
Jojo setengah berlari menyusuri koridor rumah sakit. Ia yang sudah diberi kabar tentang keadaan Ara merasa begitu takut dan gugup. Apalagi saat mendengar kondisi Ara dalam keadaan buruk.
Jojo sudah sampai di depan ruang operasi. Ya, dengan sangat terpaksa Ara harus melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan bayinya. Karena tidak bisa menunggu lama, akhirnya persetujuan Jojo diambil lewat telepon saja dan diwakilkan oleh bibinya. Hal itu yang membuat Jojo begitu takut luar biasa.
"Bagaimana keadaan Ara, Bi?" Jojo bertanya dengan tidak sabar. Wajahnya terlihat pucat, tetapi tidak mengurangi kadar ketampanannya yang begitu memikat.
Iren seketika mendongakkan kepalanya yang sebelumnya selalu tertunduk ke bawah. Ia beranjak berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah Jojo yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"Ara masih di dalam, dokter sedang melakukan operasi caesar. Maaf Bibi tidak tahu kenapa bisa jadi seperti. Tiba-tiba saja Ara .... " Iren tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tangisnya pecah seketika. Saat ia mengingat betapa paniknya dia melihat Ara dalam keadaan lemah tak berdaya.
Jojo hanya terdiam, ia tak sanggup untuk menyimpulkan. Yang hanya dia pikirkan bagaimana keadaan istri dan anaknya sekarang.
Jojo memutuskan untuk tetap berada di depan pintu operasi. Ia sandarkan tubuhnya di tembok yang menghadap pintu ruangan itu sambil berjongkok.
Jojo menyimpan kedua tangannya di kepala. Sedikit meremas rambutnya dengan begitu frustrasi sambil memejamkan matanya yang membuat suasana mendadak hening.
Suara seseorang yang memanggil namanya membuat Jojo membuka mata dan mendongakkan kepala. Jojo pun berdiri dan langsung menghamburkan tubuhnya pada pelukan sang mami yang juga datang bersama suaminya.
"Tenang, Sayang! Ara dan bayinya akan baik-baik saja. Kita harus banyak berdo'a untuk keselamatan mereka!" seru Ayura menenangkan hati anak sulungnya sambil mengusap punggung lelaki itu dengan lembut.
Tubuh Jojo bergetar, tak ayal dia pun menangis di pelukan maminya. Hanya Ara yang mampu membuat hatinya selemah ini. Pria itu tidak akan sanggup jika sesuatu hal buruk terjadi pada istrinya nanti.
"Aku takut, Mam," lirih Jojo dengan suara bergetar. Lidahnya terasa kelu hingga suaranya terdengar samar.
Ayura melepaskan pelukan mereka. Lalu menangkup kedua pipi anaknya. "Dengerin mami, Jo! Kamu harus kuat! Kasihan istri kamu yang sedang berjuang di dalam sana. Yang dia butuhkan sekarang hanya do'a dan dukungan kita."
Jojo menelan ludahnya yang terasa asin oleh lelehan air mata yang memasuki rongga tenggorokannya. Ia tatap wajah Ayura dengan dengan seksama. Mungkin seperti inilah perjuangan wanita yang sudah melahirkan dirinya itu. Tiba-tiba kenangan rasa bersalahnya di masa lalu membuat hatinya mendadak ngilu.
"Maafkan aku, Mam! Dulu Mami pasti merasakan sakit dan menderita seperti ini saat melahirkan aku," ucap Jojo kembali memeluk sang mami.
Ayura terenyuh mendengar ucapan anaknya. Ia begitu bersyukur karena anaknya benar-benar sudah berubah. "Itu memang sudah menjadi takdir seorang ibu, Nak. Kamu tidak perlu minta maaf. Jadilah anak baik! Mommy sudah cukup senang."
Ya, begitu sederhana keinginan seorang ibu yang melahirkan kita, begitu mulia sosoknya yang rela mempertaruhkan nyawa, tetapi tidak pernah mengharapkan imbalan apa-apa. Bisa melihat anak-anaknya tumbuh baik dan bahagia merupakan rasa syukur yang teramat bagi mereka.
Setelah beberapa saat, pintu ruang operasi pun terbuka. Keluarlah seorang perawat dengan pakaian khasnya. "Keluarga nyonya Ara," teriaknya.
Jojo tersentak. Kepalanya langsung menoleh ke arah suara tersebut. Tanpa basa basi ia pun langsung menghampiri. Dan diikuti oleh Ayura dan dokter Ichida. Sedangkan Iren dan Sarla hanya diam di tempatnya, tetapi tidak jauh dari sana.
"Bayinya sudah lahir, bayi laki-laki. Sebentar lagi akan di bawa ke ruangan bayi, tapi masih diurus oleh perawat lain. Dan sekarang kami butuh selimut extra untuk menutupi tubuh ibunya. Apakah kalian membawanya?" tanya perawat itu. Namun, bukannya memberikan jawaban, Jojo malah ternganga. Mendengar anaknya sudah lahir membuat dirinya sedikit terkesima.
"Saya membawanya, Dokter," seru Sarla yang memang sudah menyiapkan segala perlengkapan majikannya. Lalu bergegas mengambilnya di dalam tas yang dia bawa.
"Bagaimana dengan keadaan ibunya, Suster?" Kali ini giliran Ayura yang berkomentar.
"Kondisi ibunya masih lemah, tetapi sudah stabil. Butuh waktu untuk membuatnya kembali pulih. Kalian tunggu saja, ya!"
Penuturan itu membuat semua orang di sana bisa bernapas sedikit lega. Setidaknya ibu dan anak dalam keadaan selamat. Namun, posisi Jojo masih saja bergeming di tempat.
Bug!
Satu pukulan keras mendarat di bahu Jojo. Membuat lelaki itu seketika tersadar dari kebingungannya, lalu mendelikkan mata pada orang yang memberikan pukulan tersebut.
"Sakit!" serunya tidak terima. Tentu saja orang tersebut adalah papa tirinya, yaitu dokter Ichida.
"Kamu malah bengong. Dengar, nggak, tadi Suster bilang apa?" Dokter Ichida bertanya sedikit sewot. Bahkan ia paksakan mata sipitnya itu untuk melotot.
"Aku dengar," seru Jojo yang tidak pernah bisa akur dengan papa tirinya.
"Apa coba?"
"Sudah, sudah! Kalian selalu saja bertengkar. Ara masih belum sadar. Kita seharusnya banyak-banyak berdo'a lagi untuk dia." Teguran dari Ayura membuat kedua laki-laki itu seketika terdiam.
Dan kedatangan seorang suster yang keluar dari ruang operasi sambil menggendong seorang bayi membuat perhatian mereka jadi teralihkan.
"Apa ini bayiku?" tanya Jojo merasa bahagia. Tak luput cairan bening di pelupuk matanya ikut keluar juga. Jojo begitu terharu saat melihat hasil benih yang ia tanam kini telah melahirkan bibit unggulan.
"Iya, Tuan," jawab perawat itu sambil tersenyum senang.
"Tampan sekali cucu mami! Boleh saya gendong, Suster?" pinta Ayura.
"Silakan, tapi sebentar saja, ya! Soalnya dia harus ke ruangan bayi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Karena proses lahirannya caesar, takutnya ada efek lain di dalam tubuhnya, tapi sebelum itu siapa yang akan mengadzani bayi ini?" tutur perawat itu.
"Tentu saja aku." Jojo langsung meraih anaknya dengan hati-hati, lalu membacakan adzan dan iqamah di masing-masing telinga anaknya. Setelah itu, barulah Ayura bisa menggendong sang cucu dengan hati-hati.
...***...
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Ara bisa keluar dari ruangan operasi dan pindahkan ke ruang perawatan. Itu berarti kondisi Ara tidak ada yang perlu ditakutkan. Semuanya masih dalam batas aman.
"Terimakasih, Sayang. Kamu benar-benar hebat!" seru Jojo sambil memberikan ciuman bertubi-tubi di puncak kepala istrinya hingga ke bagian wajah wanita itu.
Ara yang masih lemah, tidak bisa berbuat apa-apa. Membiarkan saja suaminya menunjukkan rasa bahagianya.
"Habis sudah wajahmu, Ara," celetuk dokter Ichida yang merasa terganggu dengan pemandangan di hadapannya. Dan sayangnya, Jojo malah semakin sengaja. Mencium bibir istrinya berlama-lama sebelum ia mengakhiri aksinya.
"Dasar gak tahu malu!" gerutu dokter Ichida lagi sambil mencebikkan bibirnya.
"Bilang aja iri!"
"Jo .... " Jojo menahan kata-katanya setelah mendapat teguran dari Ayura. Entah kenapa papa tirinya itu selalu saja membuat gara-gara.
****
Next.... Satu episode lagi ya gengs..