My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
CINTA PERTAMA



Jo meninggalkan kantor Sam setelah mendapatkan panggilan telepon dari maminya. Wanita yang sudah melahirkan Jo ke dunia itu memberi kabar jika Ara sudah pulang ke rumahnya. Dan bukan berarti Jo memaafkan begitu saja perbuatan pamannya. Ia akan membuat perhitungan lagi nantinya.


Jo tak mau membuang-buang waktunya. Istrinya sudah kembali, itu artinya wanita itu tak menggubris permintaan pamannya. Jo merasa senang, walau dalam hatinya ia masih ketakutan. Jika ada perkataan dari sang paman yang akan membuat hubungan mereka jadi meregang. Jika itu sampai terjadi Jo pastikan pamannya akan sangat menyesal.


***


Jo bergegas turun dari mobilnya saat dirinya sudah sampai di rumah besarnya. Ia tidak peduli dengan posisi mobilnya yang terparkir sembarangan di halaman rumahnya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah segera bertemu dengan istri tercintanya.


"Dimana Ara mom?" Jo bertemu dengan maminya di ruang keluarga. Raut wajahnya terlihat panik, dan penampilannya begitu berantakan. Bukan seperti Jo yang terkenal keren dan tampan.


Ayura yang sedang duduk santai sambil meminum teh hangat menoleh ke arah anaknya yang datang mendekat. Keningnya berkerut tak biasa melihat penampilan anaknya yang terlihat kusut.


"Tadi sih pamit ke kamar." Jawab Ayura lalu terjeda sebentar, merasa aneh dengan sikap anaknya yang begitu berlebihan saat menanyakan istrinya. Apa mereka ada masalah? Tapi Ara terlihat biasa saja sebelumnya. "Apa kamu ada masalah di kantor? Wajahmu terlihat tegang?" Pertanyaan itu yang kemudian keluar dari mulut maminya.


Jo mengerjap bingung, kenapa maminya malah bertanya seperti itu? Bukannya dia tahu kalau dari tadi Jo cemas memikirkan kemana Ara pergi?


"Aku kebingungan mencari Ara dari tadi siang, makanya aku tegang." Jawab Jo sambil mendengus kesal. Ia berjalan melewati maminya yang masih kebingungan. Pasalnya tadi Ara mengatakan pada Ayura jika wanita itu pergi menemui suaminya ke kantor sedikit telat saat sang mami bertanya kenapa Jo menanyakan keberadaan istrinya tadi siang di telepon. Dan sekarang Jo berkata jika dia mencari istrinya. Jadi yang benar yang mana?


Jo sedikit berlari saat menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia mendorong gagang pintu kamar dengan kasar lalu menampakkan sosok istrinya yang sedang berselonjor santai di atas ranjang. Perhatian wanita itu sejenak tersita akan kedatangan suaminya. Tapi kemudian beralih lagi pada ponsel yang sedang dipegangnya.


Jo menutup pintu kamar dengan rapat, lalu berjalan mendekati istrinya dengan senyuman terukir di bibir. Ada perasaan bahagia serta lega melihat istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


"Kau kemana saja? Aku menunggumu dari tadi siang?" Jo bertanya sambil tetap berjalan, tatapannya penuh dengan kerinduan.


Ara mendengus pelan, ia memilih untuk mengabaikan pertanyaan suaminya. Matanya tetap fokus menatap layar ponsel dengan jemarinya yang sibuk menggulir layar tersebut. Baginya pertanyaan itu tidak penting, bukannya Jo tadi sedang bersenang-senang, jadi untuk apa dia menunggu istrinya datang? Apa Jo sengaja menyuruh istrinya datang untuk menyaksikan mereka bermesraan?


Jo duduk di tepi ranjang, tepatnya di sebelah istrinya yang masih mengabaikannya. Tangannya memegang paha istrinya dengan lembut sebelum ia melontarkan perkataan selanjutnya.


"Apapun yang di katakan oleh paman jangan kau dengarkan! Kau tahu benar, paman itu orang yang licik bukan?"


Mendengar perkataan itu Ara langsung mendongakkan pandangan, menatap lurus ke depan. Hingga tatapannya terkunci oleh tatapan Jo yang begitu mendalam.


"Bagaimana kau tahu tadi aku bertemu dengan pamanmu?" Ara akhirnya membuka suaranya dan pertanyaan itu adalah awalnya.


"Tadi aku menunggumu, karena lama aku menyuruh David bertanya pada resepsionis apakah kau sudah datang apa belum. Dan katanya kau datang, tapi pergi lagi bersama paman. Kenapa kamu tidak kembali?" Tutur Jo sedikit bohong, padahal ia menyuruh David bertanya pada resepsionis karena takut jika Ara melihat Erika yang datang ke kantornya. Jo tidak tahu jika alasan itulah yang sebenarnya membuat Ara tak ingin kembali padanya.


Jo memasang wajah sendu, tatapannya begitu layu, seakan dirinya begitu tersiksa saat istrinya tak kunjung menemuinya. Hati Ara sedikit goyah saat menatap manik-manik mata Jo yang menatapnya penuh harap menunggu jawaban darinya.


Tapi Ara kembali tersadar saat bayangan suaminya yang sedang berpelukan dengan wanita lain berkelebat di pikirannya. Hati Ara kembali panas, ia mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya lagi. "Aku cuma tidak mau mengganggumu!" Jawabnya dengan nada dingin.


Jo mengerutkan kening, bersamaan dengan kedua alisnya yang bertaut. "Mengganggu bagaimana? Aku menunggumu, Sayang. Mana mungkin kau menggangguku?" seru Jo tak bisa mencerna ucapan istrinya. Tapi sejurus kemudian Jo membuka matanya lebar-lebar. Dia jadi ingat saat wanita ular itu datang menemuinya tadi siang, bukankah wanita itu sempat memeluk Jo dengan mencuri kesempatan? Ah, ternyata ketakutan Jo benar-benar jadi kenyataan.


"Jadi kau melihat kami berpelukan?"


Ara menepis tangan Jo yang masih berada di pahanya, ia menurunkan kakinya ke lantai ingin pergi meninggalkan lelaki itu. Ia tak mau mendengar pengakuan selanjutnya yang mungkin membuat hatinya semakin pilu.


Kaki Ara nyaris melangkah pergi, saat tangan kekar Jo menahan lengan wanita itu. "Mau kemana?" tanyanya


"Mau mengikuti permintaan pamanmu! Pergi dari hidupmu dan membiarkanmu bahagia dengan cinta pertamamu!" seru Ara dengan suara yang tertahan, rasa sesak di dadanya seakan menekan suaranya yang keluar. Air mata yang dari tadi di tahan akhirnya lolos dari pelupuk matanya yang terpejam.


Jo tersentak mendengar perkataan itu, tubuhnya langsung berdiri dan merengkuh tubuh Ara ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan begitu posesif. "Sudah kubilang jangan dengarkan lelaki tua itu! Apa kau sudah tidak mencintaiku?"


Mata Ara kembali terbuka dalam pelukan suaminya, jika ditanya perihal mencintai suaminya tentu saja Ara dengan yakin akan menjawab 'iya'. Lalu bagaimana dengan Jo? Apa dia juga mencintai Ara?


"Kenapa kau tanyakan itu? Kau sendiri tidak mencintaiku, perasaanku tidak penting dalam pernikahan ini," seru Ara masih dalam pelukan suaminya.


Jo sedikit mendorong tubuh Ara untuk sekedar menatap wajah cantik istrinya. "Bicara apa kamu? Tentu saja perasaanmu juga penting. Dalam pernikahan harus ada cinta dikedua belah pihak." Jo berkata dengan serius. Membuat Ara menatapnya penuh tanda tanya. Apakah Jo juga mencintainya? Tapi cinta pertamanya?Ah ... lebih baik Ara tanyakan saja.


"Tapi ... cinta pertamamu sudah kembali. Jadi tidak ada gunanya aku di sini." Jo mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Ara.


"Kau pikir cinta pertamaku siapa?" tanyanya kemudian sambil menyentil hidung mancung istrinya.


Ara mencebik, menyentuh ujung hidungnya yang sedikit perih. "Wanita yang memelukmu tadi siang, tadinya aku tidak percaya dengan ucapan tuan Jacob, tapi setelah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Akhirnya aku memilih pergi."


"Dan sekarang kenapa kau kembali?" Pertanyaan itu membuat hati Ara kembali nyeri, maunya apa sebenarnya lelaki ini? Dia melambungkan hati Ara tinggi-tinggi kemudian dengan cepat ia hempaskan lagi.


Ara nyaris berbalik setelah mendorong tubuh suaminya agar menjauh, tapi dengan cepat tangan Jo meraih pinggang wanita itu hingga menempel dengan tubuhnya lagi. "Mau kemana, hem?" tanya Jo dengan seringai nakalnya. Tidak ada raut kepanikan lagi dalam sorot matanya yang berbinar penuh arti. Entah kenapa sorot mata itu terlihat tidak asing dipenglihatan Ara. Sorot mata yang tiap kali ditunjukkan lelaki itu saat ia meminta jatahnya.


"Lepasin, Jojo!" seru Ara sambil memukul pelan dada bidang suaminya.


Tapi Jo tak menggubrisnya, ia malah semakin merapatkan tubuh mereka. "Jawab dulu pertanyaanku! Kenapa kau kembali? Apa kau menyesal? Kau tidak bisa jauh dariku? Katakan ,Sayang!" Pertanyaan Jo semakin menyudutkan, tentu saja Ara malu jika ia mengatakan akan berjuang untuk mempertahankan suaminya. Sedangkan yang di perjuangkan malah mengakui jika ia tak pantas untuk itu.


"Aku ... Aku ...." Ara tidak bisa menjawab, kata-katanya seakan tercekat.


"Karena kau mencintaiku Ara, dan kau tahu? Cinta pertamaku itu kamu. Hanya kamu yang mampu meruntuhkan tembok keangkuhan yang membelenggu dalam hatiku. Hanya tubuhmu yang mampu merangsang hasratku. Hanya kamu Ara." tukas Jo sambil menatap dalam manik-manik mata Ara. Hingga pandangan mereka terkunci beberapa saat.


Ara terperangah mendengar ucapan yang begitu tulus keluar dari mulut suaminya tersebut. Benarkah itu? Ara ingin menyangkalnya tapi saat ia menatap lebih dalam sorot mata suaminya, ia tidak menemukan keraguan di sana. Akhirnya Ara terbuai oleh rayuan suaminya. Itu terlihat saat Ara yang malah memejamkan mata dengan perlakuan Jo selanjutnya. Jo membenamkan bibirnya di bibir Ara dan wanita itu malah menikmatinya dan mengalungkan tangannya di leher suaminya saat Jo memperdalam ciumannya. Selemah itu memang pertahanan Ara terhadap suaminya.



Ea..... Dan akhirnya mereka melakukannya 😅😅. Harusnya itu ada lanjutannya ya? Lanjutin sendiri aja deh khayalan kalian. Suka -suka deh maunya apa 😁😁


Jangan lupa like, komen dan votenya ya. Kalau suka sama cerita Ara dan Jojo. Pengennya sih jangan dulu tamat. Tapi amih mau bikin cerita lanjutannya nanti. Follow Igeh amih ya. Mungkin disana ada infonya. Happy Reading 😊😊