
Hari menjelang larut malam, setelah lelah berputar - putar di jalanan, akhirnya Jo memutuskan untuk pulang. Ya, Jo tidak langsung pulang ke rumahnya dia hanya mengendarai mobilnya saja, kadang sejenak bertepi di pinggir jalan hanya sekedar untuk merenggangkan ototnya yang lelah karena terlalu lama mengemudi. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki ini, begitukah caranya melampiaskan rasa kesalnya pada Ara. Sungguh aneh memang orang yang otaknya pernah bermasalah itu.
Mobil Jo berhenti di depan sebuah rumah, lalu dia turun dari sana dan berjalan menuju pintu rumah tersebut. Karena malam sudah sangat larut pasti orang yang di dalam sudah terlelap tidur. Membuat tangan Jo harus mengetuk pintu tersebut berkali-kali sampai akhirnya ada suara yang menyahuti nya dari dalam.
" Sebentar.... " Sahut orang yang ada di dalam rumah, membuat Jo seketika menghentikan ketukan di pintu itu. Tak lama pintu rumah itu pun terbuka dan menampakkan sosok perempuan paruh baya disana.
" Jojo, kenapa pulang selarut ini? Mana Ara? " Pertanyaan yang langsung keluar dari wanita paruh baya yang tak lain adalah bibi Iren itu seketika membuat Jo mengerutkan dahinya tajam.
Ya, Jo memutuskan untuk kembali ke rumah bibi Iren, walau bibirnya berkata tak ingin melihat Ara, tapi tetap saja hatinya menuntunnya untuk menemui wanita itu.
" Bukannya Ara sudah pulang dari sore Bi? " Tanya Jo sedikit bingung.
Bibi Iren menggelengkan kepalanya, " Ara belum pulang sejak pergi denganmu tadi siang. "
Jo berdecak, tentu saja isi pikirannya itu suatu hal negatif tentang Ara, dia berpikir jika Ara tak pulang karena pergi bersama mantan pacarnya. Itulah isi pikiran Jo saat ini.
" Menyesal sekali aku menyusulnya kesini. " Gumam Jo pelan tapi masih terdengar samar oleh bibi Iren.
" Apa kalian sedang ada masalah? " Pertanyaan bibi Iren membuat Jo tercekat, ia tak menyangka jika Bibi nya ternyata mendengar ucapannya barusan.
" Masuklah dulu! Tidak baik terus berdiri di depan pintu. " Perintah bibi Iren sambil melangkah masuk ke dalam rumah dan ikuti oleh Jo kemudian dia menutup pintunya kembali.
Bibi Iren duduk di kursi kayu yang masih setia bertengger di ruang tamu rumah itu. Lalu menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya menyuruh Jo untuk duduk disana. Jo pun menurut, walaupun dia terkenal sangat angkuh tapi dia masih punya tatakrama menghormati orang yang lebih tua.
" Ceritakan pada bibi apa yang terjadi? " Tanya bibi Iren dengan lembut.
Jo mendesah pelan, mengusap wajahnya yang terlihat kecewa. " Ara pergi dengan mantan pacarnya bi. " Ucap Jo lirih.
Mendengar itu bibi Iren malah tertawa kecil, dan hal itu membuat Jo menatap Bibi Iren dengan tatapan bingung.
" Kenapa bibi ketawa? " Tanya Jo begitu heran.
" Kamu bilang apa tadi? Mantan pacar? Setau bibi mantan pacar Ara sudah lama meninggalkannya setelah tahu jika Ara sudah tak punya apa-apa. Terus sekarang kamu bilang Ara pergi dengan mantan pacarnya. Bukankah itu terdengar lucu. Ara bahkan sangat membenci pria itu. " Ujar bi Iren sambil sesekali tertawa pelan.
Jo semakin bingung, kenapa bi Iren bisa seyakin itu perihal mantan Ara, jika memang Ara membenci pria itu kenapa tadi mereka terlihat begitu akrab, bahkan Danil tidak sungkan- sungkan untuk mengacak-acak rambut Ara, dan wanita itu malah tertawa karenanya.
" Bibi jangan bercanda! Jelas - jelas tadi aku lihat Ara begitu akrab dengan mantan pacarnya itu, bahkan kami di bawa ke restoran miliknya dan dia memberikan pelayanan spesial buat Ara. " Jo berucap sambil mengeratkan kepalan tangannya. Mengingat wajah Danil membuatnya semakin murka saja.
" Iya. "
Sontak saja tawa bi Iren pecah saat itu juga, tapi dengan cepat bi Iren membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangannya, dia lupa kalau ini sudah lewat dari jam dua belas malam, mungkin saja tawanya itu akan mengganggu tetangganya yang sedang beristirahat.
" Maaf bibi kelepasan ! " Ucapnya kembali dengan nada pelan. " Kamu mau saja di tipu oleh Danil, dia memang terkenal jail. " Imbuhnya sambil terkekeh pelan.
Tapi sepertinya Jo masih belum bisa mencerna ucapan bibi nya itu. " Maksud bibi apa? " Tanya Jo dengan raut wajah datar.
" Danil adalah mantan bosnya Ara, ia memang menyukai Ara, tapi Ara hanya menganggap Danil seperti kakaknya saja, tapi tunggu! Kenapa kamu tidak kenal Danil, dia kan dulu yang menjadi saksi pernikahan kau dan Ara. " Bibi Iren mulai teringat sesuatu, bagaimana bisa Jo tertipu oleh ucapan Danil, padahal dia sendiri tahu siapa Danil dari dulu.
Mendengar hal itu Jo seketika terdiam, apakah benar yang di katakan bibi Iren? Kenapa Jo tak bisa mengingatnya, wajah Danil memang terlihat familiar, tapi untuk dimana dan kapan bertemu dengan Danil sebelumnya Jo benar-benar sudah lupa.
Bibi Iren sepertinya paham, karena waktu itu Ara pernah menceritakan tentang terapi Jo yang berangsur membuat ingatan Jo kembali normal, mungkin saja ada efek samping dari terapi itu, dengan cepat bi Iren menepuk pundak Jo dengan pelan hingga membuat lelaki itu sedikit tersentak dari lamunannya.
" Sudahlah, jangan memaksakan diri jika memang dirimu tidak ingat! Sekarang ceritakan lagi apa yang terjadi antara kau dan Ara tadi sore? " Tanya Bi Iren dengan lembut.
Jo menghela nafasnya pelan, lalu menceritakan semua yang terjadi di sore itu pada Bi Iren hingga dirinya yang tega meninggalkan Ara di restoran tersebut. Bi Iren mendengarkan nya dengan seksama, lalu tersenyum di akhir ceritanya.
" Bibi tidak marah padaku karena sudah meningalkan Ara sendirian? " Tanya Jo yang merasa heran melihat Bibi Iren malah tersenyum menanggapi ceritanya. Bukankah seharusnya dia marah karena keponakannya Jo tinggalkan begitu saja.
" Untuk apa bibi marah, kau itu sedang cemburu dan hal itu wajar bagi setiap pasangan, walaupun sedikit keterlaluan. " Bi Iren terkekeh pelan sebelum dia kembali melanjutkan perkataannya. " Lagipula kamu tidak meninggalkan Ara sendirian, ada Amel disana. Mungkin sekarang dia menginap di kontrakan gadis itu. " Ucap bi Iren menambahkan, walaupun dalam hatinya ia juga khawatir, tidak biasanya Ara menginap tanpa memberi kabar padanya, karena sebelumnya Ara sudah mengatakan akan pulang ke rumah bi Iren lagi.
Jo masih terdiam mencerna ucapan bi Iren, benarkah dia cemburu pada Ara? Selama ini Jo memang tidak bisa menahan emosinya jika Ara berdekatan dengan lelaki lain selain dirinya, bahkan dengan sepupunya sendiri pun Jo tetap saja tidak suka. Jo jadi bingung ada apa dengan dirinya tersebut, sebelumnya dia sangat nyaman dengan dirinya yang membenci sosok wanita, tapi sekarang apa, dia malah terus-menerus mempertahankan Ara.
" Bibi tahu dimana kontrakannya Amel? " Tanya Jo begitu tersadar dari lamunannya.
" Bibi tidak tahu, anak itu selalu saja pindah - pindah kontrakan, bibi sampai lupa entah berapa kali dia berpindah tempat. " Bi Iren menggaruk keningnya yang tak gatal, gadis yang bernama Amel itu memang selalu ingin serba mandiri, berkali-kali Ara dan bi Iren memintanya untuk tinggal di rumah mereka, tapi gadis itu selalu menolaknya dengan alasan jika keluarganya sering kali menginap di tempatnya. Amel tak mau merepotkan bi Iren dan juga Ara.
Jo merengut kecewa, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yang membuatnya ingin segera bertemu dengan Ara, entah kenapa perasaannya jadi tidak tenang sebelum mendengar kabar jika Ara dalam keadaan baik - baik saja.
***
Permintaan kalian terpenuhi teman-teman, Jo akan kelimpungan mencari dimana Ara berada, segera ketemu atau jangan dulu ya 🤔🤔🤔. Kasih dulu like dan komentar kalian biar authornya bisa dapat inspirasi lagi buat ngehayal. 🤭🤭🤭, apalagi kalau vote nya nyampe ratusan atau ribuan, waaah.... Bikin tambah semangat nih authornya. 😍😍😍😍.