
Friday tertawa mendengarnya dan tawanya menular kepada Louis. "Hentikan, kalimat itu tidak cocok denganmu. Actingmu sangat buruk dan tidak pantas jadi aktor, aku jadi tidak bisa konsentrasi" kata Friday.
"Tapi kamu suka dengan aktor korea itu" kata Louis menjawab Friday. Louis kembali melakukan aksi memberikan ransangan sekaligus menikmati tubuh indah istrinya.
"Jangan pernah berfikiran untuk berubah profesi jadi aktor. Aku lebih menyukai Louis suamiku" kata Friday. Dia mengerlingkan matanya dengan genitnya dan menggigit bibir bawahnya bermaksud menggoda suaminya. Louis semakin terbakar gairah karenanya.
Kini Louis memposisikan dirinya di antara kedua paha istrinya. Dia membuka lebar paha istrinya, dia mulai mengusap hutan belantara yang ada di ujung pangkal pahanya. "Eungghh..sshhhh" terdengar leguhan seksi dari bibir istrinya.
Louis membenamkan kepalanya dia hutan belantara tersebut. Dia mencium dalam aroma gua dan sekitarnya. "Wangi yoghurt seperti biasanya. Hmm Yummy yummy yoghurt" katanya. Louis mulai menjilat dan memainkan lidahnya di sekitaran gua dan hutan belantara itu, memberikan kenikmatan tak terlukiskan pada pemilik tubuh.
Friday bergelinjang menerima serangan lidah Louis, dia melingkarkan kedua pahanya ke kepala Louis dan tangannya menekan kepala Louis agar semakin dalam. Terdengar suara nafas Friday yang mulai tersenggal tandanya sebentar lagi akan menuju puncaknya. Dengan jahilnya, Louis ingin melepaskan kepalanya dari cengkraman paha Friday. Friday yang sedang terbang dan sebentar lagi mencapai puncaknya tidak mau tiba tiba dihempaskan ke bumi jadi dia semakin mengunci Louis di kedua pahanya.
"Jangan berani melepasnya sebelum aku sampai, jika tidak maka selamanya kamu tidak bisa memasukinya" ancam Friday dengan nafas yang tersenggal senggal seperti habis lari maraton. Ini yang Louis harapkan dari Friday, mata penuh gairah dan memelas ingin segera dipuaskan. Ancaman itu sungguh efektif, Louis melanjutkan lagi pembajakan di area hutan belantara itu hingga Friday mencapai puncak pelepasan. Friday masih mengatur nafasnya yang ngos ngosan setelah mendapatkan orga*sme pertamanya.
"Ini baru appetizer, saatnya kita ke main course. Are you ready my queen?" kata Louis. Friday masih memejamkan matanya dan mengangguk menikmati sisa sisa pelepasannya. Louis berlutut di antara paha Friday yang sedang berbaring. Louis mulai menggesek si Titan di pintu masuk gua, sebelum memasukinya.
"Ahhhh..." terdengar erangan dari mereka berdua saat Titan menerobos masuk ke dalam gua di tengah hutan belantara itu. Louis memulai ritual memaju mundurkan pinggulnya secara perlahan dan lembut. Tangannya mengangkat kedua kaki Friday agar si Titan leluasa keluar masuk gua.
Makin lama, si Titan makin ganas, dia keluar masuk begitu cepat membuat gunung kembar Friday terguncang hebat seperti dilanda gempa 8 SR. Tangan Louis juga berpindah memegangi pinggul Friday. Hanya desi*san dan desa*han nikmat yang terdengar di ruangan tersebut.
"Akkhhh stop, stop kak" pinta Friday saat Louis menekan perutnya. Posisi Friday yang berada di bawah Louis membuatnya tidak nyaman karena Louis menimpanya.
Louis langsung menghentikan kegiatan pompa memompanya, walaupun mereka belum menuntaskan pergumulannya.
"Ada apa sayang, apa aku terlalu kasar? Apa aku menyakitimu?" tanya Louis panik melihat wajah Friday yang meringis kesakitan. Louis berbaring di samping Friday dan membawa Friday dalam pelukannya.
"Maafkan aku kak, posisi itu membuatku tidak nyaman" jawab Friday. Dia masih memejamkan matanya menetralkan rasa sakit dan nafas yang masih tersenggal.
"Tidak, maafkan aku sayang, maaf. Ayo ke rumah sakit. Aku takut kamu kenapa napa" kata Louis beranjak dari tidurnya.
"Jangan khawatir, tidak separah itu. Maaf karena menghentikanmu kak" jawab Friday.
Friday tau betul Louis sedang menahan rasa sakit karena aktivitas si Titan yang digantung. Dia juga tau bahwa si Titan masih berdiri dengan tegak karena saat ini ada yang mengganjal di perutnya yang ia yakini adalah Titan.
Friday membalikkan badannya hingga membelakangi Louis. Dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Louis dan Louis menyambutnya dengan pelukan yang semakin erat dari belakang. Tangan Friday langsung mengusap Titan dan membawanya memasuki gua kembali.
"Ayo kita lanjutkan lagi dengan posisi ini, posisi seperti ini tidak akan menyakitiku. Lakukan secara perlahan kak" ajak Friday kepada Louis agar melanjutkan aktivitas se*ks mereka.
Awalnya Louis ragu tapi melihat Friday yang sudah tidak kesakitan lagi dan berusaha menggodanya dengan memaju mundurkan pinggulnya yang sudah dipenuhi Titan membuatnya berubah pikiran. Louis memulai ritual maju mundur cantik si Titan dengan sangat pelan dan lembut. Sedangkan Friday melindungi perutnya dengan melingkarkan kedua tangannya.
"Katakan jika aku menyakitimu, aku kadang lepas kendali saat menikmatimu" bisiknya kepada Friday, sesekali dia mencium tengkuk istrinya. Louis memompa Titan agar masuk lebih dalam ke area gua terus menerus hingga si Titan memuntahkan lahar panasnya diiringi suara era*ngan puas dari kedua insan itu.
"I Love You" bisik Louis lagi, dia kembali mencium kening istrinya bertubi tubi. Friday teringat dengan mertuanya yang sedang menunggu mereka di klinik.
"Kak sepertinya cukup sampai main course, kapan kapan saja kita menikmati dessert nya. Kita harus segera menjemput mama Sita di klinik" kata Friday yang meronta ingin lepas dari pelukan suaminya. Louis segera bangkit dan mengambil botol minum yang disediakan di dalam kamar itu. Dia membuka tutup botol dan memberikannya pada Friday. Dia memperhatikan wajah istrinya yang semakin pucat.
"Sayang, apa kamu sakit? Wajahmu kenapa pucat begini? Ayo kita ke rumah sakit sekarang" pintanya pada Friday. Tapi Friday menggeleng tidak setuju.
"Mama Sita sedang menunggu, lebih baik kakak ke sana dulu menjeput mama, nanti aku pergi sendiri ke rumah sakit untuk check up" saran Friday.
"Tidak. Sebentar aku telepon papa dulu untuk menjemput mama. Jangan bergerak, tunggu aku" tolak Louis. Tidak mungkin dia meninggalkan istrinya dalam keadaan sakit apalagi setelah apa yang dia perbuat hingga membuat istrinya kelelahan.
Louis mengambil HPnya yang ada di dalam tas Friday. Dia membuka kunci HPnya dan menemukan banyak panggilan tak terjawab dari sang kanjeng mami. Tidak lupa dia membaca pesan dari mamanya yang mengatakan bahwa saat ini mamanya sudah pulang bersama papanya.
Syukurlah pikirnya. Dia kembali menemui Friday di kamar dan menggendong Friday ke dalam kamar mandi. Dia membantu Friday mandi sekalian dengan dirinya. Setelah itu dia kembali menggendong Friday ke luar dari kamar mandi dan memakaikan pakaian Friday. Setelah Friday selesai memakai pakaiannya, kini gilirannya yang memakai pakaiannya.
Tanpa mengeringkan rambut mereka terlebih dahulu, Louis kembali menggendong istrinya keluar kamar. Mereka akan menuju meja resepsionis untuk melakukan check out. Dia tidak peduli dengan keadaan sekitar yang memperhatikan mereka berdua, dia hanya fokus pada istrinya.
Sesampainya di lobby, dia memesan taxi dan membawa Friday memasuki taxi, mereka menuju rumah sakit milik keluarga Alcantara yang tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Sangking fokusnya terhadap Friday, Louis lupa bahwa dia membawa mobil dan terparkir di klinik seberang hotel.