
Ara kelelahan dengan aktivitasnya dengan sang suami yang tidak hanya terjadi sekali.
Ya, mereka melakukannya lagi. Saat mommy Ayura berkata jika dokter Ichida akan datang besok pagi untuk melakukan observasi pada kondisi tubuh Jo, jika hasilnya baik hari itu juga Jo akan melakukan terapi terakhirnya. Dan untuk penyatuan kali ini, Ara-lah yang meminta. Entah kenapa Ara ingin membuat kenangan manis di akhir tugasnya sebelum Jo melakukan terapi.
Ara takut jika malam ini adalah malam terakhir mereka berdua, bisa saling meluapkan rasa cinta dan kasih sayang mereka sebagai suami istri. Ara berharap Jo akan lebih mudah mengingatnya, jika kenangan manis itu dilakukan saat detik-detik terakhir dari waktu terapi itu.
Bahkan Ara dengan senang hati melakukannya lebih dari sekali. Yang pasti, malam ini Jo tak henti-hentinya menyemburkan cairan benihnya di rahim Ara. Entah berapa kali hal itu terjadi, hingga badan Ara sudah lemas dan luluh tak berdaya. Jo baru menghentikannya saat Ara menyerah. Salah siapa Ara memulai duluan, stamina Jo benar-benar membuat Ara kewalahan.
"Jojo." Ara menyebut nama suaminya dengan mata yang masih terpejam.
"Hem." Jo hanya bergumam menyahut panggilan istrinya itu.
"Aku capek banget. Udah, ya!" seru Ara akhirnya menyerah.
Jojo memutar kepalanya, menatap wajah sang istri yang memang terlihat lemah tak berdaya. Jo memiringkan tubuhnya memposisikan dirinya menghadap tubuh istrinya yang masih tidur telentang. Dia kecup kening istrinya dengan lembut. "Maaf," ucapnya lirih.
Ara membuka mata, netra pekat itu tertuju pada wajah sayu yang penuh dengan peluh, saat dia memutar kepalanya menoleh pada sang suami. Dengan senyum yang mengembang Ara mengangkat sebelah tangannya mengusap lembut wajah suaminya.
"Tidak perlu minta maaf, ini sudah menjadi tugas aku. Aku juga suka." Ara berucap seperti tak punya rasa malu tapi semburat merah yang tercetak di wajahnya menjadi bukti nyata bahwa dia sangat malu saat ini.
Senyum manis melengkung di bibir Jo, dia menarik tubuh Ara ke pelukannya membiarkan Ara membenamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya itu.
"Kau tahu, hari ini aku benar-benar takut, Jojo." Suara Ara sedikit teredam di balik pelukan itu.
Jo melonggarkan pelukannya sedikit menjauhkan kepalanya sekadar ingin melihat dengan jelas wajah istrinya yang terlihat muram. "Takut kenapa?" tanya Jo sambil menaikkan sebelah alisnya.
Ara mendongak menatap mata Jo dengan lekat, "Tidak apa-apa. Aku hanya teringat dengan kedua orang tuaku saj," ujarnya mengelak sambil menunjukkan senyum lebarnya.
Ara hanya takut jika dirinya akan kehilangan Jo seperti dulu dia kehilangan kedua orang tuanya. Ingin sekali dia menangis, tapi Ara tidak mau membuat Jo merasa ragu untuk melakukan terapi itu. Pikiran Jo harus benar-benar tenang. Dan semangat untuk sembuhnya haruslah besar.
Kamu harus sembuh Jojo, dan tolong jangan lupakan aku! Hanya itu harapan terbesarku saat ini. Ara membatin.
Dipeluknya kembali tubuh suaminya seakan dirinya tak ingin jauh dari tubuh itu. Mereka pun terlelap karena kelelahan memadu cinta.
***
Ara mengerjapkan matanya, saat pancaran sinar mentari menyelusup melalui celah jendela kamar mereka. Ara mengalihkan tangan Jo yang masih melingkar di perutnya dengan hati-hati. Lalu menurunkan kakinya ke lantai dengan perlahan. Mendapat guncangan dari kasur karena gerakan Ara tersebut, membuat Jo merubah posisi tidurnya, lalu menyipitkan kedua matanya mencoba menyesuikan cahaya di ruangan itu.
"Mau kemana?" tanya Jo dengan suara serak khas bangun tidur.
Ara yang masih duduk di tepi tempat tidur menoleh ke arah suaminya. "Mau mandi," jawabnya.
Jojo hanya mengulas senyum tipis sebelum kembali memejamkan matanya. Dirinya masih merasa mengantuk dan malas sekali untuk bangun. Melihat suaminya tertidur kembali Ara hanya bisa menghela napas kasar, sambil menggelengkan kepalanya pelan. Lalu, Ara melanjutkan kembali niatnya untuk membersihkan diri.
***
"Sebentar," sahut Ara saat seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar. Ara baru selesai mandi, dan bergegas memakai baju gantinya. Lalu segera melangkah ke arah pintu, untuk membuka benda persegi panjang itu. Sekilas menoleh pada sang suami yang masih tertidur pulas, walaupun seseorang di luar sana beberapa kali mengetuk pintu, suara itu tak membuat Jo terbangun dari tidurnya.
Padahal tadi sudah bangun, kenapa tak mau membukakan pintu? gumam Ara seraya pergi.
Ara membuka pintu dengan cepat, dan dia melihat mommy mertuanya sedang berdiri di sana menunggu yang punya kamar membuka pintu itu. "Mommy? Ada apa?" tanya Ara.
Ayura mengulas senyum, bukannya menjawab dirinya malah melongok ke dalam kamar mencari keberadaan anaknya di sana. "Jo, belum bangun?" tanya Ayura
"Belum, Mom." Ara mempersilahkan mommy-nya untuk melihat isi kamarnya dengan melebarkan pintu tersebut, hingga mommy Ayura bisa melihat Jo yang masih tertidur dengan bertelanjang dada, selimutnya hanya menutupinya sampai bagian perutnya saja.
Sedikit melangkah masuk, Ayura melongok ke dalam kamar. Lalu mengernyitkan keningnya dengan tajam, sepertinya dia tahu apa yang di lakukan oleh sepasang suami istri ini semalam. Ada sesuatu yang masih tercecer dan tertangkap oleh mata Ayura. Sambil berlagak tak tahu apa-apa. Ayura pun mundur ke belakang, sembari berusaha menahan tawanya.
"Mau aku bangunkan, Mom!" Ara hendak membangunkan suaminya tersebut, tetapi Mommy Ayura melarangnya. "Biarkan saja! Nanti juga bangun. Mommy hanya mau mengingatkan saja, jika sebentar lagi Ichida akan datang dan memeriksa kondisi Jo. Jika hasilnya baik, bisa langsung lanjut terapinya," tutur mommy Ayura, Ara hanya menganggukkan kepala tanda mengerti ucapan mommy mertuanya itu.
Ayura membalikkan badannya hendak pergi meninggalkan kamar Jo dan Ara. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti, karena merasa gatal ingin mengatakan sesuatu. Ayura pun memutar sedikit kepalanya ke arah Ara. Sambil tersenyum lucu dia berkata, "Ara, simpan pakaian dalammu di tempatnya! Jangan dibiarkan berceceran di lantai seperti itu. Gak enak dilihatnya."
Kedua mata Ara sontak terbeliak, dengan perlahan dia memutar kepalanya ke dalam kamar, dan benar saja pemandangan di sana sangatlah memalukan. Ara tak sadar, jika pakaian dalamnya yang sempat dilemparkan oleh suaminya ke sembarang arah, saat mereka bercinta semalaman belum sempat Ara bereskan.
Mungkin Ara lupa, atau dirinya juga tidak tahu kenapa itu bisa berada disana. Yang pasti kini Ara sangatlah malu, sambil tersenyum kaku dia menutup pintu kamarnya perlahan, hanya menyisakan sedikit celah saja. Lalu menatap mommy-nya dengan wajah memerah karena malu. Mommy Ayura pun pergi sambil terkekeh geli, pasangan muda itu telah menemukan kenikmatan duniawi, sehingga mereka lupa diri seakan dunia ini hanya mereka berdua yang menempati.
****
Maaf baru Up lagi, tetap stay di sini ya readers. Minta dukungannya juga Klik Like , komentar dan Vote nya. makasih.