My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
SAKIT KEPALA



Senja di sore hari menampakan cahaya langit yang berwarna jingga kemerahan. Seorang gadis bermata coklat sedang duduk termenung di atas balkon kamarnya, memikirkan nasibnya yang entah akan di bawa kemana oleh derasnya jalan kehidupan yang kini dia lalui. Dia adalah Ara, gadis cantik yang rela mengorbankan masa gadisnya untuk menikahi seorang lelaki asing di hidupnya. Mungkin orang bilang dia sudah gila, karena laki - laki yang dia nikahi mempunyai keterbelakangan mental.


Sekilas raut wajah laki -laki yang kini menjadi suaminya tersebut terlintas di benaknya, senyuman manis yang di lontarkan saat dirinya bangun dari tidur setelah melakukan terapi keduanya membuat hati Ara menjadi tidak nyaman, ada sesuatu yang menganjal, senyuman itu berbeda dari biasanya.


Ya, Jojo kini telah memasuki fase ke dua nya. Terapi tahap kedua yang di lakukan pagi itu berjalan dengan baik dan bisa di katakan berhasil. Saat kemarin dokter Ichida melakukan pemeriksaan pada Jojo, dokter Ichida memutuskan untuk melakukan terapinya esok harinya yakni hari ini, lebih tepatnya pagi tadi, perkembangan Jojo sudah bagus dan waktunya juga sangat tepat karena jarak dari terapi pertama sudah masuk satu bulan berlalu. Jojo kini sudah memasuki tahap kedewasaan, dan di fase ini tugas yang paling berat untuk Ara. Dia harus menyerahkan keperawanannya pada laki - laki yang mungkin tidak mencintainya.


Lalu bagaimana dengan perasaan Ara sendiri ? apakah dia mencintai suaminya ? ataukah perasaannya hanyalah sekadar rasa iba semata. Yang Ara tahu hatinya sangat nyaman jika dirinya sedang berdekatan dengan lelaki itu, ada rasa rindu saat mereka terpisah walau sekejap saja. Jika itu adalah cinta, mungkin Ara tak pernah menyadarinya.


" Ah... kepalaku pusing sekali jika memikirkan semua ini ! Apalagi saat ingat kata - kata dokter mesum itu . " Ara mengusap wajahnya gusar.


Antara mengingatkan atau menggoda Ara dokter Ichida berkata Kamu pasti senang kan Ara, Jo sudah bisa melewati fase ini, dia akan menjadi suamimu seutuhnya. hehehe... Kamu tenang saja, Jo tidak akan langsung menerkam mu malam ini, dia juga butuh proses untuk menumbuhkan hasrat dalam dirinya. Tentu saja kamu juga bisa memancingnya untuk muncul.


" Ish, yang benar saja masa aku harus memancingnya duluan. " Decak Ara pelan, tanpa sadar seseorang berdiri di belakangnya sedang bersandar di pintu balkon mendengarkan ocehan Ara dari tadi.


" Apa yang mau kamu pancing ? " suara bariton yang sangat di kenal Ara terdengar dari arah belakangnya. Ara tersentak di tempatnya, dia memutar kepalanya dengan perlahan dan benar saja Ara mendapati suaminya sedang berdiri ambang pintu.


" Jo..Jojo, sejak kapan kamu di situ ? " Ara berkata dengan sangat gugup, sambil menunjukkan senyum kikuk di bibirnya.


" Sejak kamu menggerutu tidak jelas . " Jawab Jojo dengan wajah datar.


" Ehehehe, kamu mendengar semuanya ? " Ara tersenyum cengengesan , menatap sang suami yang berjalan mendekat ke arah nya dan duduk di kursi kosong di samping Ara.


" Tidak semua . " jawab Jojo sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, dan menatap ke arah langit yang mulai meredup.


" Kamu sudah makan ? " Tanya Ara basa - basi. Kini posisi nya mengadap sang suami.


" Belum . " Jawab Jojo singkat, tanpa menoleh ke arah Ara, dia memang baru bangun tidur karena kelelahan selepas melakukan terapi keduanya.


" Mau aku ambilin ? " Ara hendak beranjak berdiri , tapi tiba - tiba tangannya di cekal oleh Jojo, hingga dirinya tertahan sambil menatap lengan kekar yang melingkar di pergelangan tangannya.


" Tidak usah, temani aku di sini ! " Seru Jojo membuat Ara kembali duduk di kursi nya tadi.


" Kamu kenapa ? " Tanya Ara, heran dengan sikap Jojo seperti itu. " Kamu sakit Jo ? " tanya Ara lagi, kini dia berani menyentuh kening Jojo dengan telapak tangannya.


Jojo menoleh, menatap wajah Ara dengan tatapan datar. Ara menarik tangannya dari kening Jojo dengan perlahan karena melihat reaksi Jojo yang sepertinya tidak menyukainya. " Maaf . " Ucapnya pelan.


Jojo tetap menatap wajah Ara kini dengan tatapan lebih tajam, Ara semakin salah tingkah di buatnya. Perubahan sikap Jojo terlalu cepat sehingga dia tidak bisa menyesuaikan dirinya untuk mengartikan perubahan sikap Jojo tersebut.


" Kamu kenapa ? kenapa menatapku seperti itu ? " Tanya Ara dengan hati - hati.


" Apa benar kamu itu istriku ? " pertanyaan Jojo membuat Ara mengernyitkan dahi nya. Apakah Jojo sudah tidak mengenalnya lagi ?pikiran - pikiran buruk mulai menyeruak di otaknya kini.


" Kenapa bertanya seperti itu ? aku memang istrimu, kita sudah menikah secara sah. Apa kamu tidak mengingatku Jojo ? " Ara kembali bertanya, mengeluarkan semua pikiran buruk yang memenuhi pikirannya sekarang. Berharap semua itu tidak terjadi.


" Aku ingat kamu ." jawaban Jojo membuat hati Ara sedikit lega.


" Tapi memori ingatanku tentangmu sangat sedikit. Aku bahkan lupa sejak kapan kita bertemu lalu memutuskan untuk menikah. " Imbuh Jojo dengan tatapan bingung.


Ara menelan ludahnya dengan berat, wajahnya kembali pucat. Dia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Demi apapun Ara ingin sekali menyudahi permainan ini. Mungkin Jojo sudah di katakan sembuh, kata dokter Ichida hanya tinggal 30% lagi untuk benar - benar mengembalikan Jojo pada dirinya yang sebenarnya. Tapi di titik ini Ara sudah merasa kesulitan. Dia tak menyangka prosesnya akan seperti ini. Ara sangat bingung bagaimana caranya bersikap dengan Jojo sekarang ini, di setiap kenaikan fasenya sikap Jojo berubah sangat drastis sungguh di luar perkiraan Ara.


" Mungkin itu karena ingatanmu belum pulih semua . " Ara mencoba menyakinkan Jojo dengan sikapnya yang tenang.


" Lebih baik kamu mandi dulu ! aku akan menyiapkan makanan untukmu. " Imbuh Ara lagi, sambil melepas genggaman tangan Jojo yang masih melingkar di tangan Ara.


Ara beranjak berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Jojo yang masih bingung dengan pikirannya sendiri. Jojo merasakan sedikit nyeri di bagian kepalanya, dia memejamkan matanya sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Semakin dia mengingat masa lalunya, semakin terasa sakit di kepalanya itu.


***


" Yuri, berapa usiamu ? " Tanya Ara sambil memperhatikan tangan terampil Yuri memotong sayuran dengan sangat ahli.


" 16 tahun non. " Jawab Yuri dengan sopan.


Ara melongo, seorang gadis berusia 16 tahun dengan keahlian memasak seperti seorang chef membuatnya terpukau. Bahkan di usia itu dirinya masih bermanja - manja dengan almarhumah ibunya dulu.


" Astaga, umur segini kamu sudah pintar sekali memasak. Aku bahkan baru belajar di usia ku sekarang. " Seru Ara tampak tak percaya dengan kenyataan jika dia kalah dengan seorang bocah ingusan


Bi Darmi tersenyum geli mendengar celoteh nyonya mudanya tersebut. " Dia sudah terlatih sejak kecil non, makanya bibi merekomendasikan dia masak di sini buat gantiin si Inem. Walau umurnya masih di bawah umur, dia sangat terampil dalam mengolah makanan. " Sahut bi Darmi yang ikut nimbrung dalam obrolan mereka.


" Apa tidak akan jadi masalah bi, mempekerjakan anak di bawah umur ? " tanya Ara dengan polosnya. Mendengar itu bi Darmi malah tertawa, membuat Ara mengernyit keheranan. Memangnya ada yang salah dengan pertanyaannya itu.


" Non tenang aja, dia sendiri kok yang mau bekerja di sini. Kata teman bibi ibunya sering sakit - sakitan dan dia juga sering menggantikan ibunya untuk bekerja di sebuah catering kecil di dekat rumahnya. Makanya dia pinter masak. " Tutur Bi Darmi


Ara mengangguk sambil ber oh tanpa suara.


" Kamu tidak sekolah ? " Tanya Ara lagi pada Yuri yang sudah mulai menumis masakannya.


" Tidak non. Gak ada biaya. " Jawab Yuri sambil tersenyum pelik, tangannya tetap sibuk mengaduk - aduk masakannya di atas wajan.


Ara mengelus dada, ternyata nasibnya lebih beruntung dari pada gadis kecil di hadapannya itu. Tapi dirinya sangat tidak tahu diri yang menganggap dirinya lah yang paling terdzolimi.


Belum sempat Ara menanggapi ucapan gadis itu, kedatangan suaminya ke dapur membuat perhatiannya tersita ke arah suaminya tersebut.


" Jojo, ngapain kesini ? " tanya Ara sambil melangkah mendekati suaminya tersebut.


Jojo berjalan mendekati kulkas dan membukanya. " Aku haus. " Jawabnya sambil mengambil sebotol air minum dan menuangkan airnya ke dalam gelas yang ada di meja samping kulkas.


Ara mengikuti langkah suaminya berjalan menuju meja makan. Jojo menarik kursi kosong dan duduk di sana. Dia menenggak air di gelas itu hingga tandas tak bersisa, lalu menyimpan gelasnya di atas meja.


" Kamu mau makan di sini apa di kamar saja ?" Tanya Ara sambil menepuk pundak Jojo.


Jojo menoleh. " Di kamar saja, kepalaku sedikit pusing. " Jawabnya kemudian.


" Ya sudah, tunggulah di kamar ! Aku akan menyiapkannya sebentar lagi. " Jojo mengangguk mendorong kursi dan beranjak pergi dari sana. Ara menatap punggung Jojo yang berjalan meninggalkannya.


" Jo mau kemana ? " Pertanyaan mommy Ayura dari arah belakang Ara membuatnya menoleh cepat.


" Mommy sudah pulang ? " Tanya Ara saat melihat mertuanya datang. Dia mengabaikan pertanyaan mommy mertuanya tadi.


Ayura tersenyum lalu duduk di kursi tempat makan. " Iya sayang, suami mu mau kemana ? memangnya dia sudah makan ?" Ayura mengulangi pertanyaannya.


" Katanya mau makan di kamar saja mom, kepalanya sedikit sakit. " Jawab Ara


Ayura terdiam, selama ini Jojo tidak pernah mengeluh sakit kepala bahkan setelah terapi pertamanya berhasil. " Kenapa dia sakit kepala ? apa terapi keduanya punya efek samping ? " Ayura mulai merasa khawatir dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada anak sulungnya itu.


" Ara juga tidak tahu Mom, lebih baik kita tanyakan pada dokter Ichida saja. Dia pasti tahu kenapa Jojo seperti itu. " Ara mencoba memberi saran. Ayura mengangguk pelan, raut kecemasan tercetak jelas di wajah cantiknya itu. Setelah makan dia akan menghubungi sahabatnya untuk menanyakan hal tersebut.


***


Happy reading 😉😉


Dukung terus author ya, like , comment dan Vote pake poin. semangat terus walau tetap di tetap di rumah aja. 😊😊