
Seperti yang di rencanakan, selepas makan malam Ayura berencana menghubungi dokter pribadi sekaligus sahabatnya itu via telepon. Ayura menelepon dokter Ichida di kursi santai dekat dengan kolam renang di taman belakang rumah itu. Sambil menikmati pemandangan malam yang terang oleh sinar rembulan.
Tuut....tuuut...tuut
Suara menghubungkan panggilan terdengar dari ponsel Ayura, menunggu seseorang mengangkat sambungan teleponnya di sebrang sana.
" Hallo.. Ada apa ? tumben sekali menelepon malam - malam, apa kamu sudah berubah pikiran " Sapa Dokter Ichida terdengar di sebrang telepon.
Ayura mendengus . " Jangan berpikir macam - macam, kau sudah tua masih saja genit. " Decak Ayura dengan sebal tapi kemudian tersenyum juga.
" Terus mau apa kamu menghubungiku ? " Tanya dokter Ichida penasaran.
" Aku hanya ingin bertanya tentang terapi tadi pagi, apakah menimbulkan efek samping pada Jo ? Kata Ara dari tadi sore dia selalu mengeluh sakit kepala. " Ujar Ayura dengan nada cemas.
" Seharusnya tidak ada efek samping, apa dia mencoba mengingat masa lalunya ? "
" Aku tidak tahu , memangnya kenapa ? "
Sejenak tak ada suara mungkin dokter Ichida sedang memikirkan sesuatu.
" Otak Jo sekarang sudah mencapai titik kedewasaannya, dia sudah mengerti dengan perubahan yang dia alami. Mungkin dia akan berusaha untuk mengingat masa lalunya sendiri. Dan itu hanya akan sia - sia saja. Terapi ini sudah berhasil 70%, dan cara kerjanya sudah di tentukan secara bertahap. tinggal 30 % lagi Jo menuju kesembuhannya. Dan itu hanya bisa di bantu oleh Ara istrinya. " Tutur dokter Ichida panjang lebar.
" Kenapa Jo tidak bisa mengingat sendiri masa lalu nya, mungkin saja dia bisa mengingatnya tanpa harus melakukan hubungan itu ? " Ayura masih bingung dengan penuturan Dokter Ichida.
" Apa kau lupa ? kasus Jo bukan sekedar ingin mengembalikan ingatan Jo di masa lalu, bukankah kamu ingin membuat trauma masa kecil Jo juga hilang ? semua itu butuh proses Ayura. Jo hanya akan menyakiti dirinya sendiri jika dia memaksa untuk mengingat masa lalunya sendiri. " Kata dokter Ichida terdengar penuh dengan penekanan.
Ayura sejenak terdiam, mencoba mencerna apa yang di katakan oleh sahabatnya tersebut. Matanya tampak menerawang tanpa arah. Dia mengingat saat Jo dengan sikapnya yang kasar terhadap dirinya dan orang lain, sungguh miris dan membuat hatinya begitu teriris.
" Ayura ? " Suara teriakan yang terdengar dari ponsel yang masih menempel di telinga Ayura membuatnya sedikit terlonjak, dan sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinga, berhasil membuyarkan bayangan - bayangan kelam yang ada di pikirannya itu.
" Tidak usah berteriak ! aku tidak tuli. " Seru Ayura dengan nada tinggi.
" Aku sudah memanggilmu beberapa kali, tapi kamu diam saja. Ku pikir kau pingsan disana. " Seru dokter Ichida sambil terkekeh lucu.
Ayura mendengus kesal, berbicara dengan orang ini seakan kembali ke masa mudanya dulu, walaupun umur mereka kini sudah menua tapi obrolan mereka tetap renyah seperti dulu, obrolan yang penuh candaan dan bicara apa adanya.
" Lalu apa yang harus aku lakukan ? tidak mungkin aku menyuruh Ara untuk melakukannya dalam waktu dekat ini, dia mungkin belum siap. Atau mungkin Jo yang belum paham. "
" Kamu tidak perlu khawatir dan jangan terburu - buru. Jo pasti akan menyadarinya sendiri. Dia sudah menginjak usia dewasa sekarang, hormon laki - lakinya akan tumbuh dengan alami. Apalagi setiap hari dia harus melihat gadis cantik di sampingnya. Mana mungkin dia tidak akan tergoda. Terlebih dia tahu Ara itu istri sahnya. Kita tunggu saja ! Semua akan berjalan dengan lancar seperti biasanya. " Ucap dokter Ichida terdengar begitu yakin.
Ayura hanya menganggukkan kepalanya pelan, walaupun tak dapat di lihat oleh sokter Ichida dia tetap melakukannya seakan dokter Ichida sedang berada di hadapannya. Cukup lama dua insan ini berbincang, walau masalah Jojo telah selesai di bicarakan, mereka masih punya banyak hal untuk di debatkan. Ya, mereka selalu berdebat dalam tiap percakapan tapi hal itu lah yang selalu mereka rindukan.
" Mommy ! " Panggil seseorang dari arah belakang Ayura, seketika dia pun menoleh ke arah asal suara dan mendapati Angel anak bungsunya sedang berdiri sambil memeluk boneka kesayangannya, matanya tampak sayu dan sesekali menguap menahan rasa kantuk yang melanda dirinya.
" Ada apa sayang ? " Tanya Ayura pada Angel, sambil menutup layar ponselnya dengan telapak tangan dan sedikit menjauhkannya dari bibir, berharap dokter Ichida tak mendengar percakapannya dengan Angel.
" Angel mau bobo sama mommy aja ! Angel takut tadi mimpinya serem banget. " Rengek Angel dengan manja.
Ayura tersenyum lalu mengangguk pelan, dia pun meminta izin pada dokter Ichida untuk mengakhiri panggilan telepon mereka, Lalu beranjak dari taman belakang sambil mengandeng tangan anak gadisnya yang sudah terlihat sangat mengantuk berjalan menuju kamar Angel. Karena malam ini Ayura dan Angel akan tidur disana.
***
Kicauan burung nan merdu saling bersahutan menyambut mentari pagi. Saat Ara membuka matanya di pagi itu, Ara di buat terkesiap melihat sosok yang dia kenal dengan penampilan yang berbeda. Terlihat Jojo sedang berdiri di hadapan cermin memakai baju kemeja putih dan celana hitam panjang rapi dan tak lupa di balut jas hitam seperti hendak pergi ke kantor.
" Ah... astaga aku kira sudah bangun, ternyata aku masih di alam mimpi, bahkan di alam mimpipun suamiku terlihat sangat tampan. " Celoteh Ara pelan, matanya terus menatap suaminya menikmati keindahan yang telah Tuhan berikan padanya itu.
Jojo yang merasa ada yang memperhatikan jadi menoleh ke arah Ara, di lihatnya Ara sedang tersenyum - senyum sendiri masih dalam posisi berbaring miring menghadap ke arah Jojo dengan tangannya menopang di pipi.
" Kenapa menatapku seperti itu ? " Tanya Jojo dengan heran, dia menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban.
Ara sedikit tersentak, senyuman di bibirnya pun seketika menghilang. Raut wajah itu, pertanyaan itu dan reaksinya kenapa terlihat sangat nyata, Ara mengucek matanya yang terasa perih, lalu kembali menatap sang suami yang masih berdiri, menatapnya dengan tatapan dingin sambil melipat tangan di depan dada.
" Mau sampai kapan kamu berbaring di tempat tidur ? Ayo siapkan sarapan buatku ! " Jojo berkata lagi, dan kini Ara jadi terlonjak dan langsung beranjak duduk . " Eh.. bukan mimpi ya ? " Gumam Ara dalam hati.
Diam - diam dia mencubit tangannya sendiri dan meringis sendiri karena terasa sakit, dan saat itu dia sadar jika dirinya sudah berada di dunia nyata. Tapi apa dia tidak salah lihat melihat suaminya berdandan seperti itu di pagi hari ? Apa Jojo sudah sembuh ? Apa ingatannya sudah kembali ? rentetan pertanyaan itu memenuhi pikiran Ara saat ini.
" Kamu mau kemana berdandan seperti itu ? " Tanya Ara dengan penasaran.
" Mau ikut mommy ke kantor, mungkin saja di sana aku bisa ingat sesuatu. " Jawabnya sambil menurunkan tangannya dan kembali menghadap ke cermin memperhatikan penampilannya seperti ada sesuatu yang kurang dalam penampilannya itu.Dia pun mencebikkan bibirnya setelah ingat sesuatu.
" Apa kamu bisa memasangkan dasi ? " Pertanyaan Jojo membuat Ara mengerjap bingung, dasi ? bahkan dirinya tak pernah menyentuh benda itu sebelumnya, apalagi memasangkannya. Ayahnya dulu tak pernah mengajari nya untuk melakukan itu.
Ara menggeleng pelan. " Aku tidak bisa. " Ucapnya pelan.
Jojo berdecak. " Ya sudah, biar mommy saja yang pasangkan. Payah sekali kamu ini, katanya istri, masa pasang dasi saja tidak bisa ! " Ucapnya meremehkan.
Mendengar itu Ara jadi emosi, kasar sekali ucapan suaminya itu. Sepertinya lidah tajamnya sudah kembali berfungsi. Benar sekali kata Angel kata - kata Jojo di masa lalunya sangat pedas seperti cabe kering. Dia pun menyingkap selimutnya lalu turun dari atas ranjang dan melangkah mendekati suaminya itu.
" Apa kamu bilang ? coba ulangi sekali lagi ? " Ara bertanya sambil berkacak pinggang. Jaraknya kini sangat dekat dengan suaminya hanya sekitar beberapa senti saja. Bahkan terlalu dekat, membuat Jojo dengan bebas melihat wajah cantik Ara di hadapannya, tubuh sexi Ara yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana hot pan di atas lutut membuat pandangan Jojo tak mau beralih ke arah lain.
Jojo merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, kenapa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Dan hawa tubuhnya seketika menjadi panas, dan aliran darah seakan berdesir lebih hebat. Beberapa kali dia harus menelan ludahnya dengan berat. Saat Ara mendongakkan tubuhnya hingga terlihat jelas belahan dada Ara di mata Jojo.
Ara menatap tajam wajah suaminya, dengan sedikit mendongak karena ukuran tubuhnya lebih mini di bandingkan Jojo. Membuat Jojo leluasa menatap tubuh Ara. Ara pun tersadar saat dirinya tahu kemana arah mata Jojo tertuju. Sontak saja Ara beringsut mundur dan menutupi bagian dadanya tersebut.
" Kamu lihat apa ? " Tanya Ara penuh curiga.
Jojo jadi kelabakan, tidak mungkin dia berkata melihat isi di balik kaos yang Ara pakai, mungkin Ara akan menamparnya saat itu juga. Walaupun Jojo tahu Ara adalah istrinya tapi Jojo belum sepenuhnya mengerti apa sebenarnya hubungan suami istri itu. Karena dia baru menginjak tahap itu.
" Aku.. aku melihat dirimu, bukankah kamu berada di hadapanku sekarang. " Dalih Jojo mencoba mengelak.
Ara mencebikkan bibir, menatap Jojo dengan tatapan sinis. " Tapi matanya tidak harus terus - terusan menatap bagian itu juga kan ? " Decaknya kemudian.
Jojo tersenyum kikuk, ternyata Ara menyadarinya juga. Sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal dia berkata. " Aku tidak sengaja. "
****
Maaf ya readers baru bisa up dua hari sekali, lain kali di usahakan tiap hari deh....😉😉
Jangan lupa like , comment , share dan juga Vote pake poin ya...makasih.