Oh Baby Baby

Oh Baby Baby
Beban



Hari ini Sarah, Gerald dan Anthony berangkat ke pulau pribadi milik keluarga Kelvin, tempat perlindungan paling aman di seluruh pelosok bumi. Setelah mereka meninggalkan kediaman Anthony, Sita segera menghubungi Jennifer untuk mengajaknya segera bergabung dengannya tinggal di rumah Anthony.


Walaupun merasa mendadak dan tidak mengerti tapi Jennifer tetap mengiyakan ajakan Sita. Mungkin ini adalah kesempatan bagi mereka untuk bisa dekat kembali setelah lebih dari 20 tahun terpisah dan tak saling bersinggungan.


Edward kakaknya Sita, selalu over protektif pada Jennifer semenjak kelahiran anak pertama mereka. Edward memilih menghadiri semua acara keluarga hanya sendirian karena mempunyai firasat buruk. Begitupun dengan Yudha, dia tidak pernah mengajak Sita untuk ikut dalam acara keluarga Scaff walaupun dia hanyalah menantu di sana.


Inilah mengapa hubungan Sita dan Jennifer tidak dekat, karena minimnya interaksi diantara keduanya. Hampir ridak ada kesempatan bagi mereka berdua untuk bertemu dan beramah tamah. Dan terbukti sekarang firasat Edward benar adanya bahwa ada ancaman besar yang dihadapi keluarganya.


Selang beberapa jam, Jennifer sudah sampai di rumah anthony dengan beberapa koper berisi pakaian dan keperluannya selama menginap di sana. Sita adalah type orang yang hampir tidak punya batas dengan orang lain dan mudah untuk berbaur dapat langsing dekat dengan Jennifer.


Jennifer juga menyambut ajakan pertemanan Sita dengan baik. Jennifer selalu mengingat pesan suaminya sebelum meninggal dunia jika akan tiba saatnya keluarga mereka diujung bahaya dan orang yang harus dia percaya adalah Yudha dan keluarganya.


Beberapa hari ini Sita dan Jennifer sudah menunjukkan ikatan periparan yang baik. Keduanya mencoba saling menyesuaikan diri dan saling menerima kelemahan dan kelebihan masing masing. Mereka juga saling membangun kepercayaan dan itu tidak sulit bagi keduanya.


Pelan pelan Sita menjelaskan apa yang dia ketahui mengenai situasi yang mereka hadapi. Banyak hal yang Sita lewatkan dalam penjelasannya, termasuk mengenai Sarah, Gerald, Louis, Grant dan Friday. Biarlah waktu yang menjawab semuanya pikir Sita. Jennifer terlihat tidak begitu terkejut mengenai perpecahan dan bahaya yang terjadi sekarang karena Edward sudah mengingatkannya jauh hari sebelumnya.


"Apa kakak sudah tau sebelumnya?" tanya Sita yang merasa heran melihat Jennifer begitu tenang mendengarkan penjelasannya. Jauh berbeda ketika dia tau dari Yudha.


"Dulu kakakmu juga sudah mempunyai firasat buruk dan dia selalu mengingatkanku untuk waspada. Walaupun aku tidak tau apa yang terjadi sebelumnya dan hari ini aku tau ternyata sudah sejauh ini. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" Jennifer balik bertanya.


"Aku juga tidak tau kak, pesan papa padaku sebelum pergi ke tempat paling aman adalah berdiam diri dan tidak melakukan apapun. Biarkan mereka yang bekerja" jawab Sita menyampaikan apa yang dikatakan oleh Anthony padanya.


Jennifer mengerutkan dahinya merasa tidak mengerti dengan penjelasan Sita. "Ah bingung ya, seperinya papa merasa bahwa kita beban heheheh" Sita terkekeh renyah setelah mengatakan bahwa mereka berdua adalah beban. Jennifer menanggapinya dengan tertawa karena baru kali ini dia dikatai beban keluarga.


"Kalau memang kita beban, benar kita hanya perlu diam saja. Jika tidak bisa membantu setidaknya jangan merepoti. Tugas kita sebagai beban yang tidak menyusahkan dimulai hari ini" Jennifer meresmikan predikat mereka sebagai beban. Mereka berdua akhirnya menertawakan status mereka sebagai beban dalam situasi saat ini.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Lain lagi dengan situasi yang dihadapi oleh keluarga kecil Leo yang saat ini berada di negara WX. Sesampainya di sana, Leo dan keluarganya di sambut baik oleh pekerja yang ada di rumah Friday. Mereka dilayani dengan baik seperti mereka melayani Friday dan Louis sebagai majikan.


Leo mengajak Amora dan Keyra pergi ke beberapa tempat wisata sesuai rekomendasi Friday. Rekomendasi dari Friday tidak pernah mengecewakan batin Leo saat menikmati semua tempat yang mereka kunjungi. Mulai dari pemandangan, service, ramah lingkungan, cocok untuk anak sampai makanan semuanya Leo merasa sesuai.


Amora juga pernah tidak sengaja melihat telepon genggam Leo dimana banyak panggilan masuk dan keluar dari Friday. Amora semakin menaruh curiga jika Friday sudah melaporkan kelakuannya pada suaminya. Dasar wanita gatal batin Amora.


Malam itu setelah Keyra tidur Amora mengajak Leo berbicara berdua saja. Amora ingin Leo menjelaskan semuanya.a Leo juga tidak bisa lagi menunda nunda alasannya membawa Amora dan Keyra berlibur. Saat Leo berada di kamar mandi, telepon genggamnya berdering ada panggilan masuk dari Friday.


"Sayang ada telepon masuk" teriak Amora pada Leo yang sedang mandi.


"Biarkan saja".


"Sudah dari tadi berdering, mana tau penting".


"Dari siapa emangnya?" tanya Leo.


Amora melihat nama si pemanggil ternyata Friday. Dengan menahan gemuruh di dadanya, Amora menjawab Leo.


"Friday".


Tidak terdengar lagi suara dari Leo. Leo terdiam lama di kamar mandi. Sedangkan Amora buru buru menidurkan keyra. Leo sudah ketauan pikirnya. Leo keluar dari kamar mandi mendapati istrinya berdiri melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi marah.


Leo menghela nafasnya panjang. "Aku butuh penjelasan" terdengar suara Amora menahan tangisnya.


Leo melihat ke arah tempat tidur dan mendapati anaknya yang sudah tidur. Leo mengajak Amora untuk pindah ke kamar sebelah agar tidak mengganggu tidur Keyra. Amora mengikuti Leo ke kamar sebelahnya.


Leo mulai mencecar Amora dan mengungkapkan semua kekecewaannya terhadap wanita yang sudah beberapa tahun ini menemaninya. Amora tampak terkejut dengan bentakan Leo karena baru kali ini dia melihat Leo marah padanya. Amora hanya diam dan menangis. Dalam hati masih menyalahkan Friday karena telah mengadu pada Leo. Padahal Friday tidak menyinggungnya sama sekali.


Bukannya merasa bersalah, Amora malah semakin membenci Friday. Amora pergi begitu saja dari ruangan itu meninggalkan Leo yang masih belum berhenti mengutarakan kekecewaannya. Amora tidak tahan dan terima jika suaminya yang baik malah menghakiminya. Amora merasa jika Leo lebih membela Friday. Leo kembali ke kamarnya dan memberikan waktu pada Amora untuk merenungi kesalahannya.


Amora masuk ke sebuah ruangan seperti perpustakaan karena banyaknya rak buku beserta berbagai macam buku ada di sana. Untuk menenangkan suasana hatinya yang burik Amora memilih untuk membaca sebuah buku yang menarik perhatiannya. Dia membuka buku itu, berharap bisa mengalihkan pikirannya tapi di lembar berikutnya ada sebuah foto, foto Friday menggendondong seorang anak laki laki.