My Lovely Idiot Husband

My Lovely Idiot Husband
TIDAK TEGA



"Ih.... Apaan sih?" Ara merasa risih saat Jo terus menerus mengecupi puncak kepalanya dan bagian wajahnya yang lain. Ia menarik mundur tubuhnya menjauhi suaminya. Beranjak duduk sambil membalutkan selimut.


"Apa kamu lapar. Perutmu terdengar keroncongan?" Ara mengulangi pertanyaannya tadi.


Jo kembali mengulas senyum. Sepertinya istrinya tidak lagi marah kepadanya. "Kamu sudah tidak marah kan?" Tanyanya sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Lalu mengelus-elus pipi Ara dan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.


Ara tersentak, bagaimana bisa ia lupa dengan kemarahannya? Ah, strategi Jo benar-benar membuatnya kalah.


Raut wajah Ara berubah datar, ia akan melanjutkan kembali kemarahannya. "Kata siapa? Aku masih marah." Serunya sambil mengalihkan pandangan.


Jo mencebikkan bibirnya, ia nyaris tertawa melihat perubahan sikap istrinya yang tiba-tiba. Ara memang bukan orang yang pandai bersandiwara.


"Apa aku perlu mengulanginya lagi? Biar kau tidak marah lagi, dan melupakan kesalahanku yang tadi." Jo sedikit mencondongkan kepalanya ke arah Ara. Membuat wanita itu sontak memundurkan kepalanya.


"Jangan macam-macam ya! Tadi itu kamu yang maksa. Jadi aku cuma pasrah saja."


Tawa Jo akhirnya pecah juga, mendengar pernyataan istrinya yang seolah tidak menerima perlakuan tidak senonoh dari suaminya. Padahal itu adalah kewajibannya dan hebatnya wanita itu begitu menikmati.


"Ada yang lucu?" Tentu saja Ara tidak terima. Suaminya malah tertawa, membuat Ara semakin kesal saja.


Tangan Jo menangkup kedua pipi Ara. Lalu di tempelkan dengan wajahnya. Hingga hidung mancung dan kening mereka saling beradu tanpa jarak sedikit pun.


"Kamu lucu banget sih. Apa wanita hamil se menggemaskan ini?" Seru Jo yang membuat hati Ara mencelos lagi. Astaga.... Ara hampir menyerahkan tubuhnya lagi.


Sebelum itu terjadi, Ara mendorong tubuh suaminya untuk sedikit menjauh. Lalu memalingkan wajahnya yang terasa panas karena malu.


"Mau mandi apa makan dulu?" Tanya Ara mengalihkan pembicaraan. Pasalnya waktu menunjukkan hampir malam. Jo yang baru pulang bekerja belum melakukan apa-apa selain melakukan pertempuran dengan istrinya.


"Mandi dulu aja, badanku lengket semua. Keringat ku sehabis pulang kerja dan di tambah pertempuran kita sepertinya keluar semua." Tutur Jo, senyuman seringai ia sematkan untuk untuk menggoda istrinya lagi.


Tapi justru membuat Ara beringsut mundur. "Jorok ih.... Bisa-bisanya kamu nyentuh aku sebelum mandi dulu." Ucapnya seolah jijik dengan sesuatu.


Jo mengangkat kedua alisnya. "Tapi kamu tadi tidak menolak, berarti aku tidak bau. Ini urgent sayang. Kalau aku mandi dulu nanti kamunya keburu kabur." Seloroh nya memberikan alasan yang tidak masuk di akal.


Ara mendengus kesal. Bisa-bisanya Jo melakukan trik licik seperti itu. Walaupun pada akhirnya trik itu memang berhasil meruntuhkan pertahanan Ara. Dia bahkan lupa jika dirinya sedang marah saat terbangun dari mimpi indahnya.


"Ya sudah sana mandi! Aku siapkan makanannya dulu." Ara sudah tidak bisa lagi berpura-pura. Walaupun masih kesal tapi Jo benar-benar menyesal. Dan wanita itu sudah pasti memaafkan.


Jo menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Ara memunguti pakaiannya yang tercecer untuk ia pakai sebelum menyiapkan makanan untuk suaminya. Setelah itu barulah ia pergi kedapur untuk mengambil makanan.


***


Setelah membersihkan diri, Ara menemani sang suami untuk makan malam. Mereka makan hanya berdua saja. Karena sang mami mendapat ajakan makan malam di luar oleh sahabat sekaligus penggemarnya. Siapa lagi kalau bukan dokter Ichida.


Sepertinya perkembangan hubungan mereka semakin serius saja. Itu karena anak semata wayangnya sudah memberikan restu untuk keduanya.


"Aku mau bicara." Seru Ara setelah menyimpan sendok dan garpunya di atas piring yang sudah ia habiskan makanannya. Ia menopang dagu sambil menatap sang suami yang masih makan dengan lahap.


"Itu sudah bicara." Kelakar Jo yang membuat istrinya memutar bola matanya dengan malas.


"Aku serius Jojo."


Jo menghentikan aktivitas makannya, panggilan Ara yang menyentak telinganya membuat makanan yang ia telan seakan tercekat di tenggorokan. Dan hal itu mengharuskannya untuk meminum segelas air untuk melancarkan tenggorokannya.


"Aku mau pindah." Kalimat yang Ara lontarkan selanjutnya membuat Jo membelalakkan mata. Sungguh itu adalah kalimat tidak ingin ia dengar dari mulut istrinya.


Jo melemaskan bahunya, sebegitu nya kah Ara membenci dirinya. Hingga ia ingin pergi dari hidupnya bahkan kini panggilannya pun tidak seperti biasanya. Kembali pada sosok Ara sebelum calon anaknya hadir di tengah mereka.


"Apa kau benar-benar tidak bisa memaafkanku? Bahkan panggilanmu kepadaku juga berubah seperti dulu." Jo menghela nafasnya sejenak sebelum ia melanjutkan kembali ucapannya.


"Kalau memang kau lebih bahagia untuk pergi. Aku akan mengizinkan tapi setidaknya tunggu sampai kamu lahiran. Aku ingin menemanimu melewati masa kehamilan dan menyaksikan dia lahir dengan selamat. Aku mohon Ara. Bisa kan sedikit lagi kamu bersabar menghadapi sikapku ini?" Jo berucap dengan panjang lebar.


Ara mengernyitkan kening mendengar penuturan suaminya yang terdengar sedih. Sungguh bukan itu yang Ara maksud. Jo berpikir terlalu jauh.


"Bee.... Bukan itu maksudku." Seru Ara ingin menjelaskan.


Seulas senyuman kembali terpancar saat Ara memanggilnya dengan panggilan sayang. Tapi mengingat keinginan istrinya barusan membuat senyum itu perlahan memudar.


"Tapi kamu bilang mau pindah. Itu artinya kamu mau pergi ninggalin aku." Seru Jo sambil mengerucutkan bibirnya.


Ara malah tertawa, ternyata suaminya sedangkal itu pemikirannya. "Aku mau pindah bersamamu. Tinggal di rumah peninggalan papa. Disana banyak kenangannya, dan aku ingin sekali melahirkan disana." Serunya menjelaskan.


Jo terperangah, kedua matanya terbuka lebar dengan mulutnya yang terbuka secelah. "Kamu yakin?" Tanyanya kemudian.


Ara mengangguk pasti, ia begitu bersemangat sekali. "Iya, boleh ya?" Pintanya sedikit memaksa.


Jo menarik kedua sudut bibirnya, hingga sebuah senyuman mengembang disana. Tapi sesaat kemudian senyuman itu kembali surut saat ia mengingat sesuatu. "Kalau kita pergi dari rumah ini. Bagaimana dengan mami?"


Pertanyaan itu membuat Ara seketika diam. Bagaimana mungkin ia bisa lupa dengan kehadiran mami mertuanya. Wanita paruh baya yang sudah melahirkan suaminya itu sudah di tinggalkan Angelina. Apa Ara tega memisahkan seorang ibu dan anak satu-satunya. Hal itu membuat Ara jadi dilema.


"Kalian tidak perlu khawatir. Mami kalian biar aku yang menemani." Kalimat itu terlontar dari seorang laki-laki yang datang dari arah belakang. Dan berhasil mendapat tabokan lengan dari wanita di sebelahnya. Dialah mami Ayura dan dokter Ichida.


"Kalian mau pindah?" Tanya mami Ayura sambil menatap anak dan menantunya secara bergantian.


Dan kedatangan mereka yang tiba-tiba membuat Jo dan istrinya tercengang. Hingga mulut mereka sulit sekali untuk menjawab pertanyaan.


"Mami kenapa pulang lagi? Makan malamnya gak jadi?" Pertanyaan itu yang malah keluar dari mulut Ara. Sungguh ia tidak tahu harus mengatakan apa. Kalau untuk meninggalkan mertuanya ia juga tidak akan tega.


Ayura melirik lelaki paruh baya di sebelahnya lalu menarik salah satu kursi kosong di samping anaknya. "Ichi benar-benar payah, masa iya mobilnya mogok di tengah jalan sebelum sampai ke restoran. Membuat hilang nafsu makan. Lebih baik pulang daripada harus melanjutkan." Seru Ayura sambil mendengus kesal.


"Kalian tahu, mami harus menunggu satu jam untuk menunggu taxi online yang datang. Karena kami berada di tengah jalan tol saat mobilnya mogok. Untung saja jalanannya tidak terlalu ramai kan bahaya, tiba-tiba mobil mati di tengah jalan raya." Mami Ayura menyambung ceritanya. Lalu minum air dalam gelas yang disodorkan oleh Ara. Wanita itu tahu jika mertuanya sepertinya sangat lelah.


Cerita itu nyaris membuat sepasang suami-istri yang sedang mendengarkan itu hampir tertawa. Kalau tidak menghargai kekesalan sang mami. Tentu saja tawa itu akan pecah saat ini.


Jo melirik ke arah dokter Ichida yang masih berdiri di belakang maminya. Sambil mengangkat kedua alisnya, Jo melontarkan senyuman meledek padanya. Dan hal itu membuat dokter Ichida mengacungkan kepalan tangannya pada calon anak tirinya.


***


Amih sebenarnya pengen fokus sama novel baru. Tapi bikin novel baru itu butuh perjuangan baru lagi. Syukur-syukur kalian yang suka novel ini bisa beralih kesana. Kalau enggak ituu artinya amih harus berjuang dari nol lagi kan.


Kalau suka karya-karya amih, bisa klik tombol mengikuti ya. Biar tahu karya amih yang lainnya. Dan juga jangan lupa follow igeh amih @amih_amy. Barangkali ada info disana. 😁😁


Eh.... Like, coment dan votenya jangan pura-pura lupa ya! 😅😅 makasih.