
Jojo menyentuh pipi Ara dengan lembut, dia pun merasakan hawa panas menjalar di seluruh tubuhnya, matanya tertuju pada bibir ranum yang selalu menampakkan senyum. Tangannya semakin menjelajah ke bawah, hingga tak terasa Jojo telah meraih tengkuk leher Ara.
Ara sedikit terhenyak, tapi dia tetap diam saja, sepertinya Ara sudah merindukan sentuhan itu dari suaminya. Ah, sejak kapan Ara menjadi wanita yang pasrah saat diraba, padahal dulu dia sangat takut walau hanya melihat suaminya bertelanjang dada.
Ara mungkin sudah merasakan cinta, karena semakin lama rasa itu akhirnya muncul juga, tapi tidak dengan Jojo, otaknya yang kini baru menginjak usia remaja dan menuju ke titik dewasa. Mungkin dia belum mengenal apa itu cinta, karena dulu Jojo anti wanita, tapi entah kenapa dengan Ara tidak, hormon kedewasaannya selalu meronta saat dia melihat Ara, apalagi wanita cantik itu selalu ada di sampingnya dan telah menjadi istrinya.
Jojo menelan ludahnya berkali-kali, rasanya ingin sekali dia mengecap bibir yang hanya berjarak beberapa senti. Tapi hasratnya itu tak sejalan dengan otaknya yang sekarang . Jojo takut jika Ara akan meradang jika dirinya lancang. Percaya atau tidak, dalam kehidupan nyatanya Jojo tidak pernah melakukan yang namanya berciuman apalagi berhubungan badan. Rasa bencinya terhadap perempuan, karena pengaruh dari masa kecilnya yang tertekan, membuatnya alpa bagaimana memperlakukan wanita di atas ranjang.
"Maaf." Kata itu sontak membuat Ara membuka mata, Jojo menarik tangannya yang tadi menempel di leher Ara. Dengan tatapan heran Ara mendongak menatap wajah suaminya, ada apa dengannya? Apakah dia tak sudi menyentuh istrinya sendiri.
Tak ada reaksi dari laki-laki itu, dia malah berbalik badan dan meninggalkan Ara yang masih dalam kebingungan.
Apa dia tidak normal? pikir Ara dalam hati.
Ara menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Segera menepis prasangka buruknya tentang Jojo. "Tidak ... tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu, tapiβ." Gumaman Ara tertahan saat dirinya ingat jika dia tidak bisa membuktikan, Jojo selama ini belum pernah memperlihatkan sisi kejantanannya pada Ara. Membuat Ara ragu jika suaminya benar-benar tidak normal.
Membayangkannya saja Ara sudah ngeri, apalagi jika itu pria itu benar tidak asli. Oh... tidak ! lebih baik Ara kabur saja dari sini.
Jojo keluar dari dalam kamar, saat berada di luar pintu kamar, dia mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, dan menenangkan jantungnya yang berdebar kencang sekali. Menahan nafsu apakah sesulit itu? Sambil memegang dadanya Jojo menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamar.
"Astaga kenapa aku ini, Ara itu istriku, tentu saja aku boleh menciumnya. Tapi kenapa aku malah kabur seperti ini. Bodoh sekali!" gumam Jojo pelan, sambil memukul pelan kepalanya sendiri.
"Kak Jo, lagi ngapain?" Pertanyaan Angel membuat Jojo terlonjak di tempatnya.
"Kamu mengagetkan saja!" seru Jojo dengan kesal. Angel mengernyit menatap kakaknya dengan tatapan aneh.
"Aku hanya bertanya, kak Jo ngapain berdiri di depan pintu kamar sendiri? Kak Ara melarangmu masuk?" tanya Angel lagi, merasa heran dan dengan suara sedikit keras.
Jojo berdecak, lalu menutup mulut adiknya dengan telapak tangan. "Sssst ... jangan keras-keras ngomongnya!" bisik Jojo dengan penekanan.
Angel meronta minta di lepaskan, dan Jojo pun melepaskannya. "Sakit tahu kak, ada apa sih?" Angel semakin bingung, kini dia bertanya dengan suara sedikit pelan.
"Bukan urusanmu, cepat sana pergi!" usir Jojo dengan nada ketus. Angel mendengus kesal, menghentakkan sebelah kakinya tanda dirinya tak terima, lalu pergi sambil meremas tangannya dengan gemas di depan kakaknya. Jojo memalingkan wajahnya, seakan tak peduli dengan kemarahan adiknya.
"Aku mau bilang Mommy," gerutu Angel seraya pergi menuju kamarnya yang tak jauh dari kamar Jojo.
Jojo tak peduli, sambil mencebikkan bibir dirinya memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamar, tapi berbarengan dengan Ara yang juga ingin keluar. Tubuh mereka tertahan di ambang pintu dan hampir saja bertabrakan.
"Mau kemana?" tanya Jojo lebih dulu.
Ara mengangkat sebelah alisnya, kenapa Jojo yang bertanya, bukankah dia yang tadi pergi tanpa kata. Sekarang tiba-tiba berada di depan pintu membuat Ara terkejut dan sedikit tersentak karena hampir menubruk tubuh Jojo.
Jojo kelabakan, seperti senjata makan tuan. Pertanyaannya sendiri membuatnya malu setengah mati.
"Aku ... aku ada yang ketinggalan di dalam, aku mau mengambilnya," jawab Jojo dengan gugup. Jojo pun masuk ke dalam kamar dan pura-pura mencari sesuatu. Ara merasa kasihan, dia pun kembali masuk ke dalam kamar dan menawarkan bantuan.
"Mau aku bantu cari? Kamu mau ambil apa?" tanya Ara sedikit canggung. Jojo tersenyum tipis, lagi-lagi dia harus gugup menghadapi Ara.
"Tidak usah, pergilah!" usir Jojo tanpa menatap wajah Ara.
Ara tidak menanggapi perintah suaminya itu, dia tetap berdiri disana dan memperhatikan gerakan Jojo yang mondar mandir tanpa tujuan.
"Sebenarnya kamu mau cari apa?" Ara kembali bertanya. Jojo berdecak, wanita itu kenapa masih berada di sana, dia hanya ingin menenangkan hatinya saja, tetapi Ara malah terus bertanya.
Jojo akhirnya menyerah, dia menghampiri Ara yang masih berdiri setia menunggu jawabannya. "Aku tuh lagi cari cara bagaimana minta izin buat nyium kamu, biar kamu gak marah."
"Hah?" Rona merah langsung terpancar di wajah Ara. Apa Ara tidak salah dengar? Minta izin? Jojo 'kan suaminya harusnya tidak perlu izin, langsung sosor saja juga tidak akan ada yang melarang. Walaupun Ara akan malu, dia juga tidak akan marah. Apa Jojo sepolos itu?
Seharusnya dalam fase ketiganya ini, Jojo sedang berada di masa dirinya sedang mencari cinta sejati. Bergonta-ganti pasangan bukan hal yang aneh dalam mengejar misinya itu, dan berciuman mungkin akan setiap hari dia dapatkan. Ada yang aneh, mungkin Jojo belum pernah pacaran. Dan kenyataannya memang demikian. Jojo memang tak punya pengalaman. Dulu Jojo selalu benci berdekatan dengan perempuan, dia akan mengusir setiap perempuan yang mencoba mendekatinya, apalagi yang ingin menjadi pacarnya. Jangan harap!
Bahkan dulu dirinya sempat mendapat julukan 'homo' dari teman-teman sekolahnya. Jojo tidak peduli yang penting hidupnya akan baik-baik saja tanpa adanya perempuan di sampingnya.
Ara menelan ludahnya dengan susah payah, tak berani menatap kedua bola mata Jojo yang menatapnya dengan tatapan penuh harap, dia mengedarkan pandangannya ke arah lain.
"Itu ... kenapa mesti izin? Aku tidak akan marah, kok," jawab Ara malu-malu, wajahnya juga tersipu. Jawaban Ara seperti angin segar yang berembus di pantai, begitu menenangkan dan membuat Jojo tersenyum menyeringai.
Setelah mendapat persetujuan, Jojo kembali menyentuh wajah Ara, jantung Ara seakan bergenderang lebih hebat, sambil tersenyum kaku, dia menatap wajah suaminya itu. Jojo juga demikian ini merupakan hal pertama baginya. Dia bergerak sedikit gemetar menenangkan jantungnya yang berdetak tak karuan.
"Bagaimana memulainya?" batin Jojo kebingungan.
Jojo sejenak memejamkan mata, memupuk kembali keberanian dalam dirinya. Sampai tangannya sudah berada di tengkuk leher Ara. Jojo memajukan wajahnya hendak menyatukan bibir mereka. Saat bibir mereka hampir menyatu, jeritan seseorang membuat mereka terlonjak kaget.
"Pintunya ditutup, kek!" Suara Angel memekik dari luar kamar, lalu pergi begitu saja meninggalkan dua sejoli yang terlihat kaku karena kepergok bercumbu. Wajah Ara sudah terlihat memerah, dia malu terciduk oleh adik iparnya. Tapi tidak dengan Jojo, dia sangat kesal usahanya di gagalkan, susah payah mendapatkan moment yang di inginkan, kini hancur karena Jojo lengah dari sisi keamanan.
"ANGELINA ... menggangu saja, kamu!" geram Jojo sambil menutup pintu dengan keras.
***
Di tahan dulu ya bermesraan nya. Authornya lagi puasa, nanti aja kalau up nya malam. Hehehe... sama aja dong yah πππ.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan, jangan lupa like, comment ,share dan vote nya ya...maaciw...