ucap Alexa.
"Kamu mendengar semuanya?" tanya Frizzy dan diangguki oleh Alexa.
Frizzy menghela nafasnya panjang ingin menetralkan detak jantungnya yang berdebar tidak karuan karena merasa bersalah.
"Jangan salah paham, Kelvin hanya terbawa suasana dan masih kesal padamu. Sama seperti Friday, aku akan menunggu penjelasan darimu. Tidak mungkin kamu menyakiti kami jika tidak ada kesalahan yang membuatmu sampai bertindak sejauh itu. Jangan khawatir aku karena selama ada aku dan Friday maka kamu akan aman bahkan Kelvin juga akan menjagamu" balas Frizzy. Alexa menangis sedih bercampur haru, kehamilannya membuatnya sedikit sensitif.
"Bisakah kamu berbagi denganku? Aku tidak mau menghakimimu hanya karena dari sudut pandangku kamu terlihat salah. Jangan memendamnya sendirian Lex, diammu akan membuat kita salah paham. Aku merindukan saat kita saling terbuka dan berbagi di saat susah dan senang. Bahkan aku sampai lupa kapan terakhir kalinya kita berkumpul, bercanda, saling mengolok, memaki, dan melakukan hal konyol. Apa kamu tidak mau seperti itu lagi?" Frizzy akhirnya menangis juga.
Frizzy sedih melihat Alexa yang seperti itu dan juga persahabatan mereka yang hancur.