Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Bab 147



Menjelang siang Friday terbangun, dia merasakan lapar kembali. Dia meminta pelayan di rumahnya untuk mengantarkan makanan ke kamarnya. Tidak lama Louis pun bangun dan menyusul Friday di sofa. Dia merebahkan dirinya di sofa, berbantalkan paha Friday.


"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Louis.


"Kakak tidur telalu nyenyak, jarang jarang kakak bisa menikmati tidur yang pulas seperti itu. Aku tidak tega membangunkanmu" jawab Friday.


Louis tersenyum mendengar pengakuan Friday, dia mendongkakkan kepalanya melihat Friday yang sedang menunduk melihatnya juga.


Lalu Louis memajukan bibirnya. "Kiss me" pinta Louis. Friday semakin menunduk agar bisa meraih bibir suaminya. Dia mencium bibir Louis seperti permintaan suaminya itu.


"Aku lapar" ucap Louis.


"Sebentar lagi makanan akan datang, tadi aku sudah meminta pelayan membawakannya. Aku pun sudah lapar makanya aku bangun" jawab Friday.


"Bukankah lebih baik kita makan di luar saja? Kita bisa jalan jalan dan melakukan hal yang dilakukan orang pacaran pada umumnya? Menonton di bioskop, menemanimu belanja atau sekedar nongkrong di cafe. Jarang jarang kita punya waktu luang" ajak Louis Louis.


"Jangan khawatir karna sekarang aku pengangguran jadi aku punya banyak waktu luang" tambah Louis.


"Jangan memaksakan diri untuk pergi ke keramaian kak. Aku tau kamu tidak menyukainya. Jangan hanya untuk menyenangkanku, kakak tersiksa. Aku senang dimana pun asal bersamamu" jawab Friday.


"Kamu paling mengerti diriku. I love you" ucap Louis.


Louis akui dia benci dengan hiruk pikuk kota. Dia senang menjadi dosen karena senang mengajarkan ilmu yang dia ketahui kepada orang lain dan mendapatkan banyak pandangan berbeda dari mahasiswanya tapi dia paling malas untuk bersosialisasi. Jika bukan untuk diskusi literatur, Louis akan menolak ajakan koleganya mentah mentah.


Louis lebih senang menjalani hidup yang tenang, tidak ribut dan tentram. Tapi sekarang dia ingin mengubah pola hidupnya yang menyendiri demi istrinya. Dia tau bahwa istrinya suka bergaul, dan ingin mencoba memberikan kebebasan itu.


Namun yang Louis dapatkan adalah Friday mengerti dirinya. Dia tidak pernah memaksa Louis untuk seperti dirinya yang senang di keramaian. Dia akan menemani Louis dikesunyian dan sebaliknya Louis akan aelalu mematuhi apapun yang Friday ucapkan kepadanya karena mereka tidak lagi dua tapi sudah menjadi satu.


Para pelayan datang menyajikan makan siang untuk Friday dan Louis di kamar. Louis dan Friday tampak senang menikmati makan siang mereka.


Setelah makan mereka berencana ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi kehamilan Friday. Louis memaksa Friday melakukan USG kembali agar dia bisa menyaksikan sendiri bagaimana hasil goyangan mautnya bertumbuh di dalam rahim Friday. Dari sana mereka akan langsung menemui Sarah kembali dan pamit pada Sarah sebab mereka akan pulang ke rumah mereka yang ada di luar negeri.


Mereka berangkat ke rumah sakit dengan drama mabuk darat sepanjang perjalanan. Beruntung mereka sudah membawa kantong plastik sebelum mereka berangkat. Itu bisa digunakan untuk menampung isi perut mereka yang keluar.


Sampai di rumah sakit mereka beristirahat sejenak dan makan di kantin. Mereka kembali lapar karena mabuk perjalanan yang mereka alami sudah mengosongkan perut mereka.


Setelah makan mereka menemui dokter spesialis kandungan, mereka sudah membuat janji sebelum berangkat ke rumah sakit. Setelah Louis puas memandangi layar hitam putih yang menunjukkan foto anaknya, mereka segera menemui Sarah.


Louis pulang ke rumahnya menggunakan taxi, tidak lupa dia membawa beberapa kantong plastik sebagai persiapan darurat jika mualnya kambuh. Sesampainya di rumah, Louis berpapasan dengan papanya. Mereka langsung menuju ruang kerja papanya untuk membicarakan sesuatu.


"Pa, Friday hamil" Louis tersenyum dengan lebar memberitahukan jika istrinya sedang mengandung buah cinta mereka pada Yudha.


"Hmmm papa sudah beri selamat 4 hari yang lalu" jawab Yudha tanpa ekspresi.


"Papa sudah tau 4 hari yang lalu? Maksud chat papa yang bertuliskan 'congrats' itu karna Friday hamil?" tanya Louis tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Iya, emangnya apa lagi yang perlu diselamatin darimu? Pernikahanmu kan sudah lewat kenapa lagi diselamatin? Tentu aja karena istrimu hamil makanya dapat selamat sekarang" balas Yudha.


"Jadi aku orang terakhir yang tau jika Friday hamil" ucap Louis lirih, wajahnya berubah gelap.


"Oh jadi kamu baru tau? Hahaha. Ternyata Wetennov masih menyimpan dendam padamu. Mengsabar ya nak, Wetennov memang pendendam" Yudha tertawa senang mendengar penderitaaan sang anak.


"Omong omong, Louis sudah resmi mengundurkan diri dari kampus. Rencananya besok kami akan kembali ke rumah yang ada di luar negeri" ucap Louis.


"Iya papa mengerti. Kalian untuk sementara memang lebih aman tinggal di sana. Apalagi pamanmu si Caleb itu sudah mulai curiga tentang identitasmu. Beberapa kali dia mencoba meretas system di Scaff Grup bahkan Hampard Grup juga tidak luput dari retasannya. Jadi lebih baik kalian segera pindah dan menetap di sana, Wetennov akan selalu melindungi kalian. Tanggung jawab perusahaan yang ada di sana dan kontrak kerja sama dengan perusahaan lokal yang sedang berlangsung juga papa serahkan padamu" kata Yudha.


"Baik pa. Terima kasih banyak sudah mendukungku hingga saat ini. Louis ingin meminta bantuan pada papa, ini soal izin dari mama. Aku takut mama tidak memberikan izin padaku untuk menetap di luar negeri. Papa bisa mengurusnya" pinta Louis.


"Ini saran papa padamu dalam menghadapi wanita termasuk mama dan istrimu. Mama tidak akan pernah memberimu izin jika kamu minta izin. Jadi hal yang harus kamu lakukan adalah tidak perlu minta izin langsung saja eksekusi, setelahnya baru minta maaf. Lebih baik minta maaf dari pada minta izin Lo. Percaya sama papa, itu akan berhasil" nasehat Yudha.


"Jika dia mengomel lakukan saja seperti apa yang kita lakukan kepada mama. Berpura puralah mendengarkan ocehannya dan tunjukkan raut wajah yang bersalah. Jangan berikan solusi apapun saat mereka bertanya karna mereka tidak akan dengar. Mereka berpikir bukan dengan logika tapi dengan hati. Jadi semua jawaban kita belum tentu dia terima karena cara berpikir kita berbeda. Tapi jika kita memberinya sedikit cinta dia akan membalasnya berkali lipat karena mereka lebih mengutamakan perasaan" tambah Yudha.


Louis hanya bengong mendengar jawaban papanya.


"Dan satu lagi, apapun masalahnya langsung minta maaf. Kamu benar atau salah pokoknya itu salahmu dan kamu yang harus minta maaf" tambah Yudha lagi.


"Apa papa selama ini pura pura minta maaf saja?" tanya Louis.


"Oh jelas. Minta maaf adalah solusi tercepat dan paling ampuh" jawab Yudha.


"Baiklah" balas Louis. Dia akan mendengarkan nasehat papanya ini. Dia percaya dengan perkataan papanya karena dia sendiri sudah membuktikannya.