
Suster yang membantu persalinan langsung menyerahkan bayi mungil Alexa pada Jeanne, dengan sigap Jeanne menjepit plasenta yang memanjang itu. Setelah itu Jeanne mengelap tubuh bayi itu dengan sangat lembut lalu memiringkannya. Jeanne membantu membersihkan area mulut si bayi karena cairan yang keluar dari mulut bayi Alexa.
Suster segera membersihkan area bawah Alexa, sedangkan Frizzy langsung memeluk Alexa. Alexa menangis seketika mendengar suara bayi yang telah lama dia nantikan. Rasa sakit yang dia rasakan tadi meluap seketika saat mendengar suara bayinya. Kelvin juga terlihat bahagia akhirnya Alexa melahirkan dengan selamat walaupun tangannya penuh dengan cakaran tapi itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang mereka dapat.
Friday segera mengakhiri panggilan teleponnya setelah mengabari orang tuanya jika Alexa telah melahirkan. Belum sempat ayahnya menanyakan jenis kelamin dan keadaan Alexa, Friday sudah menutup telepon dan beranjak dari tempatnya beristirahat.
Alexa yang sudah kehabisan tenaga ditambah lagi kurang istirahat beberapa hari sebelumnya membuatnya sangat mengantuk. Matanya mulai menutup, walau rasa ingin melihat wajah putrinya sangat besar tapi rasa kantuknya jauh lebih besar lagi. Suster yang melihat itu pun meminta Friday dan Frizzy membantu Alexa agar tetap bangun.
Friday dan Frizzy berusaha membuat Alexa tetap terbangun, begitu pun dengan Kelvin yang selalu memberikan candaan. Tapi mata Alexa kian berat, dia mendengarkan teman temannya dan meresponsenya dengan senyuman tapi matanya tidak bisa diajak kerja sama. Akhirnya dia tertidur sebelum melihat wajah putri yang baru saja dia lahirkan.
"Suster bagaimana ini? Dia sudah tidak meresponse lagi?" tanya Friday sedikit panik.
"Biarkan saja ibu Alexa istirahat bu, sepertinya dia sangat kelelahan" jawab suster itu dan melanjutkan kegiatannya untuk mengurus Alexa.
Setelah semuanya sudah bersih, suster meminta Kelvin untuk mendekap tubuh bayi mungil itu dengan metode skin to skin menggantikan peran orang tua si bayi dikarenakan Alexa yang sudah tertidur dan ayah si bayi entah di mana.
Dengan hati hati Kelvin menerima bayi cantik itu ke dalam pelukannya. Melihat bagaimana proses kelahiran bayi dipelukannya membuat Kelvin merasa takjub, apalagi wajah bayi yang baru saja dia bantu proses lahirannya itu sangat cantik dan imut. Tanpa sadar dia meneteskan air matanya, dia tidak mengerti kenapa dia tiba tiba melow dan begitu mencintai bayi mungil itu pada pandangan pertama.
Frizzy yang melihat calon suaminya sangat mendalami perannya sebagai orang tua pengganti bagi putri Alexa langsung memiliki ide untuk menjahilinya. "Wah kamu menangis?" tanya Frizzy dengan suara yang sedikit keras hingga mengalihkan perhatian penghuni ruangan itu.
Buru buru Kelvin mengusap wajahnya dan betul saja jika dia menangis. "Kenapa kamu jadi melow gini?" tanya Frizzy lagi. Kelvin hanya diam menahan malu karena kini semua orang memperhatikannya.
Friday yang tidak tahan godaan pun langsung ikut menjahili Kelvin. "Seriusan kamu menangis?". Friday mengambil telepon genggamnya dan mengabadikan moment Kelvin mendekap bayi Alexa dengan air mata membasahi wajahnya. "Tangisan sang mafia" seru Friday. Mendengar itu, mereka tertawa tapi Kelvin berusaha membuat wajahnya sedatar mungkin walaupun dia sebenarnya sangat malu. Dan mereka lupa bahwa mereka berada dalam situasi darurat.