
" Sudah ku katakan tadi, aku mau tetap menjadi istrimu ! " Seru Ara dengan yakin.
" Apa alasannya ? Jangan katakan jika kau sudah mencintaiku ! Karena aku tidak mungkin membalas itu. " Sahut Jo sedikit menyakitkan, ingin sekali Ara membungkam mulut pedas itu, bahkan Ara masih ingat Jo mengungkapkan rasa cintanya berkali - kali saat kemarin malam Jo telah menerkam Ara habis - habisan, menghabiskan malam panjang mereguk manisnya kenikmatan surgawi yang Ara sajikan hingga pagi menjelang.
Apakah tak ada sedikit pun kesan indah yang tersisa di hati lelaki ini ? Lelaki ini benar - benar angkuh, tapi sayangnya Ara telah jatuh cinta padanya, menautkan hatinya dengan janji yang dia ucapkan sebelumnya. Dan Ara yakin Jo sekarang hanya sedang tersesat saja, dan dia akan segera kembali mencintai istrinya itu.
Ara memasang wajah datar, meski begitu hatinya terasa sakit seperti di tusuk sembilu. " Apa mommymu tidak cerita jika syarat dari terapimu yang terakhir adalah berhubungan badan denganku ! " Ara berkata tak tahu malu, tak peduli dengan keberadaan adik iparnya yang masih ingusan mendengar kata - kata yang belum pantas dia dengar.
Jo mengedikkan bahu, akal sehatnya menolak untuk mempercayai itu. Jika itu benar kenapa dirinya sama sekali tak mengingatnya, Jo hanya ingat jika dalam mimpinya dia selalu bersama seorang wanita yang bernama Ara. Tentu saja Jo menceritakan dan bertanya pada orang pertama kali Jo lihat saat dia membuka mata. Entah apa yang Jacob ceritakan tentang Ara. Yang pasti itu menyesatkan karena hasilnya juga tidak sesuai harapan.
Dan ternyata Yuri juga me-reset program itu dan menghilangkan seluruh kenangan manis antara Ara dan Jo setelah terapinya yang kedua. Jacob merasa Ara akan menjadi penghalang terbesarnya jika wanita itu tetap berada di samping Jo, dan juga sekaligus membalaskan dendamnya karena dulu wanita itu telah berhasil mengerjainya saat hendak membully Jo yang masih idiot.
" Katakan saja yang jelas, jangan berbelit - belit ! " Seru Jo merasa enggan membahas hal yang paling membuatnya jijik. Aneh sekali Jojo ini, bagaimana mungkin dia mengatakan dirinya membenci perempuan padahal dirinya sangat ganas di atas ranjang. Lelaki ini adalah lelaki yang paling munafik yang pernah Ara temui.
Ara mendelikkan matanya tajam, lalu mengelus perutnya yang terlihat datar. " Aku bahkan tidak tahu, mungkin saja benihmu telah tertanam didalam rahimku ini. "
" Wanita gila, kau sengaja tidak memakai pengaman bukan ? " Tukas Jo dengan geram. Kata - kata keji selalu Jo lontarkan pada Ara, ingin sekali Ara berkata jika itu adalah saran dari mommy yang membiarkan seorang anak hadir untuk merekatkan ikatan pernikahan mereka. Tapi kata -kata itu hanya bisa Ara telan kembali karena dia takut Jo akan semakin membenci mommy nya.
" Kejadiannya sangat tidak terduga jadi aku lupa memakainya. Bahkan kau juga mengabaikannya, mungkin karena terlalu menikmatinya. " Kelakar Ara, tapi tak membuat Jo tersenyum sedikit pun. Lihatlah wanita ini masih bisa bercanda, terbuat dari apa sebenarnya hatinya itu.
" Baik, aku kasih kamu waktu satu bulan. Mungkin itu cukup untuk membuktikan kamu hamil atau tidak. " Yes, akhirnya Jo mengalah juga, benarkan ? trik Ara cukup masuk akal. Tapi, cuma satu bulan. Apa Ara yakin jika dirinya akan berhasil membuat Jo jatuh cinta lagi padanya dalam waktu satu bulan ?
" Baik, aku setuju ! " Ara tak punya pilihan lain selain menyetujuinya, karena untuk seorang Jonathan hanya sekedar ancaman kecil dari seorang wanita seperti Ara bukanlah apa - apa, bisa saja saja dia mencuci tangannya untuk membereskan Ara. Jo bisa saja melakukannya. Tapi dia memilih untuk mendengarkan keinginan wanita itu. Dan membuat kesepakatan dengannya. Itu artinya ada secercah harapan dalam hati Jo, dia ingin meyakinkan jika dirinya bukan seorang anti wanita yang selama ini sudah menjadi predikatnya.
****
Ara berdecak beberapa kali, karena sesuatu yang dia cari tak kunjung ketemu. " Dimana kamera itu ? " Ara mengacak rambutnya begitu frustasi, padahal dia ingat sekali jika suaminya selalu menyimpan kamera itu di laci lemari seperti biasanya.
" Kamu lagi cari apa ? " Pertanyaan Jo membuat Ara sedikit berjingkat, pasalnya sejak beberapa jam yang lalu mereka membuat kesepakatan, Jo belum bicara sepatah katapun pada Ara, Jo merasa kesal karena Ara bersih keras ingin tetap satu kamar dengan Jo, walaupun Jo menolak tapi Ara memaksa, lagi - lagi dia menggunakan ancamannya dan membuat Jo akhirnya mengalah.
" Jangan - jangan kamu mau mengambil sesuatu yang berharga dari sini sebelum kamu pergi. " Imbuh Jo dengan nada sinis.
Ara mendelikkan matanya tajam, kalau Jo bukan suaminya, sudah pasti Ara akan menampar mulut yang selalu berbicara kasar itu.
" Jika aku wanita seperti itu, sudah ku ambil uang yang kau berikan tadi padaku. Aku ini istrimu, bukan simpananmu. " Kata - kata telak itu membuat Jo terdiam, sejenak berpikir ada benarnya juga apa yang di katakan wanita di hadapannya itu. Ada kehangatan di hati Jo saat mendengar kata - kata tersebut, kukuh sekali pendirian wanita ini. Tubuh Jo sedikit bergerak hendak mendekat dan tangannya terasa gatal untuk terangkat ingin mengapapi tubuh Ara , tapi egonya terlalu tinggi untuk melakukan itu. Dia memilih memalingkan wajahnya dan berjalan ke arah tempat tidur meninggalkan Ara yang masih kebingungan mencari dimana kamera itu berada.
" Jojo, kau menyimpan kamera perekammu dimana ? " Tanya Ara memasang wajah sendu. Dia sudah lelah mencarinya di setiap sisi ruangan kamar tersebut.
" Ehm .... " Ara terdiam sejenak, dia tidak mungkin berkata langsung jika disana terdapat rekaman - rekaman romantis antara dia dan suaminya tersebut.
" Ada rekaman yang mau ku tunjukkan padamu, rekamannya ada di kamera perekam milikmu itu. " Seru Ara mengatakan intinya saja.
Jo memicingkan matanya, merasa penasaran dengan apa yang Ara katakan dia pun turun dari tempat tidur lalu mendekat ke arah lemari dekat Ara berdiri. " Di laci ini ! " Tunjuk Jo dengan jarinya.
" Tidak ada, aku sudah mencarinya disana. "
" Benarkah ? aku biasa menyimpannya di sini. " Merasa tak percaya Jo membuka laci tersebut, dan ternyata benar, kamera itu tidak ada disana.
" Kenapa tidak ada ? Selama ini tak ada yang berani memindahkan barang - barang milikku. Kau yang selama ini merawatku saat aku hilang ingatan, pasti kamu yang merubahnya. "
Ara melongo mendengar tuduhan dari Jo, dirinya hanya bertanya malah sekarang jadi tersangka. Benar - benar minta di hajar laki - laki ini.
" Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya padamu. " Decak Ara dengan kesal sambil melototkan matanya ke arah Jo. Ara sedikit membusungkan dadanya, hingga belahan dadanya yang mencuat keluar berada tepat hadapan Jo yang saat ini juga melotot ke arah Ara yang tingginya hanya sebatas bahu Jo.
Jo sedikit canggung, saat sudut matanya menangkap pemandangan indah yang sering dia temui dulu, banyak sekali wanita yang mencoba menggoda nya, bahkan pernah ada terang - terangan membuka bajunya di hadapan laki - laki yang selama ini di sebut Gay oleh teman - temannya itu, tapi sama sekali tak ada reaksi dari tubuh Jo. Sikap Jo biasa - biasa saja, bahkan merasa jijik dengan kelakukan wanita - wanita penggoda itu, dan mengusir mereka dengan kejam.
Tapi untuk kali ini, Jo merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Dengan hanya melihat belahannya saja, tubuh Jo sudah terasa panas. Tangannya terasa gatal ingin menyelusup ke dalam kain yang menutupi sebagian besar dari gundukan itu.
Jo memilih memejamkan matanya lalu berbalik badan membelakangi tubuh Ara. " Kameranya mungkin hilang. Aku tidak tahu. " Seru Jo dengan ketus, berusaha mengalihkan perasaannya yang tak karuan.
Ara mengernyit, bibirnya mengerucut dengan kesal. " Sial, pasti ini ulah si Jacob itu. " Gerutu Ara dalam hati.
Ara sudah tahu dari mommy mertuanya jika Jacob sudah membius mereka saat Jo melakukan terapi, dan telah menyimpan Yuri sebagai mata - mata di rumah itu.
Ara merasa geram, dan berjanji akan membuat Jo sadar kembali jika pamannya itu adalah orang jahat. Ara tidak menyadari jika ada laki - laki yang sedang menahan hasratnya telah memilih untuk membaringkan tubuhnya di tempat tidur, menghindari perasaan aneh yang terjadi pada tubuhnya. Membiarkan Ara yang sedang bersungut - sungut tak jelas di ruangan itu.
****
Jojo tuh mau tapi malu, percaya banget sih sama pamannya itu. Udah bangga banget kayaknya dengan predikat anti wanita..😆😆😆
Jangan lupa LIKE, COMENT, SHARE DAN VOTE NYA ya....makasih 😉😉