
"Kamu baj*ingan, beraninya menyakiti keponakanku" Wetennov berdiri ingin menghajar Louis kembali.
Tapi tangannya ditahan dan digenggam oleh Friday. Friday menggelengkan kepalanya ingin unclenya tidak melukai suaminya. Bagaimana pun dia masih mencintai suaminya, tidak ingin melihat suaminya tersakiti.
"Kenapa menghalangi uncle, jelas jelas di berhianat padamu?" Wetennov jelas saja marah pada Friday karena masih membela suaminya dengan tidak mengizinkannya menghajar Louis.
"Uncle? Keponakan?" tiba tiba Jeanne sudah muncul di ruang tamu itu. Dia sempat mendengar percakapan diantara mereka yang berada di ruang tamu.
"Jean".
"Jeanne".
"Sweety".
Ketiga manusia menoleh ke arah suara Jeanne dan serentak memanggil Jeanne.
"Fri, bukankah Wetennov suamimu?" tanya Jeanne kebingungan dengan situasi itu.
"Enak saja, aku suaminya Friday" Louis menjawab Jeanne dengan suara yang sedikit keras dan terdengar mengintiimidasi.
"Kenapa kau membentak istriku?" Wetennov malah balik membentak Louis.
"Whatt?" Friday dan Louis terkejut mendengar Wetennov mengatakan Jeanne istrinya.
Jeanne masih diam berdiri di tempatnya semula menyaksikan pertengkaran itu. Friday kini mengerti jika Jeanne salah paham padanya yang berujung salah paham pada suaminya.
"Jean jadi maksudmu uncle Wetennov yang menikahimu dan membuatmu hamil?" tanya Friday.
"Maafkan aku Fri" hanya itu yang keluar dari mulut Jeanne. Dia masih belum mengerti kesalahpahaman itu. Wetennov menghela nafasnya panjang dan menghembuskannya dengan berat. Beban di hatinya kini berkurang drastis.
"Jadi ini yang membuatmu ingin pergi dari rumah dan meminta berpisah?" tanya Wetennov dan lucunya Jeanne menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kamu tidak bertanya terlebih dahulu dan langsung memutuskan sendiri. Friday itu keponakanku bagaimana kamu bisa berfikir jika dia adalah istriku?" tanya Wetennov.
"Dulu waktu kita di hotel itu, aku sempat melihatmu menghampiri Friday beberapa kali. Ku pikir kamu menyukainya. Dan tadi siang tiba tiba Friday muncul di rumah ini dengan perut sebesar itu ditambah lagi semua pelayan di rumah ini tampak akrab dengannya. Bukan hanya itu, Friday juga memakai cincin di jari manisnya makanya aku berfikir jika kalian sudah menikah. Tidak pernah terlintas dipikiranku jika kalian adalah keluarga sebab dulu waktu aku menginap di rumah Friday aku hanya fokus pada foto kak Sunday" jawab Jeanne.
Ckk.. Wetennov berdecak. Dia menghampiri istrinya yang masih berdiri lalu memeluknya.
"Kenapa tidak pernah memberitahukan apapun tentang keluargamu padaku" sungut Jeanne dalam pelukan Wetennov.
Friday dan yang lainnya sudah tercerahkan dan mendapatkan jawaban atas masalah mereka malam itu. Friday dengan cepat bergerak pindah untuk duduk di sebelah suaminya. Dia bergelayut manja di lengan suaminya sekarang.
Louis menekan jari telunjuknya pada kening Friday lalu mendorong dan menjauhkan kepala Friday darinya.
"Sayang? Tadi beberapa menit yang lalu kamu masih menyebutku penghianat dan tidak setia. Secepat itu kamu berubah?" Louis merasa tidak terima karena dia baru saja difitnah tapi Friday tidak merasa bersalah.
"Maafkan aku hemm? Aku juga patah hati dengan kesalah pahaman itu. Lihat wajahku yang cantik jadi bengkak karena menangis. Bajuku pun penuh dengan ingus" Friday memajukan bibirnya siap siap untuk menangis kembali.
Dengan cepat Louis menangkup wajah Friday lalu mencium bibirnya sekilas. "Lihat, aku tidak pernah berbohong apalagi berhianat. Jadi mulai sekarang kamu harus lebih mempercayaiku lebih dari apapun bahkan jika itu keluargamu sekalipun kamu harus lebih percaya padaku, mengerti?" tukas Louis.
Friday menganggukkan kepalanya cepat dan berulang ulang membuat Louis merasa gemas. "Siap laksanakan kapten" Friday mengangkat tangannya untuk memberi hormat pada Louis.
"Good girl. Kamu harus tau sebesar ini rasa cintaku padamu. Sekarang cium aku" perintah Louis dan dilakukan oleh Friday. Mereka berciuman sangat mesra sampai Friday bergerak naik ke pangkuan Louis. Friday mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
Ciuman pasangan suami istri di sofa rumahnya membuat Wetennov jengah. "Pak Pur, tolong usir pasangan tak berakhlak dan mesum itu" perintah Wetennov kepada kepala pelayan di rumah itu.
Tentu saja kepala pelayan itu tidak berani mengusir Friday dan suaminya. Dia hanya berdiam diri di tempatnya semula. Dan dia juga yakin jika Wetennov tidak benar benar mengusir keponakannya itu. Karena tingkatan tahta Friday di keluarga Alcantara berada di paling atas. Semua orang akan tunduk padanya terutama papa, uncle dan kakaknya Friday. Friday mengalahkan posisi Monday, dia hanya mendapat posisi menjadi asisten Friday dan menjadi orang kedua yang bertahta setelah Friday di keluarga Alcantara.
Wetennov menggenggam tangan Jeanne dan ingin membawanya ke kamar mereka. Tapi Louis menghentikan langkah mereka.
"Uncle harusnya bertanggung jawab akan masalah hari ini bukan malah mengusir kami. Setidaknya uncle harus memberi kami makan malam karena menurutku uncle yang membuat masalah hari ini" ucap Louis.
"Terserah... terserah... terserah. Terserah kalian mau apa di rumah ini. Jangan menggangguku" Wetennov tidak lagi memperdulikan pasangan yang kelewat mesum itu. Dia membawa istrinya ke kamar mereka untuk menjelaskan semuanya pada Jeanne. Ada kelegaan di hati Wetennov, dia memuji jika Louis memang lelaki yang terbaik untuk putrinya. Kini dia bisa lebih tenang melepaskan putri kecilnya yang dulu dia rawat dengan sepenuh hati ke tangan Louis dan sekarang bisa lebih fokus pada kehidupan rumah tangganya.
Friday masih dalam posisi di pangkuan Louis, dia menyandarkan tubuhnya pada Louis dan memeluknya erat. "Kak kamu tau, tadi aku hampir gila karena masalah itu dan di sini sakit" Friday menunjuk dadanya. Friday kembali meneteskan air matanya. Dia benar benar merasakan sakit dan hilang arah.
Louis mendekap istrinya semakin erat dan mencium ubun ubun istrinya berulang kali, nyatanya bukan hanya Friday tapi dia juga merasakan hal yang sama. Dadanya sesak, hatinya merintih, pikirannya kacau, badannya lemas dan seluruh dunianya hampir runtuh.
Louis merasakan gerakan dari perut Friday, dia melepas pelukannya dan menyentuh perut Friday yang sudah seperti balon besar. "Hai anaknya daddy dan mommy, maafkan daddy karena membuat mommy menangis hari ini. Daddy janji ini yang terakhir kalinya mommymu menangis. Maafkan daddy yang mengabaikanmu tadi, sebagai ganti permintamaafan daddy, daddy akan membelikanmu ice cream. Kamu mau maafin daddy kan?" tanya Louis.
"Auhhh". Friday merintih saat merasakan babynya menendang dengan kuat perutnya untuk meresponse daddynya.
Louis mendapatkan jawaban dari tendangan baby yang ada di dalam perut Friday. "Good boy" puji Louis.
"Baby G mau ice cream rasa apa? Stroberry?" tanya Louis. Mereka menamai bayinya dengan sebutan baby G.
Baby G yang berada di perut Friday kembali menendang dengan kuat.
"Coklat? Vanilla? Durian? Kacang Hijau? Kelapa? Kacang Merah?" tanya Louis beruntun.