
Christian menghampiri Alexa ke kamarnya di lantai dua. Dia mengetuk pintu kamar Alexa. "Lex, buka pintunya" pintanya dengan lembut. Tapi Alexa diam, tidak menjawab maupun membukakan pintu.
"We need to talk, please open the door" kata Christian lagi. (Kita harus bicara, tolong buka pintunya).
Christian yang tidak mendapati jawaban pun tidak menyerah, dia kembali mengetuk pintu kamar Alexa.
"Please Lex, aku mau jelasin semuanya, biar tidak ada kesalah pahaman diantara kita" kata Christian mencoba menjelaskan. Tapi bukannya mendapatkan kesempatan, Christian malah mendapatkan suara tangisan dari Alexa.
Suara tangisan itu terdengar pilu dan semakin melemah, karena keadaan Alexa yang tidak baik baik saja. Dia baru pulang dari rumah sakit, yang artinya Alexa saat ini sedang sakit.
Tangisan itu menusuk relung hati Christian, dia semakin khawatir "Lex kalau kamu ga buka pintunya sekarang, aku dobrak" ancamnya.
Christian mulai mendobrak pintu, tapi belum berhasil membuka pintunya.
"Please go, let me alone" usir Alexa. Dia tidak menyangka kalau Christian akan senekat itu mendobrak pintunya.
"Tidak, sampai kamu mendengarkan semua penjelasanku" jawab Christian.
"Kalau kamu tidak mau pergi biar aku yang pergi, aku bisa melompat dari jendela" kata Alexa. Apakah kenekatan Christian masih berlaku setelah mendengar kenekatan Alexa?
"F*ck" Christian mengumpat pelan, dia frustasi saat ini. "Fine, aku pergi sekarang, semoga besok kamu bisa lebih tenang dan kita bicarakan hal ini. Aku akan terus datang sampai kamu mau dengarin penjelasanku" kata Christian setengah berteriak. Berharap Alexa mau mendengarnya.
Setelah Christian pergi, Alexa menangis kembali. Dia memukul mukul dadanya yang begitu sesak. Dekat maupun jauh, tetap saja Friday bisa menghancurkan hatinya hingga berkeping keping. "Aku kalah lagi Fri. Kenapa kamu mesti muncul lagi" teriak Alexa.
Selama hampir 3 tahun ini tanpa adanya Friday di kehidupannya, Alexa merasa damai dan jalan hidupnya sangat lancar. Bahkan dia bisa dekat dengan Amora yang selama ini hanya menempel dengan Friday. Hanya dalam semalam saja, Friday bisa memutarbalikkan dunianya.
Selama seminggu ini, Christian selalu datang mengunjunginya dan mengajak Alexa berbicara hati ke hati tapi Alexa seperti enggan mendengarnya bahkan terlihat jijik melihat Christian.
Selama seminggu ini pula, Christian dan Alexa tidak masuk kerja. Alexa tidak bisa fokus melakukan pekerjaannya sebagai dosen dalam keadaan seperti ini begitupun Christian. Beban berat masih menyelimuti hati dan pikiran mereka.
Caleb juga tak kunjung mau ditemui oleh Christian, padahal Christian ingin menanyakan keadaan Alexa dari pamannya karena Alexa tidak mau bertemu dengannya. Kenapa semua orang seperti ingin menghindarinya, terutama Caleb yang jelas tau bahwa semua ini hanya kesalahpahaman.
Chtistian semakin frustasi karena Friday juga tidak menerima panggilan telepon darinya bahkan dia di blok. Sungguh dunia yang tidak adil menurutnya. Dia akui ini kesalahannya tapi tidak adakah kesempatan untuknya untuk minta maaf dan menjelaskan semuanya?
Christian kembali bersiap pergi ke tempat Alexa, hari ini dia bertekat untuk menyelesaikan semuanya. Dia tidak peduli jika Alexa menolaknya seperti biasanya. Jika hari ini misinya gagal, dia akan menyerah dengan hubungannya bersama Alexa. Dia merasa buang buang waktu jika harus seperti ini terus, pekerjaannya di kantor juga terbengkala.
Christian menekan bel pintu, dia menunggu sampai pintu dibuka. Jika sampai 5 menit pintu tidak terbuka maka Christian akan masuk sendiri. Hal yang tak diduga terjadi, Alexa membukakan pintu.
Christian terdiam di tempatnya berdiri, dia bingung dan menerka jika Alexa tidak melihat monitor dan langsung membuka pintu. Jika Alexa tau itu dirinya pasti pintu tidak akan dibukanya.
"Ya udah kalau tidak mau masuk" kata Alexa mulai menutup pintu kembali.
"Sorry, aku mau masuk" kata Christian masih dengan wajah bingungnya.
Mereka duduk di ruang tamu, mereka tenggelam dalam pikiran masing masing. Suasana hening hingga 15 menit. Tidak ada yang memulai percakapan.
"Lex".
Mereka memulai percakapan bersamaan.
"Kamu duluan saja".
"Kakak duluan".
Lagi lagi diucapkan secara bersamaan. Kini keduanya kembali terdiam.
"Baiklah, aku duluan" kata Alexa. Alexa menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Kak, ayo kita akhiri hubungan ini" pinta Alexa.
"Baiklah" jawab Christian dan menganggukkan kepalanya.
Terlihat kesedihan dan kekecewaan di wajah Alexa. Ternyata Christian memanng hanya mempermainkannya. Bodohnyaa dia selama ini begitu mudah percaya dengan kata kata cinta dari buaya kardus di depannya ini.
"Selamat dan semoga bahagia bersama Friday" kata Alexa lagi. Air matanya kembali membanjiri wajahnya. Sisa air mata kemarin saja belum kering, sekarang harus kembali basah.
Alexa beranjak dari tempat duduknya, dia akan packing semua barang barangnya dan pindah dari apartemen Christian.
Christian mencekal pergelangan tangannya dan meminta Alexa untuk duduk kembali. Hatinya kembali tertusuk melihat Alexa menangis.
"Mari kita berpisah tapi setelah kamu mendengarkan penjelasan dariku. Aku akan menyetujui apapun pilihanmu. Tapi aku masih berharap kamu bisa memberikanku kesempatan kedua" kata Christian.
Alexa menyetujui untuk mendengarkan penjelasan dari Christian.
"Semuanya salahku, aku mengakui semua memang kecerobohanku. Aku berfikir bahwa kamu adalah putri dari keluarga Alcantara. Pertama kali aku melihatmu, kamu begitu akrab dengan Sunday dan kedua kali aku melihatmu, kamu memakai pakaian yang sama dengan keluarga Sunday di pernikahannya. Jadi aku meminta bantuan kakek untuk meminangmu dan ternyata itu Friday" ungkap Christian.
Tanpa Christian lanjutkan penjelasannya, kini Alexa mengerti kenapa pertunangannya gagal malah menjadi pertunangan antara Christian dan Friday. Alexa tidak mendengar penjelasan Christian lagi, dia tenggelam dalam pikirannya dan menimbang kembali keputusannya untuk berpisah. Bukan niat Christian untuk menghianati dan melukainya.
"Setelah tau cerita sebenarnya, apakah kamu masih mau berpisah? Kalau kamu mau berpisah, aku tidak akan memaksamu untuk tetap tinggal. Tapi jika kamu masih mau tetap bersamaku, aku akan berjuang untukmu" kata Christian.
"Aku tidak mau kalau kakak berjuang untukku" jawab Alexa. Jawaban itu membuat Christian kecewa, dia sudah mempersiapkan hatinya untuk menerima penolakan Alexa tadinya tapi saat menerima penolakan itu tetap saja terasa sakit dan kecewa.
"Tapi aku mau kita sama sama berjuang untuk hubungan kita. Aku sadar aku juga salah karena tidak terbuka soal keluargaku padamu kak. Kedepannya mari kita sama sama terbuka dan saling jujur" sambung Alexa.
Christian reflek memeluk Alexa, dia bahagia dengan jawaban Alexa. "Terima kasih sayang, aku mencintaimu. Kini aku yakin bahwa kamu yang terbaik untukku". Separuh beban di dadanya selama seminggu ini kini hilang sudah. Kini fokusnya adalah membujuk Friday untuk membatalkan pertunangan secara damai.
"Apa yang akan kakak lakukan dengan pertunangan itu?" tanya Alexa.
"Aku akan membatalkannya dan melepas 25% saham" jawab Christian.
"What?" tanya Alexa yang terkejut.