
Keesok harinya Leo dan keluarga kecilnya berangkat menuju negara WX setelah melalui banyak drama pagi itu. Sita tidak rela melepas anak menantu dan cucunya pergi liburan mendadak. Padahal mereka pergi hanya 2 minggu saja dan untuk liburan bukan pindah atau pergi untuk waktu yang lama.
Terpaksa Louis minta izin kembali pada Friday untuk tinggal beberapa hari lagi di rumah orang tuanya menemani mamanya yang merasa sepi tanpa suara tangis atau celotehan cucunya. Ini sedikit menghibur Sita karena Louis rela menemaninya di rumah seharian menonton drama korea.
Melihat tingkah ibunya yang heboh saat pemeran utama pria muncul, Louis berdecih. Tidak jauh beda tingkah ibunya dan istrinya melihat aktor korea yang bernama Song Jong Ki itu. Tua muda sama saja pikirnya.
"Apa sih kelebihan si Jongki Jongki ini sampai kalian histeris melihatnya? Tingkah mama yang seperti ini tidak jauh beda dengan dia. Menyebalkan" guman Louis tapi masih bisa di dengar oleh Sita dan menatap layar televisi di depannya dengan wajah datar tak bertepi.
"Ck...coba perhatikan dia baik baik, dia tampan, berkarisma dan juga sangat perhatian. Pesonanya bisa melelehkan hati dan menggetarkan jiwa" jawab Sita masih menatap kagum pada sosok di layar kaca tersebut.
"Tampan dari mana, bahkan aku lebih tampan darinya. Auraku juga lebih kuat darinya. Perhatian dari mana? Dia hanya acting, di kehidupan nyata belum tentu seperti itu. Aku berpuluh puluh kali lebih baik darinya" balas Louis tidak terima dengan alasan ibunya menyukai aktor itu. Lagi lagi persis dengan alasan Friday.
Tidak terima dengan pernyataan Louis yang membantah ketampanan aktor favoritnya, Sita mengomel. "Apa matamu sudah rabun? Tampan begitu kamu bilang tidak tampan. Jelas dia lebih tampan darimu, jauh lebih baik darimu. Lihatlah wajahmu yang datar sangat tidak menarik. Perempuan tidak akan tahan dengan sikap dinginmu dan akan lari darimu" sungut Sita.
"Maaaa jangan sembarangan bicara...dia tidak akan lari lagi dariku. Aku sudah menjeratnya walaupun aku masih kalah dari kpop tapi sebentar lagi dia akan sepenuhnya di bawah pengaruh pesonaku" balas Louis.
"Apakah kamu sedang membicarakan perempuan yang sedang dekat denganmu? Ceritakan pada mama, apa yang membuatmu menyukainya? Ayo ceritakan tentangnya, agar mama bisa menyesuaikan diri dengannya" tanya Sita, matanya memancarkan cahaya kegembiraan. Akhirnya anaknya bisa menyukai dan dekat dengan perempuan. Dan sekarang dia mulai membicarakan perempuan itu.
"Mama tidak perlu menyesuaikan diri dengannya karena mama dan dia tidak jauh beda. Heboh dan berisik" saut Louis. Louis tersenyum membayangkan wajah dan tingkah Friday yang kadang membuatnya geleng kepala karena berisik dan cerewet. Friday bahkan bisa berbicara selama 7 jam nonstop. Bahkan dalam tidur pun, Friday tidak bisa diam. Tangannya akan bergerak tidak beraturan dan dia akan memutar tubuhnya searah dengan jarum jam. Sepertinya Friday hanya bisa diam saat dia dibius total.
"Apa lagi?" tanya Sita. Sita senang melihat banyak nya lampu di mata Louis saat membicarakan sosok perempuan yang disukainya itu.
"Dia juga menyukai drama korea dan segala sesuatu mengenai Kpop. Dia bahkan menyebut dirinya istrinya Oh Sehun" Louis tertawa mengingat hal itu. Sita juga ikut tertawa melihat Louis yang dipenuhi api api cinta. Sita berjanji akan menyanyangi perempuan itu, karena dia bisa membuat Louisnya yang kaku dan tak berekspresi bisa tertawa seperti itu hanya dengan membicarakannya saja.
"Kapan kamu akan memperkenalkannya pada mama dan kapan mama bisa bertemu dengannya?" tanya Sita tak sabaran.
"Secepatnya, sabar ya ma. Aku pastikan mama akan sangat menyukainya" jawab Louis.
"Ekhemmmmm" suara deheman Yudha menggangu kemesraan ibu dan anak itu. Mereka tampak seperti tante dan brondongnya di mata Yudha, membuatnya cemburu setengah mati tapi senang melihat istrinya tidak lagi bersedih karena ditinggal Keyra.
"Ku pikir dengan Keyra pergi liburan, mama akan lebih memperhatikan papa tapi sama saja. Papa selalu ditelantarkan" kata Yudha penuh kesedihan. Dia tidak serius dengan yang dia ucapkan, dia malah terlihat senang melihat Louis bisa lebih terbuka kepada istrinya dan bisa membuat istrinya bahagia.
"Temani mama ke mall ya dan kita berkencan seperti dulu" ajak Sita pada Louis. Yudha terlihat senang melihat Louis yang akan jadi korban Sita selanjutnya. Jika sudah sampai di mall, Sita akan berkeliling, masuk ke setiap toko dan mencoba pakaian tas aksesoris sampai sepatu tapi belum tentu membeli barang yang dia coba itu. Akan sangat menyebalkan jika harus menunggu Sita di salon karena akan sangat lama, semoga dia tidak ada niatan pergi ke salon setelah dari mall.
Karena sudah meniatkan hati menemani mamanya seharian ini, dia pun menyetujuinya. Dia menunggu mamanya mengganti pakaiannya.
Setelah menunggu 15 menit, Sita telah siap pergi ke mall. "Selamat bersenang senang" ucap Yudha terselip ejekan buat Louis. Louis hanya mencebikkan bibirnya kesal dengan sang ayah yang terlihat senang melihatnya menderita.
Mereka berangkat ke mall terbesar di ibukota negara ini. Louis menyerahkan kunci mobilnya di vallet di lobby mall. Sita langsung menggandeng lengan Louis dan memasuki mall. Sita membawa Louis berkeliling mall, masuk ke toko satu dan ke toko lainnya, persis seperti dugaannya.
Sita mengajak Louis ke toko pakaian anak anak. Sita mulai berburu pakaian untuk Keyra. Saat melihat lihat pakaian yang cocok untuk Keyra, dia melihat sosok gadis yang sangat dia kenal. Dia menghampirinya dan memegang bahunya yang kebetulan membelakanginya. Gadis itu menoleh karena terkejut dan langsung tersenyum melihat Sita.
Mereka berpelukan dan tidak lupa cipika cipiki, ritual wajib setiap perempuan yang bertemu. "Fri, tante kangen. Sudah lama kita tidak bertemu dan bercengkrama. Saat pesta pertunanganmu dulu juga kita tidak sempat saling menyapa. Kamu langsung pulang padahal acara belum selesai. Kebetulan sekali kita bertemu di sini, kamu ada waktu?" tanya Sita pada Friday.
"Hari ini aku luang tante, ayo kita cari tempat untuk mengobrol. Aku juga kangen sama tante" jawab Friday. Dia masih belum tau jika suaminya ikut bersama Sita.
"Untung ketemu kamu di sini" kata Sita lagi. Dia terlihat senang bertemu Friday, yang sefrekuensi dengannya. Heboh, berisik jangan lupakan kalo mereka juga sangat jahil.
"Tante sendirian?" tanya Friday.
"Tidak, tante ke sini bersama Louis. Dia sedang menunggu di depan sana" Sita menunjuk ke arah Louis yang sedang duduk dan sibuk memainkan HPnya. Friday mengikuti arah tangan Sita dan melihat suaminya.
"Dia sangat membosankan, tidak banyak bicara dan tidak seru diajak mengobrol. Apalagi ekspresinya yang datar dan tidak peka sangat menyebalkan. Andai saja tidak terpaksa, tante tidak akan mengajaknya ke sini. Lihatlah dia malah sibuk dengan HPnya. Dia taunya hanya mengeluh dan kesal karena hanya keliling di mall ini padahal masih sedikit toko yang dikunjungi dia bilang kakinya sudah pegal" keluh Sita pada Friday. Friday tersenyum karena dia tau bahwa suaminya itu tidak suka di keramaian.