My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
MEMINTA HAK



"Hah ...." Ara menghela napas lega, "makasih, Mami, udah bantuin Ara membawa Jojo ke kamar," ucapnya kemudian setelah berhasil membawa tubuh Jojo berbaring di atas tempat tidur dengan dibantu oleh Ayura.


Ayura tersenyum tipis, ia tahu jika anaknya sedang berpura-pura saja. Semenjak Jojo memberikan kode kedipan mata sambil tersenyum menyeringai di dalam mobil tadi. Ada rasa tidak tega dalam hati Ayura kepada menantunya tersebut, tetapi dia yakin Jojo melakukan ini pasti ada maksudnya. Namun, menantu satu-satunya itu telah bersusah-payah membawa Jojo pulang dengan kondisi suaminya seperti itu, dia pasti sangat lelah. Benar-benar keterlaluan anak lelakinya tersebut. Mungkin lain kali gantian Ayura yang akan membantu Ara untuk membalas kelakuan Jojo kali ini. Tenang saja Ara! Tunggu saja waktunya!


Setelah Ayura berpamitan untuk keluar kamar, Ara berniat untuk membersihkan tubuhnya yang terasa basah karena keringat. Menopang tubuh yang besarnya hampir dua kali lipat dari tubuhnya, membuat tubuh Ara menghasilkan keringat begitu banyak. Anggap saja seperti olahraga berat.


Jojo masih pura-pura tertidur, saat Ara bersiap diri untuk mandi. Sebelah matanya sedikit mengintip saat Ara sudah memasuki kamar mandi. Jojo beranjak duduk sambil terkekeh pelan setelah memastikan jika istrinya sudah masuk ke dalam.


"Lucu sekali dia," ucapnya sambil tersenyum jahil.


Jojo mengambil kotak cincin yang masih berada di dalam saku jasnya. Menatapnya lekat dengan penuh kekecewaan. "Acara lamarannya gagal total, ini semua gara-gara si brengsek itu. Dia sudah membuat mood-ku berantakan," decak Jojo dengan nada pelan, karena ia tak ingin Ara mendengar umpatannya dari dalam kamar mandi.


"Sebaiknya aku simpan saja, lain kali aku akan pastikan dulu, jika nanti aku menyatakan cintaku, di sana tidak boleh ada benalu yang mengganggu." Jojo menyimpan kotak cincin tersebut ke dalam laci meja di sebelah tempat tidurnya, lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang karena takut istrinya keburu keluar. Walaupun sebenarnya Jojo tidak mabuk, tapi meminum sebotol besar anggur merah seperti itu membuat kepalanya sedikit pusing. Ia memejamkan matanya berharap rasa pusing itu akan hilang setelah ditidurkan.


Selang beberapa saat, Ara yang sudah selesai dengan ritual mandinya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrube saja. Ia berpikir jika suaminya masih tidur, jadi ia tidak membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.


Wangi cytrus dari aroma sabun cair yang Ara gunakan menyeruak sampai menusuk indera penciuman Jojo, matanya seketika mengerjap tatkala wangi itu kian lama kian menyengat.


Jojo memang sudah tertidur, tetapi belum sepenuhnya terlelap. Hingga ia bisa mencium aroma tersebut dengan begitu cepat. Jo menelan ludahnya dengan berat saat matanya sedikit mengintip dan menangkap sosok istrinya yang sedang berdiri di depan cermin sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Ara terlihat sexy dengan mengenakan bathrube putih sebatas paha.


Tiba-tiba saja aliran darahnya berdesir begitu hebat, dan detak jantungnya bergenderang tak menentu. Posisi Jojo yang berbaring miring menghadap ke arah Ara membuatnya lebih leluasa menatap pemandangan yang sudah lama tidak ia temukan.


Dirasa seperti diawasi, Ara menengok dengan cepat ke arah sang suami, tetapi dengan cepat pula Jojo menutup matanya kembali. Ara menghela napas lega, ia menyangka jika suaminya benar-benar tidur. Jika tidak, pasti Jojo akan marah-marah saat melihat dirinya yang hanya menggunakan bathrube saja saat keluar dari kamar mandi. Karena semenjak ingatannya yang setengah kembali, Jojo selalu berpikir jika Ara adalah seorang wanita penggoda. Apalagi kalau Ara memakai baju sedikit sexy, maka Jojo akan langsung mengusir wanita itu.


Ara berjalan ke arah lemari baju miliknya dan memilih satu setel piyama tidur yang biasa ia pakai. Sejenak menoleh ke arah Jojo memastikan lagi jika laki-laki itu tidak terbangun. Karena Ara akan mengenakan pakaiannya di tempat itu juga.


Setelah dirasa aman, Ara segera melepas bathrube yang ia pakai hingga jatuh di atas lantai. Lalu dengan cepat mengenakan piyama tidurnya tersebut. Tanpa ia sadari ada seseorang yang sedang berusaha dengan sekuat tenaga menenangkan hasratnya yang tiba-tiba bergejolak begitu hebat saat melihat pemandangan yang begitu menggoda birahinya.


Tanpa rasa curiga Ara melangkah menuju tempat tidur dan berbaring di sebelah suaminya. Ara masuk ke dalam selimut dan berbaring membelakangi Jojo. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat wanita itu terlelap dalam tidurnya. Hanya dalam hitungan menit saja Ara sudah masuk ke alam mimpi yang tidak bisa lagi terbaca.


Mata Ara seketika terbuka saat merasakan ada sesuatu yang menyusup ke dalam selimutnya dan bergerak bebas di sekujur tubuh Ara. Ara semakin dibuat terkesiap saat tubuhnya tidak bisa bergerak, karena didekap kuat oleh seseorang dari arah belakangnya.


"Jo–Jojo, kamu lagi ngapain?" tanya Ara begitu gugup. Dengan mata masih terpejam Jojo hanya bisa bergumam, sambil terus saja menelusupkan wajahnya ke tengkuk leher Ara hingga membuat wanita itu sedikit menggelinjang karena geli.


Dengan sekuat tenaga Ara mencoba melepaskan tangan Jojo yang mengekang tubuhnya, tetapi tenaga laki-laki itu terlalu kuat, hingga Ara tidak bisa bergerak. Namun, Ara tidak ingin pasrah, ia tidak mau kembali jatuh dalam perangkap Jojo. Kesepakatannya saat ini hanya sampai laki-laki itu sembuh dari traumanya saja. Ara tidak mau jatuh kembali dalam jerat nafsu yang sesaat, apalagi saat ini Jojo sedang kehilangan kesadarannya. Ara yakin jika laki-laki itu ingin melakukannya karena ia sedang mabuk saja. Jika nanti Jojo sadar, pasti ia akan menyesal.


Ara menarik tangan Jojo ke arah mulutnya, lalu menggigit tangan itu dengan begitu kuat. Hingga terdengar suara teriakan yang begitu menggema di ruangan yang untungnya kedap suara.


"Kenapa kamu menggigitku?" pekik Jojo. Ara segera beranjak duduk dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai bagian dada. Deru napasnya tidak teratur, sembari menatap Jojo dengan tatapan takut.


Jojo terdiam, dirinya baru sadar jika ia telah menakuti istrinya. Jojo meraup wajahnya, sembari menghela napas kasar. Ia sangat menyesal.


"Maaf," ucap Jojo lirih. Ia menatap manik-manik mata istrinya yang penuh dengan ketakutan. Tentu saja Ara sangat ketakutan saat ini, bagaimanapun sikap Jojo yang seringkali berubah-ubah membuat wanita itu sedikit lebih waspada.


Hening seketika.


"Ara ...."


"Apa?" Ara menyahut dengan nada ketus.


"Bisakah kita melakukannya sekarang?"


"Hah? Melakukan apa?" Ara jadi bingung, lalu beringsut mundur. Bersikap lebih waspada dari sebelumnya.


"Ehm ... itu ... a–aku meminta hak aku sebagai suamimu."


Detik itu juga kedua mata Ara membulat dengan sempurna. Tentu saja Ara mengerti dengan hak apa yang diinginkan oleh suaminya saat ini. Apa Ara tidak salah dengar? Jojo meminta haknya? Bukannya dia alergi pada wanita termasuk juga Ara? Ah, Jojo pasti masih mabuk. Ara berpikir jika suaminya masih dalam pengaruh alkohol.


"Kamu masih mabuk Jojo, lebih baik aku tidur di kamar lain saja, oke?" usul Ara mencoba mengelak, dia ingin menghindari keinginan suaminya tersebut. Ara takut jika Jojo nanti tersadar, Jojo akan menyesalinya bahkan akan menuduh Ara sengaja menggodanya.


Ara beringsut mundur dan bersiap untuk kabur, tetapi dengan cepat tangan Jojo meraih tangan Ara dan menahan Ara di tempat. Ara berusaha melepaskan tangannya.


"Jojo, lepasin! Kumohon, kamu akan menyesal nantinya!" seru Ara penuh permohonan. Melihat penolakan Ara yang begitu kuat, membuat hati Jojo tiba-tiba mendadak sakit. Begitu bencikah Ara terhadap Jojo, hingga Ara harus memohon seperti itu agar tidak disentuh olehnya. Bukankah dulu mereka pernah melakukannya?


"Aku tidak akan menyesal, aku tidak mabuk, Ara." Mendengar perkataan tersebut kening Ara mengerut dalam, merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya tersebut. Bagaimana mungkin Jojo tidak mabuk, sedangkan mulutnya saja masih berbau alkohol walau tidak terlalu menyengat.


"Ayolah!" bujuk Jojo lagi dengan penuh harap. "Bagaimanapun kamu tidak boleh menolak permintaan suamimu!" imbuh Jojo lagi, dan kali ini nadanya sedikit memaksa.


Ara berdecak sebal. "Suami macam apa? Memangnya dia pernah menganggapku sebagai istri," gerutunya dalam hati.


***


Ups.... Tahan dulu ya, next episode selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak dan votenya di part ini juga. Oke!


Mon maaf ya, sebenarnya part ini mau di up semalam, tapi karena ketiduran jadi up-nya telat. maaf ya... Jangan lupa dukungannya! hatur nuhun. 😍😍


Follow IG amih ya. #amih_amy. di tunggu.