
Jo pulang ke rumahnya setelah mendapatkan cincin yang ia inginkan. Dan tak lupa Jo menyuruh David untuk mengatur sebuah makan malam romantis untuknya dan juga Ara di sebuah restoran yang ternama. Jo pulang dengan penuh semangat, wajahnya tampak berseri - seri saat pertama ia akan masuk ke dalam rumah.
Tapi tiba-tiba sorot matanya berubah jadi suram saat tak menemukan sosok Ara di dalam rumah ataupun di dalam kamarnya. Jo segera melempar tas kerja miliknya dan sebuah paper bag yang dia bawa ke atas ranjang, lalu kembali turun ke ruang keluarga untuk mencari istrinya.
" Tidak mungkin dia kabur lagi kan? " Pikir Jo merasa khawatir. Tapi saat Jo berhasil turun pada undakan tangga terakhir langkahnya langsung terhenti saat matanya menangkap sosok Ara sedang berjalan ke arahnya sambil membawa beberapa bunga mawar cantik di tangannya. Jo menghela nafas lega.
" Kau sudah pulang? " Tanya Ara sambil berjalan menghampiri Jo.
" Hemm.... Darimana kamu? " Jo bergumam dan balik bertanya pada Ara.
" Dari taman belakang. "
Jo mengangguk tapi pandangannya terpusat pada bunga yang berada di tangan Ara. " Mau di bawa kemana bunga itu? " Tanyanya dengan heran.
Ara menundukkan kepalanya menatap bunga yang ia pegang lalu beralih lagi pada Jo. " Ini.... Mau aku bawa ke kamar. " Jawab Ara sambil mengacungkan bunga itu sedikit ke atas.
" Untuk apa? " Jo mengernyitkan dahinya, karena selama ini Ara tak pernah melakukan itu.
Ara mengulas senyum, lalu ia berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya dan mau tidak mau Jo juga mengikuti Ara dari belakang.
" Kata dokter Ichida, selain sebagai pengharum ruangan bunga-bunga segar ini bisa menghasilkan energi positif sehingga bisa membuat kamar kita menjadi lebih hidup. Suasananya akan terasa lebih segar dan menenangkan. " Ucap Ara sambil terus berjalan di depan Jo.
Senyum Jo mengembang seketika saat Ara mengatakan tentang kamar kita, seolah-olah perempuan itu ingin memberikan suasana yang romantis dalam kamar pribadi mereka. Uh, rasanya Jo sudah tidak sabar ingin segera mengungkapkan perasaannya.
" Dan kata dokter Ichida stimulus visual dengan bunga mawar dapat menstimulasi relaksasi fisiologis dan psikologis seseorang. Hal itu akan membantumu untuk membuat pikiranmu tenang. Kau akan cepat pulih dan menjalankan hidupmu tanpa tekanan lagi. Itu artinya tugasku akan cepat selesai dan aku bisa per.... Ups. " Ara sedikit tersentak sambil merapatkan mulutnya dengan cepat, berdehem sekali berharap laki-laki di belakangnya itu tak mendengar kalimatnya yang terakhir. Ara keceplosan.
Deg....
Entah kenapa lanjutan kata - kata Ara barusan membuat jantung Jo seperti di tikam, kakinya berhenti berjalan. Dan menatap punggung Ara dengan tatapan begitu dalam. Kenapa dalam pikiran Ara selalu ada kata ingin pergi darinya. Ya, karena pendengaran Jo masih berfungsi dengan baik, walaupun kata-kata Ara tidak selesai tapi Jo tahu apa maksud dari kalimat terakhirnya itu.
" Ara. " Panggil Jo tiba-tiba, dan masih mematung di akhir langkahnya.
Ara yang mendengar panggilan Jo segera menoleh dan berbalik badan menghadap suaminya itu. Sedikit mengernyitkan dahinya karena merasa aneh saat melihat sang suami ternyata tertinggal jauh dari langkahnya. Padahal ia tahu betul jika tadi laki-laki itu berada tepat di belakangnya saat menaiki anak tangga.
" Aku.... Aku mau mengajakmu makan malam di luar. " Ucap Jo dengan sedikit gugup. Dengan susah payah Ia hilangkan gengsi yang selama ini mengekang hatinya itu. Dan hal itu hanya ia lakukan di hadapan istrinya.
Ara sejenak diam, menatap Jo dengan tatapan yang tak terbaca. " Oh.... Oke. " Jawab Ara kemudian dengan sikap biasa saja. Lalu membalikkan badan kembali berjalan menuju ke arah kamar.
Jo mengernyit, jawaban macam apa itu? Tidak ada reaksi apapun, apalagi terkejut atau mungkin terharu mendengar ajakan makan malam dari Jo. Seperti yang dikatakan oleh David sebelum asistennya itu mengusulkan untuk memberikan kejutan untuk sang istri. Mengajak istri makan malam romantis akan membuat istri semakin sayang pada suami, dan membuatnya merasa tersanjung dan bahagia. Tapi ini apa, reaksi Ara malah terlihat biasa saja.
Jo sedikit geram, mungkin karena saran David ternyata tidak mempan untuk istrinya. Lihat saja kau David, saranmu benar-benar tidak berguna. Mungkin itu yang ada dalam batin Jo sekarang.
Setelah keduanya memasuki kamar, Ara meletakan pot berisi bunga mawar di atas meja di samping tempat tidurnya. Merapikan bunga-bunga itu lalu tersenyum penuh dengan ketulusan. Jo yang melihatnya begitu tenang melihat pemandangan seperti itu. Menurutnya kehadiran Ara di kamar itu lebih menghidupkan suasana kamar mereka dan memberikan energi positif yang paling kuat untuk kehidupan Jo.
" Kau bersiaplah dulu, pakai gaun yang ada dalam paper bag itu. " Ucap Jo sambil menunjuk pada paper bag yang ia lempar di atas ranjang tadi. Ara menoleh lalu matanya mengikuti arah telunjuk Jo, kemudian menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.
" Aku akan bersiap di kamar lain. " Imbuh Jo lagi sambil melangkahkan kakinya menuju lemari baju, lalu mengambil satu setel baju untuk ia pakai saat makan malam nanti. Tak lama keluar dari kamar sambil membawa baju tersebut.
Ara masih mematung di tempatnya, menatap punggung Jo yang kemudian hilang di balik pintu. Walaupun Ara tak mengerti maksud dari Jo mengajaknya untuk makan malam di luar, tapi Ara akan menurutinya saja. Menurut Ara sikap Jo sudah lebih baik sekarang ini, Jo sudah jarang sekali bersikap kasar pada semua orang di rumah itu. Terlebih pada mommy Ayura, Ara menyangka jika terapi pendekatan okupasi nya berjalan dengan baik.
***
Setelah satu jam berlalu Jo yakin jika Ara sudah selesai dengan dandanannya. Ia yang sudah selesai duluan sempat turun dulu ke lantai bawah menemui sang mommy untuk memberitahu mommy nya jika ia akan makan malam di luar bersama dengan istrinya. Tentu saja mommy Ayura sangat senang mendengarnya. Mommy sangat berterimakasih pada Ara karena sekarang sikap anaknya jauh lebih lembut pada dirinya.
Jo membuka pintu kamar yang ia yakini tak terkunci, ketika pintu itu terbuka lebar betapa terperangah nya Jo saat melihat penampilan Ara yang begitu menawan di balik balutan gaun yang ia belikan saat pulang kerja tadi.
Ara sontak menoleh saat mendengar suara decitan pintu yang terbuka. Lalu mendapati Jo yang menatapnya dengan tatapan penuh arti. Hal itu membuat Ara menatap tubuhnya sendiri.
" Apa aku terlihat aneh? " Pertanyaan Ara membuyarkan pandangan Jo.
" Tidak, kau terlihat cantik. Ayo berangkat! " Seru Jo sambil melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam dan mendekati Ara. Lalu mengulurkan tangannya berharap Ara akan menggapainya dan berjalan beriringan bersamanya.
***
Tinggal kan jejak ya teman, like dan komentar kalian. Vote nya buat besok senin aja. Biar bisa ke hitung buat minggu depan. Jika ingin author tetap semangat buat nulis. Harap bantuannya juga... Semangat 🥰🥰🥰