My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
SEDIKIT DI PAKSA



Esok harinya seperti yang sudah di rencanakan Jojo membawa Ara untuk melakukan check up ke rumah sakit. Hendak memeriksakan kondisi luka di tubuh Ara sekarang.


Jo mengajak Ara untuk menemui dokter Aldo di rumah sakit tempatnya bekerja, tentu saja Jojo sudah memberi kabar pada dokter keluarganya itu jika dirinya akan datang memeriksakan keadaan istrinya. Dan hal itu di sambut hangat oleh dokter muda itu.


"Luka di kakinya sudah mulai kering, tapi untuk bahu masih perlu memakai penyangga lengan biar tidak terlalu banyak gerakan pada tulangnya. Jika malam buka saja penyangganya, takutnya malah jadi kebas atau keram pada bagian lengan. Jangan lupa kompres pakai air es untuk merilekskan otot saraf yang menegang karena terlalu lama digantung! Yang paling penting ingat, ya! Jangan terlalu banyak menggerakkan tangan kanan Nona!" tutur dokter Aldo panjang lebar, dan sepasang suami-istri itu pun mendengarkan dengan seksama. Kemudian mengangguk sebagai tanggapan mereka.


"Ada lagi?" tanya Jojo dengan antusias. Sepertinya ia sangat bersemangat untuk merawat istrinya tercinta.


Dokter Aldo mengulas senyum. "Tidak ada Tuan, jika hal itu dilakukan dengan baik dan benar keadaan Nona muda akan cepat membaik," jawab dokter Aldo dengan bijaksana. "Ah iya, nanti ada obat yang mesti diminum juga oleh Nona. Biar saya tulis resepnya dulu," imbuh dokter Aldo menambahkan lagi.


***


Setelah selesai dengan pemeriksaannya, Ara di bawa pulang oleh Jojo kembali ke rumah mewahnya. Mommy Ayura dan Angelina belum pulang. Tentu saja hal itu membuat Jojo tidak perlu bersusah payah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mommy-nya nanti saat melihat keadaan Ara yang masih dibalut perban.


Yah, setidaknya untuk kali ini Jojo selamat dari cecaran sang mommy, entah kapan mommy nya kembali, yang pasti sekarang Jojo harus merawat Ara agar dia kembali pulih. Nah jadi bingung, kan? Sebernarnya siapa yang harus merawat siapa? Satu pihak Jojo ingin merawat luka istrinya, dan satu pihak Ara ingin merawat mental suaminya.


Sesampainya di rumah, seperti sebelumnya, Jojo dengan senang hati menggendong tubuh mungil Ara dari mobil menuju ke dalam rumahnya. Walaupun ada kursi roda, tapi Jojo melarang Ara untuk menggunakannya jika Ara sedang bersama dirinya. Masih ada tangan kekar lelaki itu yang mampu menopang tubuh Ara dengan begitu entengnya.


Ara tersenyum simpul mendapatkan perlakuan manis dari suaminya lagi. Ia mengalungkan sebelah kedua tangannya di leher sang suami sambil menatap lekat wajah laki-laki tampan yang sedang berjalan membawanya masuk ke dalam rumah.


Terlihat beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka, tapi hal itu tak membuat pandangan Ara berpindah dari wajah tampan suaminya yang menawan. Jojo sebenarnya sedikit gugup saat di tatap oleh istrinya seperti itu, tapi ia memutuskan untuk pura-pura tidak tahu. Tetap saja berjalan dengan pandangan tertuju ke arah depan.


Sampai mereka masuk ke dalam kamar, Jojo langsung merebahkan tubuh Ara di atas tempat tidur. Ara sedikit tersentak saat dirinya tiba-tiba sadar sepertinya Jojo salah kamar. Ini bukan kamar yang biasa Ara tempati sebelum dia pergi. Melainkan kamar milik Jojo dan dirinya dulu. Ya, dulu waktu masih menjadi istri seorang Jonathan yang dungu.


"Ehm ... Jojo, sepertinya kamu salah kamar, ini kamarmu, bukan kamarku," ucap Ara mengingatkan suaminya.


Jojo yang masih berdiri kemudian duduk di tepi ranjang. "Mulai saat ini kamu tidur disini lagi!" perintah Jo sedikit memaksa.


Ara mengernyit. "Itu tidak mungkin," serunya kaget.


"Kenapa?" Jojo terlihat kecewa. Sebegitunya 'kah Ara tidak mau dekat dengan dirinya.


"Bukannya kamu sendiri yang merasa terganggu dengan keberadaanku di kamar ini?" Ara bicara apa adanya, itulah yang selalu dikatakan Jojo setelah dirinya bangun dari terapinya waktu itu.


Jojo mencelos sedih, haruskah ia mengatakan jika dirinya sudah mengingat kembali semuanya, kenangan indahnya bersama Ara bahkan masa lalunya sebelum itu. Tapi urusannya belum selesai, dengan seseorang yang akan ia mintai pertanggungjawaban atas semua kejadian yang menimpanya selama ini. Jojo harus tetap bersikap biasa saja pada Ara, agar orang itu tidak curiga. Orang itu tidak boleh tahu jika Jojo sudah pulih secepat ini. Tentu saja sudah jelas siapa orangnya, bukan?


"Aku hanya berpikir jika lebih mudah bagiku untuk merawatmu di sini, keadaanmu bisa kupantau sepanjang hari. Bagaimanapun juga kau terluka karena aku." Jojo beralasan demikian.


Dan entah kenapa hal itu malah membuat hati Ara sedikit kecewa. Alasan Jojo menguatkan pikirannya, jika Jojo bersikap lembut semata hanya karena rasa bersalahnya saja. Itu berarti Jojo belum sepenuhnya menerima Ara.


Jojo terdiam sesaat, benar juga apa yang dikatakan Ara. Jo merutuki kebodohannya dalam hati, ia berpikir keras untuk mencari alasan lain yang membuat Ara tak bisa menolak lagi.


"Diamlah! Aku paling tidak suka di bantah," seru Jojo yang tak kunjung mendapat ide apapun dalam otaknya. Ya sudah lah, sepertinya Ara perlu sedikit dipaksa. Pikir Jo


Ara terhenyak mendapatkan bentakan dari suaminya lagi, benar-benar si bunglon ini membuat hati Ara jatuh seketika, setelah ia berhasil melambungkannya ke angkasa.


"Ck, terserah kau saja lah," decak Ara sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dan bibir yang mengerucut kesal.


Jojo mengulum senyum, istrinya terlihat menggemaskan jika sedang merajuk seperti itu. Ingin sekali dia menggigit pipi mulus yang terlihat digembungkan oleh pemiliknya itu. Tapi keinginannya itu harus ia tahan sampai waktunya datang, ia pasti akan melakukannya bahkan lebih dari yang ia pikirkan saat ini.


"Kamu istirahatlah dulu, aku akan menyuruh pelayan untuk memindahkan barang-barang mu kesini lagi," ucap Jojo sambil beranjak berdiri.


"Apa itu perlu? Bukannya aku hanya sementara disini?" protes Ara lagi.


Jojo mendelik, lagi-lagi tatapannya penuh dengan pemaksaan. "Baiklah, terserah kau saja," desah Ara akhirnya pasrah.


Oke, sepertinya Ara memang perlu sedikit dipaksa. Atau mungkin, itu cara Ara agar Jojo tidak merasa tertekan saja. Dengan cara mengalah mungkin Jojo akan lebih bisa mengendalikan emosinya. Dan itu akan berpengaruh dengan kebiasaannya nanti. Ara tidak sadar jika Jojo-nya sudah normal kembali. Ah, sungguh rumit pasangan ini.


"Aku akan pergi sebentar, ada urusan yang harus aku bereskan," seru Jojo sambil mengelus pipi Ara. Tuh, kan, Ara sepertinya harus terbiasa dengan perubahan sikap Jojo yang dadakan. Dan apa katanya tadi, ia akan pergi? Baru beberapa menit yang lalu Jojo mengatakan, jika ia akan merawat Ara seharian di kamar itu. Dan sekarang apa, keberatan Ara untuk menolak tinggal di kamar itu memang tepat adanya.


"Pergilah! Lakukan apapun yang kau ma!" ucap Ara memaksakan senyumnya, walau di hatinya ia sedikit kecewa.


"Benarkah? Aku bisa melakukan semua yang aku mau?" Jojo mendadak berbinar, ada maksud lain dari tatapannya yang berbeda.


"Tentu saja," sahut Ara tanpa curiga.


Jojo tersenyum penuh arti. "Baiklah, nanti aku akan melakukannya jika kau sudah sembuh,"


"Eh ...." Ara mengernyitkan dahi. "Apa maksudnya? Kenapa aku jadi bergidik melihat senyumnya itu?" batinnya berkata.


****


Dikit dulu ya, mau ngatur rencana buat nge bongkar kejahatan pamannya dulu. Oke. Kalau rangking votenya naik. Bakal bikin rencananya berjalan mulus. Jadi, votenya jangan sungkan - sungkan ya. 😉😉😉


Like, rate 5 dan komentar next nya juga di tunggu selalu. 😍😍