My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
MEMPERCEPAT KESEPAKATAN



" Aku harus bagaimana Sam ? " Ara tampak gugup dan bingung saat David memberi tahunya bahwa dirinya di panggil oleh Jo. Presiden direktur di perusahaan itu.


" Kamu tenang dulu ! " Seru Sam menenangkan sambil memegang pundak Ara.


Ara memejamkan mata, lalu menghela nafasnya dalam - dalam. Lalu seketika membuka matanya dengan semangat yang berbinar di netra pekat itu. " Oke, aku bisa! " ucapnya menyemangati diri sendiri.


" Aku akan menemani mu. " Seru Sam, dan mendapatkan senyuman manis dari Ara.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruangan Jo. Ara sangat gugup tapi dia tahu saat seperti ini pasti akan terjadi, jadi mau tidak mau dia harus menghadapi nya dengan berani.


Setelah sampai di depan pintu ruangan Jo, David yang membawa mereka segera mempersilahkan mereka untuk masuk. Karena Jacob sudah keluar dari tadi. Dan tiba - tiba suasana yang sangat dingin menyeruak di ruangan itu. Wajah Jo terlihat garang, dia seperti hendak menerkam seseorang.


" Aku hanya memanggil Ara, tidak berikut dirimu. " Jo menatap ketus pada Sam yang berdiri sejajar dengan Ara di hadapan meja kebesaran presiden direktur tersebut.


Sam mengangkat kedua alisnya, " Dia adalah bawahan ku sekarang. Jadi aku bertanggungjawab padanya. " Ucapnya santai.


" Apa kami tidak di persilahkan duduk? " Imbuh Sam lagi.


" Aku juga atasanmu, jadi aku juga punya tanggungjawab terhadap kalian. Aku hanya ingin bicara dengan wanita ini. Kamu bisa pergi! " Jo bicara dengan penuh wibawa.


" Wanita ini punya nama kak Jo. " Sam sedikit kesal karena Jo seakan tak menghargai Ara.


" Aku tahu, pergilah! " Usir Jo lagi.


Merasa tak punya wewenang lebih tinggi dari kakak sepupu nya itu. Akhirnya Sam pun mengalah. Dia menoleh ke arah Ara dan mengulas senyum tipis di bibir nya. Sambil sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya pelan seakan berkata semua akan baik - baik saja. Ara membalasnya dengan anggukan kepala dan menatap tubuh Sam yang bergerak keluar dari ruangan itu.


Selepas kepergian Sam, suasana jadi hening seketika. Jo masih menatap Ara dengan tatapan dingin. Dan Ara hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah suaminya.


" Jadi ini kerjaan yang kamu bilang itu? " Jo memulai pembicaraan dengan sinis.


Ara mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya dengan duduk tegak. Dia mencoba memberanikan diri semua ini memang harus di hadapinya dengan tenang.


" Iya. " Jawab Ara dengan yakin.


Jo merasa kesal melihat raut wajah Ara yang seolah menantang. Padahal tadi dia terlihat sangat ketakutan. Seperti bunglon saja wanita ini. pikir Jo.


" Kamu tahu perusahaan ini milik siapa? "


" Kamu. " Sela Ara cepat.


Mendengus pelan, Jo mengerutkan dahinya tajam. " Lalu kenapa kamu minta kerjaan pada Sam di perusahaan ini ? "


" Kamu .... ? " Jo mengangkat tangannya menunjuk ke wajah Ara. Lalu mengepalkan tangannya lagi saat melihat wajah Ara yang terlihat lucu sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Jo tak tega melihat wajah itu.


" Kamu mau apa? Bukankah tadi pagi kamu bilang terserah aku. Jadi tolong jangan ikut campur! " Ara berbicara apa adanya. Tadi pagi Jo memang bersikap cuek - cuek saja.


" Kenapa harus dengan Sam? Jika kamu mau bekerja di perusahaan ini. Kamu bisa meminta nya pada ku. " Jo mulai masuk perangkap Ara, sepertinya rasa cemburu nya sudah mulai terlihat. Ara mengulum senyum, mencoba menutupi rasa bahagia nya karena Jo mulai terpengaruh. Semoga saja kali ini Jo benar-benar menyadari perasaannya sendiri.


" Aku tidak mau, jika nanti kita bercerai terus aku juga harus kehilangan pekerjaan ku. Kau pikir aku sebodoh itu. " Tukasnya Ara semakin membuat Jo merasa panas.


Dan benar saja, Jo mulai mengepalkan tangannya kembali dengan rahang yang mengetat karena menahan emosi. Bukannya wanita ini tak mau bercerai dengan Jo, kenapa dia sekarang malah membahas soal perceraian. Bahkan sudah mempunyai ancang-ancang untuk meneruskan kehidupannya tanpa adanya Jo di sampingnya nanti.


" Aku akan memberikan uang kompensasi padamu nanti. Jadi kamu tidak perlu bekerja dengan Sam. " Jo seperti membujuk Ara, walaupun tak secara langsung, tapi terlihat sekali jika dirinya tak mau jika istri nya itu dekat - dekat dengan laki-laki lain, apalagi Sameul.


" Aku sudah bilang tak mau uangmu. Jadi biarkan aku bekerja menjadi asistennya Sam. Toh, aku di sini hanya sebentar saja. Dan waktuku bersamamu tinggal tiga minggu lagi. Kita tidak akan bertemu lagi setelah itu. " Ara berbicara seolah sudah siap berpisah dengan Jo, sikap Jo yang selama ini kasar dan cuek pada Ara membuatnya di benci oleh wanita itu. Begitulah yang dipikirkan oleh Jo saat ini.


" Itu juga kalau kamu tidak hamil, kalau kamu hamil kamu akan tetap bersamaku selama sembilan bulan sampai anak itu lahir. " Jo berucap begitu saja, seolah dia berharap Ara akan tetap selalu bersama dengannya.


Sebenarnya Ara merasa senang mendengar perkataan Jo, hatinya mengembang berbunga-bunga. Tapi, dia tak bisa luluh begitu saja. Permainan ini baru saja di mulai, Jo berkata seperti itu hanya karena ingin mendapatkan anaknya saja.


" Kalau aku berubah pikiran bagaimana? Aku tidak mau memberikan anakku jika benar aku hamil. Setelah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan darimu aku menyerah. Kurasa kita memang tidak bisa bersama. " Ucap Ara dengan penuh penekanan.


Jo mendelik, tak terima dengan perkataan Ara dia beranjak berdiri dari duduknya. Lalu berjalan mendekati kursi Ara. " Kamu pikir bisa lari dariku dengan membawa anakku hah? " Jo mencondongkan sedikit tubuhnya hingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Ara. Kini jarak mereka hanya beberapa senti saja, hingga deru nafas mereka saling berhembus menerpa kulit wajah satu sama lain.


Ara terlihat gugup, pandangannya jadi tidak fokus. Berhadapan sedekat itu dengan suaminya membuat jantungnya tak bisa berdetak biasa saja. Ara menarik sedikit kepalanya kebelakang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Huh, sebenarnya Ara tidak tahan, jika terus menerus sedekat itu Ara takut dirinya kebablasan.


" Kamu yakin sekali jika aku bakalan hamil ? " Ara bicara tanpa menatap wajah Jo, membuat Jo menegakkan kembali tubuhnya sambil melipatkan tangannya di depan dada.


" Aku saja tidak merasakan gejala apapun sampai saat ini. Kata orang, kehamilan itu bisa di ketahui dalam waktu satu minggu setelah hubungan badan. Jadi, aku rasa kesepakatan kita lebih baik di percepat saja! " imbuh Ara dengan begitu yakin. padahal dalam hatinya dia berdoa semoga Jo tidak menyetujuinya. Karena saat ini Ara belum siap untuk berpisah dengan suami bodohnya itu.


" Oke. " Satu kata itu membuat hati Ara mencelos sedih. Jo ternyata setuju, bahkan dia perlu berpikir panjang dulu.


Ara jadi menyesal telah menantang suaminya sendiri. Ara sudah tahu jika Jo sangat membenci dirinya, tapi wanita itu malah sengaja mencuatkan kebenciannya semakin besar.


" Besok aku akan membawamu ke rumah sakit untuk memeriksakan tubuhmu! " Imbuh Jo dengan nafas yang menggebu karena kesal.


***


Jeng - jeng bagaimana hasilnya nanti Jo? Huh, authornya jadi ikutan gregetan.. hihihi


Udah senin lagi nih teman - teman, ayo dong kasih votenya yang banyakan.. biar authornya tambah semangat buat ngehalu lagi. 😍😍